
Halo readers, ini adalah episode terakhir. Hampir ding. Masih ada 1 extra part potongan-potongan adegan random yang waktunya berbeda-beda ya (lompat-lompat).
Here we go ....
***
Wanita yang beberapa bulan lalu mengalami koma itu menghela napas dalam-dalam. Ada rasa kecewa meski tak banyak. Ada rasa bahagia juga karena Raihan sepertinya adalah sosok ayah yang baik.
Sementara itu, Raihan sendiri sedang memeriksa kelengkapan berkas pendaftaran Nadila yang akan dia 'selipkan' agar bisa masuk pada gelombang 1. Dia mengernyit melihat tanda tangan wali yang ditandatangani Madya, bukan ayah Nadila.
Bagi Raihan, itu tak jadi soal. Meski sedikit tergelitik, dia menahan rasa penasarannya karena profesionalitas bekerja dan privasi murid beserta keluarganya.
"Ehm, Pak Raihan dulu jadi kuliah di Stanford atau Columbia? Atau di Oxford kayak keinginan orang tua?"
Raihan terkejut dengan pertanyaan Madya. Tak hanya dia, sesungguhnya sang penanya pun terkejut. Entah mengapa dia meluncurkan memori dunia komanya.
Madya hanya ingin mengobrol sedikit lebih lama dengan Raihan karena dia tahu takkan bisa mendapatkan cinta lelaki di hadapannya. Dia juga sudah menyiapkan jawaban bila nanti Raihan mengomentarinya aneh atau absurd.
Raihan siap menggerakkan bibirnya. Madya siap dengan jawabannya.
"Saya kuliah di Monash."
Kok dia bisa tahu aku pengen kuliah di Stanford atau Columbia? Interesting. (Raihan).
Madya melotot dengan jawaban Raihan. Segala jawaban yang disiapkan tidak terpakai. Apakah hanya kebetulan hal ini dengan kenyataan? Madya akan mengetesnya lebih jauh.
"Oh, Monash ya? Nyusul kakak?"
__ADS_1
"Ehm, kok tahu lagi kalau kakak saya kuliah di Monash?"
Madya gembira kali ini. Apakah ini kebetulan ke sekian kalinya? Raihan sepertinya tak menolak ketika ditanya tentang hal-hal itu. Dia justru menjadi semakin tertarik.
Dia ngomongin hal privasiku itu berarti dia juga siap ditanya tentang privasi dia, 'kan? (Raihan).
"Kalau boleh tahu, kenapa yang tanda tangan ibu Nadila?"
"Kami udah nggak serumah. Saya single parent."
Raihan mengangguk. Jika penasaran mengapa Nadila tak bersuara, dia tertidur. Sangat sulit untuk anak berumur 5 tahun untuk bertahan dengan mata terbuka jika tidak aktif melakukan sesuatu.
Suara ibunya dan sang kepala sekolah bagaikan suara pendongeng yang membuatnya kian mengantuk.
Oke, paling enggak aku udah usaha dan ngomong semua yang aku bisa. Dan aku nggak apa-apa kalau nggak punya kesempatan deket sama dia sebagai pasangan, gimana pun dia udah nikah. Aku nggak mau jadi 'Aryati jilid 2'. (Madya).
Madya berterima kasih kemudian membangunkan Nadila dengan lembut. Namun, sebelum berhasil membangunkan putri semata wayangnya, Raihan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
Madya mengangguk.
"Boleh aku ngajak kamu minum teh atau kopi?" Raihan menangkap keterkejutan di wajah Madya. "Nggak sekarang kok, suatu saat aja."
Hah?! Nggak ada bedanya dia sama Usman. Jelas-jelas dia punya istri cantik sama anak yang seumuran Nadila. (Madya).
"Aku ... maaf, aku nggak bisa. Aku punya banyak kegiatan."
Raihan tampak kecewa. Namun, Madya bahagia tidak menjadi duri di pernikahan orang lain. Nadila pun bangun membuat Madya segera menggandengnya untuk keluar dari sana.
__ADS_1
Itu adalah kali pertama Madya merasa tak nyaman berada di dekat Raihan.
Di ambang pintu sebelum keluar, Madya berbalik dan berkata, "Terima kasih untuk kebaikan hatinya. Salam untuk istri dan anak," katanya sembari menunjuk foto yang berisi 3 orang tersenyum bahagia.
Raihan tersenyum getir. "Istriku udah meninggal tiga tahun yang lalu. Foto itu diambil tepat sehari sebelum dia mengalami kecelakaan. Sekarang anakku udah 8 tahun."
Madya memiringkan kepalanya, bersimpati. Ditambah, dia melewatkan kesempatan besar. Tidak, tidak, dia belum sepenuhnya kehilangan kesempatan itu. Dia adalah Madya.
Dahulu, dia adalah seorang gadis cupu yang mudah ditindas. Namun, sekarang dia adalah seorang dosen dengan kepercayaan diri tinggi.
"Ehm, tawaran yang tadi masih berlaku?"
Raihan tersenyum kemudian mengangguk.
"I'll go with you sometimes. Give me a call." [Aku aku akan pergi keluar denganmu suatu saat. Hubungi aku.]
~
Madya keluar dengan perasaan bahagia. Dia tersenyum sangat lebar sambil memandangi putrinya. Dia bersyukur dengan semuanya.
"Mama kok senyum-senyum? Emangnya aku lucu?"
"You'll welcome your new dad to be." [Kamu akan menyambut calon ayah baru].
"Apa artinya, Ma?"
"Artinya adalah pokoknya Mama seneng kamu sekolah di sini, hehe."
__ADS_1
~ TAMAT ~
πππ see you in an extra partπ€π€π€π€