
"Jangan menyibukan diri kalian hanya untuk berbagi belas kasih pada manusia yang pernah membuat kesalahan pada kalian," ucap Gino dengan penuh sesal.
Delon dan Radit tampak menatap ke arah Gino yang terus saja berbicara, dia juga menatap ke arah papa mertua yang seolah abai. Sepertinya beliau menahan sakit.
"Yang aku pikirkan bukan tentang belas kasih untukmu. Jika aku menuruti ego, mungkin memang itu yang aku lakukan, menghukummu di sini sampai maut menjemputmu," ucap Delon tak kalah sinis. Gino tampak mengepalkan tangannya mendengar ucapan Delon.
"Tapi saat ini, aku tidak butuh penolakan dengan bicaramu yang seakan tidak memerlukan bantuanku. Yang terpenting kau mau melakukan perjanjian yang tertulis, maka kau akan bebas," ucap Delon lagi sambil menatap Gino dengan tatapan yang seolah mengintimidasi.
"Bukankah tidak ada untungnya buat kalian berdua?" tanya Gino seakan kembali mencari alasan yang tepat. Dia dan papanya tak punya tempat tinggal, bahkan uang sepeserpun tak memiliki. Lalu apa yang bisa dilakukan nanti diluaran sana? Tak ada alasan juga untuk menerima penawaran dari Delon dan Radit.
"Memang tak ada untung yang tampak untukku, tapi bagiku melihat istriku bahagia adalah hal terindah yang aku bisa lakukan dihidupnya, dan salah satu kebahagiaannya menurutku adalah dengan dia bisa melihat orang tua dan kakaknya telah menjadi orang yang lebih baik," ucap Delon.
Deg
Hati Gino seakan tersentil dengan ucapan Delon. Istri? Kini ingatannya tertuju pada wajah ayu wanita yang dinikahinya beberapa tahun yang lalu. Bahkan selama menikah dengan Selena tak pernah sekalipun dia membahagiakannya.
Dirinya selalu menyakiti istrinya. Dimana istrinya? Sudahkah dia melahirkan? Seperti apa anaknya? Lelaki atau perempuan? Air mata terbendung dalam pelupuk matanya. Akan tetapi untuk menjatuhkan seakan malu pada orang orang yang telah disakiti di depannya itu. Gino mengusapnya, hingga tak sampai menetes.
__ADS_1
Ingin rasanya dia keluar dari bui dan mencari keberadaan orang yang selama ini dia sakiti itu. Masihkah ada maaf dari Selena dan Zifana untuknya? Masihkah ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan melakukan hal baik bersama, setelah apa yang dilakukan pada dua wanita itu?
Kini Gino memandang ke arah Radit dan Delon.
"Bagaimana?" tanya Radit seakan memaksa Gino untuk menjawab.
Gino menghela napas panjang dan menatap ke arah papanya. Papanya mengangguk, akan tetapi apa hubungannya istri Delon dengan dia dan papanya? Bagaimana bisa kebahagiaan istri Delon terletak pada kebebasanya dan papanya? Pertanyaan itu yang kini bergelut di hati Gino.
"Jangan bergurau, aku rasa tidak ada hubungannya antara kebahagiaan istrimu dengan kebebasan kami," ucap Gino.
Delon menghela napas panjang, diambilnya undangan pernikahan dan juga ponsel yang ada di dalam sakunya. Delon membuka Galeri dan menunjukan foto pernikahan dirinya dan Zifana kala itu.
"Zifana istriku, kami menikah lima bulan yang lalu. Pernikahan kami karna sebuah keterpaksaan hingga kami belum melakukan resepsi pernikahan. Tapi saat ini kami saling mencintai, bahkan Zifana telah mengandung anakku. Dua minggu lagi adalah resepsi peenikahan kami, aku ingin Zifana tidak bersedih dan merasa sendiri seperti dulu, jadi aku harap kalian mau menanda tangani semua berkas itu, demi Zifana," ucap Delon.
Deg
Tuan Sinatria tampak terhuyung mundur, dia terkejut dan bahagia secara bersamaan. Semua tak pernah terpikir dalam benaknya. Bagaimana bisa? Tapi kenapa Zifana tak pernah menjenguknya? Apa sebenci itu Zifana padanya? Masihkah ada maaf dari Zifana setelah apa yang Tuan Sinatria lakukan pada putrinya?
__ADS_1
"Mungkin saat ini Zifana belum bisa bertemu, tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu hatinya terketuk untuk mau bertemu dengan kalian. Berulang kali aku menanyakan padanya untuk membebaskan kalian, tapi dia selalu mengatakan bahwa suatu saat nanti pasti dipertemukan, entah dia tidak enak pada penawaranku, atau alasan lain yang membuatnya seperti ini," ucap Delon panjang lebar.
"Dimana putriku?" tanya Tuan sinatria. Delon menoleh ke arah papa mertuanya yang sedari tadi diam itu.
"Tenanglah, papa mertua," ucap Delon.
"Tanda tangani, agar aku bisa segera mengurus cabutan tuntutan," ucap Radit sambil menatap Gino.
Segera Gino menandatangani berkas itu, Tuan Sinatria juga melakukan hal yang sama.
"Oke, secepatnya kalian akan keluar, tunggu saja. Karna urusan sudah kelar, kami harus segera pergi," ucap Radit sambil berdiri.
Tuan Sinatria dan Gino kembali dikawal masuk. Delon, Andreas dan Radit tampak menghela napas lega. Hingga pada saatnya satu pesan diterima oleh Delon yang berasal dari Leo.
Tuan, kau punya nomor ponsel Nona Zifana bukan? Beri aku nomor ponselnya. Aku ada perlu dengannya.
Delon mengepalkan tangannya, bagaimana bisa lelaki itu meminta nomor ponsel Zifana? Hati Delon seakan berkecamuk penuh emosi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...