Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)

Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)
IKTD. Test pack


__ADS_3

Delon mengambil sesuatu di saku celananya, memberikan sesuatu yang dibelinya dari apotik saat perjalanan pulang tadi, ketika Zifana lelap dalam tidurnya.


Zifana membelalakan mata indahnya, melihat ke arah kantong plastik yang diberikan Delon padanya. Dia terkejut, menatap ke arah Delon yang seakan mengintimidasi dirinya. Memaksanya untuk melakukan tes kehamilan dengan alat yang diberikan oleh Delon itu.


"Tunggu apa lagi?" tanya Delon.


Zifana masih berpikir dan tampak memandang uluran tangan Delon padanya. Jantungnya seakan berolah raga loncak loncat sedari melihat alat itu. Kapan Delon membelinya? Apa dia tidur terlalu nyenyak di mobil tadi?


"Kak, tapi.... "


"Biarkan aku tidur dengan tenang, kau tau Dear, aku sangat penasaran. Jangan biarkan aku mati penasaran," ucap Delon lagi.


Zifana yang berdecak kesal karna ucapan Delon tampak menghela napas dalam dalam, menerima kantong plastik yang diberikan Delon padanya. Apa hasilnya nanti? Dengan cemas Zifana menatap kantong plastik itu. Berharap hamil, tapi dia dan Delon baru saja baikan. Apa Delon benar benar akan memperlakukan dirinya sebagai istri kesayangannya?


Zifana dalam dilema, bukankah dia bertekat memaafkan Delon? Hais, dasar Nona sombong. Kenapa masih saja ragu? Gerutu Zifana merutuki dirinya sendiri.


Zifana melangkah ke kamar mandi, dengan hati yang gusar dirinya mengambil alat itu. Zifana melakukan hal sesuai dengan petunjuk kegunaan yang tertera di bungkus alat itu.


Dengan hati yang cemas Zifana menatap ke arah alat yang berbentuk panjang yang kini berdiri di sebuah wadah. Setelah beberapa saat kemudian, Zifana mengangkat alat itu.


Zifana mengelapnya dengan tisue, hatinya dag dig dug tak karuan. Apa hasilnya?


Perlahan Zifana membuang tisue ke tempatnya.


"Zifa, tolong kondisikan hatinya, tenangkan hatinya, jangan gugup," lirihnya sambil menepuk dadanya yang dag dig dug tak karuan.


Zifana membalikan test pack yang semula terbalik itu, netranya perlahan berfokus pada alat berwarna putih itu. Zifana menutup mulutnya rapat rapat saat dilihatnya dua garis merah terpampang nyata di alat itu.


Zifana mundur beberapa langkah, dirinya terhuyung kebelakang, kakinya terasa lemas. Bahkan jantungnya semakin berdetak tak karuan. Antara haru dan bahagia, bercampur dalam benaknya.


"Alhamdulillah," lirihnya.


Jadi selama ini kenapa dia ingin sekali dipeluk Delon karna ini? Ingin sekali bertemu hingga memberanikan dirinya ke Wilantama grup karna ada ikatan darah ini?


Memaksakan ZA grup untuk mengirimkan mobil adalah keinginannya? Bukan itu, bahkan itu hanya alibi kesombongannya yang seakan tidak ingin bertemu Delon. Dalam hati yang paling dalam, tidak ada keinginan yang mendesak untuk naik mobil itu. Yang menuntunya ke Wilantama grup adalah dorongan dari hatinya untuk bertemu sang suami. Masihkah dia akan membohongi dirinya sendiri?


Zifana menggelengkan kepalanya, segera wanita cantik itu membuka pintu, dia ingin segera bertemu dengan Delon.

__ADS_1


Zifana keluar dari kamar mandi, tapi tak ada Delon dikamarnya. Zifana memejamkan matanya, air matanya meleleh. Dimana suaminya? Rasa sesak bersarang di hatinya? Akankah dia kecewa? Akankah dia akan menangis dan bersedih kembali?


Zifana berjalan ke arah balkon kamar, hatinya sedikit lega saat dilihatnya Delon tampak mendapatkan panggilan telepon disana. Zifana mengusap air matanya, dia memang sering sekali menangis dan cengeng seperti ini.


Disaat yang bersamaan, Delon menutup ponselnya dan berjalan ke dalam. Keduanya berpapasan, Zifana tidak bisa menunggu lagi, Zifana melingkar tangannya di tubuh suaminya. Mencari kehangatan dalam dada bidang suaminya.


Delon mengernyitkan dahinya, tidak biasanya Zifana seperto ini. Zifa tampak bahagia begini. Apa hasil yang akan ditunjukan oleh Zifana, istrinya itu? Delon merasakan tetesan hangat membasahi kemeja yang dipakainya. Dia yakin Zifana menangis.


"Dear, apa yang membuatmu menangis? Apa aku menyakitimu?" Delon yang panik tampak mendorong tubuh Zifana dengan pelan. Menatap wajah ayu istrinya itu.


Delon mengulurkan tangannya menghapus air mata Zifana, memegang kedua pipi Zifana yang sembab karna air mata.


