Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)

Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)
IKTD. Butuh Waktu


__ADS_3

Zifana memejamkan matanya, merasakan sesak, lara, bahagia. Semuanya bercampur menjadi satu dalam benaknya.


Zifana melepaskan pelukan Delon saat dirinya sedikit membaik. Dia menghapus air matanya dan mundur beberapa saat. Keduanya saling berpandangan, meski canggung dan mendadak seperti orang asing.


"Zifana, kembalilah. Maafkan aku, kita rajut mimpi bersama. Kita rajut bahagia bersama, sampai nanti," ucap Delon sambil menahan Zifana yang akan beranjak dari tempatnya. Tidak menepis tangan Delon sebrutal tadi, tapi Zifana terkesan dingin.


"Aku," Zifana menghentikan ucapannya. Apa yang akan dia katakan? Bahkan dia sendiri belum bisa berpikir. Yang ada dalam benaknya saat ini, dimana Elia? Dimana mantan istri Delon, yang sampai saat ini belum diketahui wajahnya?


Delon tampak menunggu lanjutan jawaban Zifana, menatap Zifana dengan sorot mata teduhnya.


"Aku butuh waktu, beri aku waktu untuk memikirkan hal ini," ucap Zifana dengan tenang. Sorot mata teduhnya memandang wajah Delon yang kini tampak mengangguk anggukan kepalanya dengan berat. Dia melepas Zifana dengan pelan.


"Oke," sahut Delon.


Zifana melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 17.40 terdengar suara adzan magrib berkumandang membuat Zifana menatap ke arah Delon.


"Maaf Kak, aku harus pamit. Sudah magrib juga, aku masih ada janji dengan teman setelah magrib nanti," ucap Zifana tampak canggung sekali.


Delon tersenyum dan mengambil akses pintu ruangan owner. Dia berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.

__ADS_1


Zifana melangkah dan hampir saja keluar dari pintu. Tapi Delon menarik tangan Zifana hingga keduanya berhadapan dengan sempurna. Zifana mendongak menatap ke arah Delon.


"Hati hati, aku harap kau menungguku di bawah," ucap Delon sambil mengecup pelan puncak kepala Zifana kemudian melangkah keluar mendahului Zifana.


Zifana menatap kepergian Delon yang entah mau kemana. Apa maksud ucapan Delon? Sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan dalam benak Zifana pada Delon, tapi saat ini dia tak mampu untuk mengutarakannya. Zifana meletakan tangannya di depan dada. Dia merasakan kenyamanan yang amat sangat walau jantungnya berdetak tak beraturan.


"Ya Allah, beri aku petunjukmu," ucap Zifana kemudian berlalu.


Zifana kembali memakai masker dan keluar dari ruangan owner. Tidak mau juga karyawannya yang dulu mengenalinya untuk saat ini.


Zifana berjalan ke arah parkiran, dia bingung tak karuan saat mendapati mobilnya tidak ada. Kemana mobilnya? Bukankah dia tadi parkir disini?


Zifana merasakan sesak, ingin cepat cepat sholat magrib. Malah ada hal yang tidak diinginkan. Zifana yang tampak panik segera menuju ke pos satpam untuk mempertanyakan dimana mobilnya berada.


"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


"Pak, mobil saya hilang. Tadi saya parkir disana, bapak tau?" tanyanya.


"Nomor polisinya xxxxx?" tanya pak satpam.

__ADS_1


"Ya, benar sekali," ucap Zifana tampak lega.


"Maaf Nona, atasan kami meminta mobil derek untuk membawa mobil anda," ucap pak satpam dengan tenang.


Zifana menautkan alisnya tak percaya. Bagaimana bisa? Dia seakan tak trima, jiwa angkuhnya seakan kembali bangkit.


"Pak, saya parkir menurut prosedur yang ada. Lalu kenapa di bawa?" ucapnya tampak emosi.


"Maaf Nona, kami hanya mejalankan perintah saja," ucapnya.


Zifana tampak menggelengkan kepalanya. Keterlaluan, pikirnya.


"Siapa atasan kamu? Biarkan saya bertemu dengannya!" sentaknya.


"Beliau ada di sebelah sana," ucap pak satpam.


Zifana yang geram tampak menoleh ke arah dimana pak satpam menunjuk. Dilihatnya seorang lelaki tampan tampak bersandar di sebuah mobil mewah yang sangat dia inginkan.


Lelaki itu memainkan ponselnya, memakai kaca mata hitam, ber jas senada dengan baju yang dia kenakan. Zifana tampaknya terpesona dengan penampilan seorang Arzenio Delon wilantama.

__ADS_1


"Pak Delon meminta anda kesana, karna ingin menggantinya dengan mobil itu," ucap pak satpam yang sangat jelas di telinganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2