
"Zifa, kali ini jangan keras kepala. Tolong dengarkan penjelasan Delon," ucap suara yang kini ada di ambang pintu.
Zifana dan Delon menoleh, dilihatnya Selena kini berjalan mendekat ke arah Delon dan Zifana.
"Kak Selena," ucap Delon dan Zifana bersamaan.
Zifana memandang ke arah Selena yang kini duduk di sampingnya. Digenggamnya tangan Zifana yang terasa dingin.
"Zifa, dengarkan kakak. Kakak tidak menyalahkan bagaimana kecewanya kamu pada papa dan Kak Gino. Itu sama dengan apa yang kakak rasakan, jika kamu tidak mau mendengarkan Delon, maka dengarlah sebentar ucapan kakak," ucap Selena.
Zifana diam, Delon juga sama. Lega hati Delon saat kini Zifana tak lagi memberontak dan mau mendengarkan ucapan Selena.
"Kali ini kakak tidak mau kamu membantah, bahkan kakak tidak mau tau pikiran jelek apa yang ada dalam benakmu. Hanya saja kakak mau menyampaikan apa kata Kak Gino tadi, kak Gino yang sempat kamu minta untuk pergi," ucap Selena.
Zifana terkejut, kakaknya menemui Kak Selena? Dan Kak Selena mau mendengar ? Padahal dia tau Selena sangat kecewa pada kakaknya. Jadi kenapa? Ada apa? Pertanyaan yang mengiang dalam benak Zifana.
"Zifa, kakakmu datang padaku, meminta kakak untuk bicara padamu, bahwa papa kritis. Papa butuh kamu, sebelum papa tak sadarkan diri hanya nama kamu yang sempat dia sebut," ucap Selena.
Deg
Hati Zifana terasa mati, sesak dalam dada seoalah mencekinya. Air mata Zifana mengalir, bayangan papanya yang sangat menyayanginya mengiang dalam benaknya.
Bayangan masa kecil terbayang jelas, dia digendon dibelakang, berlarian kesana kesini. Bayangan dibelikan bonekah, es krim. Bayangan itu menghantuinya.
Air mata tak dapat dibendung, sejujurnya papanya adalah sosok yang sangat baik bagi Zifana. Tak pernah mengecewakan, bahkan selalu mencoba untuk membahagiakan meski kadang dengan cara yang salah.
Papanya juga selalu memanjakannya, hingga kekecewaan yang mendalam dia rasakan saat papa dan kakaknya seolah menghianatinya.
Tangis Zifana kembali mengaru biru saat kilasan mimpi semalam seolah nyata. Zifana memejamkan matanya dan mengingat pembicaraan dengan papanya dalam mimpi.
Disebuah tanah lapang yang penuh dengan bunga, Zifana melihat papanya yang menjauh darinya menuju ke arah cahaya yang sangat susah untuk ditembus oleh pancaran sorot mata.
"Papa, papa mau kemana?" tanya Zifana.
Papa berhenti dan tersenyum, saat Zifana ada di sampingnya.
"Papa sudah bahagia sekarang, mau kemana lagi. Papa istirahat," ucap papanya.
"Pa, papa tak mau menjagaku? Kata papa aku putri kesayangan yang akan papa jaga selalu," ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Papa tampak terkekeh. Beliau merangkul pundak Zifana dan mencium puncak kepala Zifana beberapa kali.
"Kamu jangan hawatir, papa akan selalu menjagamu. Papa akan selalu menyayangimu, tapi kamu tau, papa sudah tua. Kalau untuk menggendongmu sudah tidak kuat," ucapnya.
Zifana diam, ditatapnya wajah keriput papanya.
"Jadi?" tanya Zifana.
"Ada Delon, suamimu yang menyayangimu. Dia lelaki baik Zifa, bahagialah selalu. Papa sangat menyayangimu walau tidak bisa selalu menjagamu," ucap Papanya.
"Papa,"
Lirih Zifana saat Selena menyenggol tangannya, Zifana yang kembali dari lamunan tampak menatap ke arah Delon dan kakaknya.
"Kita ke papa sekarang," ucap Zifana.
Delon dan Selena tampak bengong. Mereka terkejut.
"Kita ke papa sekarang, tunggu apa lagi?" ucap Zifana.
Mereka tampak berdiri, dengan agak terburu mereka segera menuju ke arah parkiran dan menuju rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa, papa bertahan," ucap Gino.
Suara pintu terdengar terbuka, Zifana menatap dua orang yang sangat dia sayangi. Tak menyangka jika papanya seperti ini. Dilihatnya Gino yang juga tampak hancur.
