
Zifana, Delon, Willy dan juga Ganesa menghabiskan waktu di kafe dekat mall. Mereka bercengkrama dan saling mengakrabkan diri, hingga pada akhirnya tak ada kecanggungan lagi.
Setelah makan malam, Zifana dan Gisel asik mencari barang di mall, sedangkan Willy dan Delon tetap berada di kafe, mereka bercerita panjang lebar, hingga Delon menceritakan kejadian yang telah lalu, bagaimana dia dan Zifana bisa bertemu hingga menikah.
"Jadi di pertemuan kita pertama kali untuk bekerjasama, kau dan Zifana sudah menikah?" tanya Willy penasaran.
Delon menganggukan kepalanya, bahkan sempat dia marah melihat kebersamaan Willy dan juga Zifana saat itu.
"Ya, makanya aku memintanya untuk pulang bersamaku," jawab Delon.
Willy menganggukan kepalanya dan tersenyum senyum, ternyata seperti itu. Pantas saja Delon sangat aneh saat itu, meminta Zifana bersamanya dengan dalih kerjasama juga.
"Sepertinya kau sudah sangat mencintainya saat itu," ucap Willy.
"Mungkin, tapi sayangnya aku tidak menyadarinya saat itu," ucap Delon. Willy terkekeh.
"Zifana sebenarnya wanita yang baik sejak dulu, tapi terkadang dia terpengaruh oleh pikiran kakak dan juga papanya yang ambisius, mungkin melukai Nada adalah hal yang baginya sangat jahat, hingga pada akhirnya dia memilih untuk pergi dari papa dan kakaknya," ucap Willy.
"Mungkin, dan sayangnya untuk berubah baik tidak bisa begitu saja diterima banyak orang. Hingga dia mendapatkan hal yang tidak baik dariku," jawab Delon.
"Kau benar, banyak hal yang dilalui Zifana untuk mencapai titik ini, tidak mudah untuk berubah, bahkan lelehan tangis harus dia keluarkan untuk memperbaiki semuanya, bahkan aku sendiri sebelumnya tak percaya dengan perubahan Zifana," ucap Willy. Keduanya terdiam dalam pikiran masing masing.
"Bahagiakan adikku De, aku yakin bersamamu adalah tempat yang tepat bagi Zifana," ucap Willy.
Delon menghela napas panjang, ditatapnya Willy dengan tenang. Adik? Kali ini dia bisa percaya sepenuhnya, jika memang itu hubungan antara Zifana dan Willy.
__ADS_1
"Sudah kewajibanku untuk membahagiakannya, Zifana istriku Wil. Tak akan aku biarkan orang melukainya, menyakitinya, seujung kukupun," ucap Delon.
Willy tersenyum dan menepuk pundak Delon.
"Aku yakin kau akan melakukan itu," jawab Willy.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Delon mencoba mengalihkan pembicaraan. Membicarakan Zifana membuat sesal dalam hatinya seakan menyiksanya. Willy sedikit merubah posisinya.
"Terimakasih, karna kerjasama denganmu perusahaanku berkembang dengan pesat," ucap Willy.
Memang, tidak dipungkiri, bekerjasama dengan Wilantama grup dan juga Steve grup sangat memberikan kemajuan pada perusahaanya.
"Itu karna kerja keras Zifana juga," jawab Delon.
"Kerjasama yang baik juga dari Tuan Steve," sahut Willy.
Delon tampak memandang Willy. Steve? Bagaimana kabar lelaki itu dan juga mantan istrinya, Vely?
"Steve?" tanya Delon.
"Ya, Tuan Steve, dia pembisnis yang hebat juga, tapi sayang sekali, dia dan istrinya meninggal karna insiden kecelakaan," ucap Willy.
Delon terdiam, jadi Steve dan Vely meninggal? Inalilahi wainnailaihi rojiun, walau bagaimanapun Vely dan Steve menghianatinya, dia tak boleh bahagia atas kabar ini.
Delon hanya diam, tak ingin dia berbicara apapun tentang Vely pada Willy. Baginya Vely adalah masalalu yang harus dikubur dalam dalam.
__ADS_1
"Mungkin semuanya sudah takdir, tidak bisa manusia menghindari kematian," ucap Delon sambil menyeruput kopi hitam.
"Ya, kau benar," jawab Willy.
"Bagaimana hubunganmu dan Gisel? Aku harap kau juga membahagiakannya," tanya Delon.
"Jangan hawatir, aku sudah kehilangan dia sebelumnya. Aku tidak ingin mengulangnya lagi," jawab Willy. Delon menganggukan kepalanya.
"Apa kau sudah mulai mempersiapkan semuanya?" tanya Delon. Willy menggeleng.
"Kita haruz bekerja sama," ucap Delon.
"Untuk?" tanya Willy. Delon tersenyum tipis, ditatapnya Willy dengan tenang.
"Aku juga berencana menggelar resepsi pernikahan bersamaan dengan pernikahanmu dengan Gisel, kita urus semua bersama, kau setuju?" tanya Delon.
Willy terkekeh, apa tidak salah? Bagaimana bisa Delon yang angkuh itu memintanya untuk bekerja sama?
"Kau yakin?" tanya Willy.
"Ya," jawab Delon.
Wily tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia mengulurkan tangannya. Delon antusias menerima uluran tangan Willy.
"Oke, kita persiapkan semuanyq bersama, Tuan Delon, kita buat pesta yang meriah untuk kebahagiaan kita," ucap Willy.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...