"Apa yang membuatmu menangis, hem?" tanya Delon.


Zifana mengambil tangan Delon yang ada di pipinya dan memberikan sesuatu disana.


"Kak, ini hasilnya," ucapnya lirih sambil meletakan alat itu di tangan Delon.


Delon menatap ke arah tes kehamilan yang tadi dibelinya itu. Delon membalikan alat yang semula tengkurap. Hatinya dag dig dug tak karuan. Ditatapnya Zifana dengan penuh tanya. Zifana seolah memintanya untuk melihatnya sendiri.


Delon menghela napas panjang dan mengarahkan pandangan matanya ke tangannya. Dengan perasaan campur aduk dia memusatkan pandangan matanya ke arah test pack itu. Senyuman indah terbit dari bibirnya.


"Alhamdulillah," ucapnya.


Delon tersenyum menatap Zifana yang tampak lega, diangakatnya tubuh mungil istrinya itu. Zifana yang terkejut spontan mengalungkan tangannya di leher lelaki tampan yang berstatus sebagai suaminya itu.


"I love you, Zifana aurora manda," ucapnya dengan mesra.


Zifana memejamkan matanya, berulang kali Delon mengucapkan kata cinta. Didengar hangat di telinganya. Sangat menyejukan hatinya. Mendebarkan jantungnya.


"Aku juga sangat mencintaimu Kak,"


Tapi, Zifana hanya mampu menjawabnya dalam hati.


"Sebaiknya kita bersuci, kemudian shalat berjamaah," ucap Delon yang tampak sedikit gundah karna Zifana masih belum juga menjawab kata cinta darinya. Tapi berulang kali juga dia mengingatkan dirinya untuk bersabar lagi dan menunjukkan cintanya pada wanita yang menjadi pelabuhan cintanya. Meyakinkan hatinya bahwa ada cinta Zifana untuknya.


Delon menurunkan Zifana di depan toilet, keduanya saling berpandangan.

__ADS_1


"Kak," ucap Zifana. Dia terdiam saat tatapan Delon mengarah padanya. Lidahnya kembali kelu, dia hanya tersenyum saja.


"Ya, ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Delon. Zifana menggelengkan kepalanya. Tapi dia berjalan mendekat dan mendaratkan kecupan singkat di pipi Delon lemudian masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya.


Delon memegang pipinya yang memerah, mungkin Zifana tidak mengatakan cintanya. Tapi dia merasakan itu.


"Aku bisa merasakan cintamu Nona," lirihnya. Netranya menatap ke arah test kehamilan yang menampakan dua garis merah itu.


Zifana merasakan jantungnya berdetak tak karuan, diusapnya perut datarnya. Dia menyandarkan dirinya di pintu.


"Saat ini aku baru bisa menunjukkan cintaku, dari pada mengucapkannya tanpa bukti, seperti apa yang kamu lakukan dulu. Aku harap kamu bisa merasakannya, sampai aku mampu untuk mengatakannya," lirih Zifana.


...🎀🎀🎀🎀🎀🎀...


Gisel mempercepat laju mobilnya, dia menghindari mobil yang sedari tadi mengikutinya.


"Siapa dia?" kesal Gisel dan kembali mempercepat laju mobilnya. Menambah kecepatan mobilnya hingga kecepatan maksimal. Tapi, tetap saja mobil itu tak menyerah dan terus saja membuntutinya.


"****," umpat Gisel.


Disaat yang bersamaan, mobil itu malah memotong langkah Gisel dan berhenti di depan mobil Gisel. Gisel mau tak mau terpaksa menghentikan mobilnya mendadak. Gisel merasa sebal, merasa geram. Saat hatinya sangat kesal tak sengaja bertemu dengan Willy tadi, lalu sekarang malah di jahili orang? Sangat menjengkelkan.


Gisel mengklakson mobilnya, berharap pemilik mobil itu mau pergi. Tapi sepertinya tidak, dia keluar dan mengetuk pintu mobil Gisel. Dan Gisel bisa dengan jelas melihat siapa yang ada di samping mobilnya.


"Kau keluar atau aku hancurkan kacanya Nona?" ucap lelaki itu dan sanggup membuat Gisel geram dan terpaksa keluar.


Keduanya berpandangan, seolah menyampaikan bahasa tubuh yang seakan saling merindukan.


Di sebrang sana, seseorang mengamati mereka dan memberikan informasi pada Tuannya.


"Jadi dimana Tuan Muda? Saya sudah rindu, dan dia mengabaikan mamanya sendiri? Apa yang dia lakukan?" kesal wanita paruh baya yang baru pulang dari negara X itu.


"Tuan Muda bersama wanita Nyonya, sepertinya wanita spesial. Karna saya yang mengikuti tuan Muda sejak tadi, dengan jelas memperhatikan jika Tuan muda mengikuti wanita itu," ucapnya.


Wanita paruh baya itu menautkan alisnya, siapa wanita itu? Putranya lama sekali tidak dekat dengan wanita. Dijodohkan juga tidak mau.


"Kau, bawa Tuan Muda dan wanita itu kasini sekarang juga," ucap wanita itu kemudian menutup ponselnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2