"Kakak," ucap Zifana saat dia berada di samping kakaknya.
Gino menoleh, suara itu sangat familiar. Sontak Gino berdiri saat melihat Zifana yang ada di sampingnya.
"Zifa," tak mau menunggu. Gino memeluk erat adik kesayangannya. Adik yang membencinya karna satu kesalahan yang sebenarnya tidak direncanakan.
Zifana menangis di pelukan kakaknya yang sebenarnya sangat dia rindukan. Dulu hanya papa dan kakaknya yang selalu mendukungnya. Mama? Mama meninggal sejak dia kecil.
Gino? Dia juga sama. Air matanya tak terbendung.
"Zifa maafkan kakak, maafkan papa Zifa, maafkan kami, kami salah padamu Zifa," ucap Gino ditengah isak tangisnya.
__ADS_1
Zifana tak menjawab, tapi dalam hati yang paling dalam dia sangat menyayangi dan sudah memaafkan.
Gino melepaskan pelukannya, kemudian mengambil buku di laci. Dia menyerahkan buku itu pada Zifana.
"Itu tulisan papa saat papa masih belum drop, papa berhayal kamu mau datang dan membaca itu bersama kakak jika beliau tak mampu bicara," ucap Gino.
Zifana mengambil buku itu. Dia duduk di samping kanan papanya. Gino juga duduk di samping Zifana. Delon dan Selena yang melihat haru pemandangan ini hanya diam duduk di samping papanya sebelah kiri.
Zifa membuka buku yang memang adalah tulisan dari papanya. Tulisan yang mengajarkannya hurup abjad disaat kecil itu.
Untuk anak anak papa yang papa cintai melibihi apapun, Gino dan Zifana.
Maaf, kata itu adalah kata yang pantas papa ucapkan untuk segala kekurangan papa selama ini, kata yang pantas untuk papa ucapkan untuk kesalahan papa dimasa lalu. Apapun itu, kesalahan papa mendidik atau kesalahan perbuatan papa. Tak ada kata lain selain kata maaf Papa bukan orang tua yang sempurna.
Dari lubuk hati papa yang paling dalam, papa sangat menyayangi kalian. Papa hanya ingin kalian bahagia.
Teruntuk Zifana, maafkan papa Nak. Berbahagialah kamu dengan Delon suamimu, papa dengar kamu sekarang sudah berhijrah. Papa senang mendengarnya, setidaknya dosa papa berkurang. Dulu papa tidak mengajarkanmu agama dengan baik.
Oh ya... Papa dengar juga kamu sedang hamil Nak, lancar sampai lahiran ya Nak. Jaga anakmu dengan baik. Sayangi dia, bimbing dia, jangan sampai dia tumbuh seperti kakeknya. Zifana, papa sangat menyayangimu. Maafkan Papa.
Untuk Gino, maaf jika papa memberi contoh yang tidak baik. Hal buruk dimasa lalu banyak memberikan kita pelajaran. Jika masih bisa diperbaiki, perbaiki hubunganmu dengan Selena. Berbahagialah kalian seperti Delon dan Zifana. Berhijrahlah untuk yang lebih baik, sebelum sesal datang dibelakang.
Papa sudah tenang jika kalian membaca ini, karna papa berharap disisa hidup papa, ada anak anak papa yang menghantar. Papa sayang kalian.
Tangis Zifana dan Gino semakin menjadi. Zifana menggenggam tangan papanya dan menciumnya. Air mata menetes disana. Zifana mengangkat wajahnya dan mendekat ke wajah papanya. Tangannya masih menggenggam tangan papanya.
"Papa, Zifa maafkan papa. Zifa juga minta maaf. Bagi Zifa, papa adalah papa yang sempurna Pa, papa yang sangat baik. Papa harus disini menemani Zifa. Papa pasti kuat, papa harus menemani Zifa di pelaminan Pa," ucap Zifana air matanya terus mengalir.
"Ingat dulu papa pernah bilang akan menjadikan Zifa wanita tercantik? Papa mau membuat Zifa menjadi wanita nomer satu ketika menikah?" celoteh Zifana dan tak mendapatkan jawaban.
Gino, Delon dan Selena hanya bisa membiarkan air mata mereka tumpah menyaksikan ini semua.
Zifana merasakan gerakan tangan papanya. Sudut mata papanya yang berair. Dia bahagia papanya merespon. Akan tetapi, sebentat kemudian terdengar helaan napas di sertai dengan layar monitor yang menandakan detakan jantung berhenti.
😭😭😭.
"Papa," ucap mereka ber empat bersamaan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1