
Jantung Zifana berdetak hebat. Air matanya tidak bisa dibendung. Berontak? Bahkan tubuhnya seakan lunglai.
Zifana menangis dalam rengkuhan Delon, merasakan hangat pelukan yang sejujurnya sangat dia rindukan. Tapi, dia tidak bisa seperti ini, karna ini semakin menyakiti dirinya.
Delon memejamkan matanya, merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam dirinya. Dia sangat nyaman dalam pelukan Zifana seperti ini.
"Lepaskan aku Tuan Delon," ucap Zifana dengan suara seraknya. Mengisaratkan sebuah kebencian. Mengiisaratkan sebuah kekecewaan. Dia mulai berontak. Dia tidak mau terus seperti ini.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Nona Zifana Aurora manda. Aku hampir gila karna kehilanganmu kemudian kamu minta aku melepasmu setelah aku bersusah payah mendapatkanmu? Tidak akan pernah aku lakukan," jawabnya.
Deg
Jantung Zifana semakin berdetak hebat, bagaimana bisa Delon berkata seperti itu?
Zifana mendorong tubuh Delon hingga Delon berhasil menjauh darinya. Mau menetupi bagaimana pun, nyatanya Delon bisa mengenalinya.
"Kau salah orang," ucap Zifana kemudian melangkah dengan tergesa. Dia tak mau terluka lebih dalam lagi.
"Hentikan langkahmu Nona Zifana," Sentak Delon dengan suara lantangnya.
Zifana tak kuasa lagi melangkah, wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Delon berjalan mendekati Zifana dan berdiri di depan wanita cantik yang sangat dia rindukan itu.
"Apa yang kamu mau?" tanya Zifana di sela isak tangisnya.
"Mau kemana kamu? Kita harus bicara banyak hal," ucap Delon.
"Kau salah orang Tuan," ucap Zifana dengan suara seraknya. Dia masih dalam ego yang sama.
"Apa benar begitu Nona?" tanyanya.
Zifana terdiam dan mengalihkan pandangannya, tak sanggup jika harus seperti ini. Dipandang Delon semakin membuatnya merasa sesak.
"Ya, kau salah orang," ucapnya seolah memperlihatkan dirinya adalah wanita yang kuat.
Delon mendekat, tangannya terulur melepaskan dengan lembut penutup wajah Zifana. Zifana tampak diam, mau bagaimana menyembunyikan dirinya, Delon sudah terlanjur mengetahuinya.
Delon melempar asal masker hijab itu, melepas kaca mata Zifana juga. Kini keduanya berpandangan tanpa penghalang apapun. Air mata Zifana semakin tampak jelas, dan itu semakin membuat Delon merasa bersalah dan hancur. Delon mengulurkan tangannya, mengusap air mata Zifana.
Zifana mengalihkan pandangannya, tak bisa menatap sorot mata Delon yang memandang dirinya penuh kasih.
"Masihkah mengelak? Kau Zifana, istriku. Tempatmu ada bersamaku," ucap Delon sambil membawa tatapan mata Zifana ke arahnya. Sorot matanya teduh memandang ke arah Zifana.
__ADS_1
Zifana menghela napas panjang, bagaimana bisa Delon berkata enteng seperti itu? Sangat menyayat hatinya.
"Biarkan aku pergi, diantara kita sudah tidak ada apa apa lagi," ucap Zifana sambil mengusap air matanya.
Deg,
Delon merasakan sakitnya diabaikan Zifana. Zifana marah? Sudah sewajarnya.
"Tidak, tempatmu di sampingku," ucap Delon tegas.
"Buka pintunya aku bilang," lirih Zifana, dia yakin Delon yang mengunci pintunya.
"Tidak akan Zifa," ucap Delon.
"Buka!" ucap Zifana lagi dan semakin yakin.
"Tidak akan," ucap Delon.
Zifana tampak geram, dia melayangkan satu tamparan tangannya ke arah pipi Delon. Rasanya kesabarannya sudah habis. Delon memegang pipinya yang terasa panas. Jika ini membuat Zifana lega, dia rela.
"Kita tidak memiliki hubungan apapun Tuan Delon, aku bilang buka!" sentaknya.
Zifana tersenyum getir? Istri? Istri simpanan? Egois sekali lelaki yang ada di depannya ini. Tidak berubah sama sekali.
"Hanya Istri simpanan kan?" ucap Zifana dengan tatapan yang nanar.
Deg,
Jantung Delon bagaikan terhantam batu besar. Kenapa rasanya sakit sekali mendengar semua ini? Itu kenyataan yang berulang kali dia katakan pada Zifana dulu. Lalu, kenapa saat Zifana mengatakan malah membuatnya seakan terluka?
"Aku tidak pernah meminta pernikahan ini, aku juga tidak pernah merasakan bahagia diposisi ini. Seharusnya kau tau, pernikahan bukan permainan, tapi pada kenyataannya aku seperti mempermainkan hal sakral yang seharusnya tidak dilakukan atas nama Elia. Sebelum semuanya terlambat mungkin berpisah lebih baik Tuan Delon yang terhormat," ucap Zifana disela isak tangisnya.
"Terserah apa katamu, Klkau juga boleh menamparku sepuasnya, memukulku sesuka hatimu, tapi untuk melepaskanmu tidak akan pernah aku lakukan lagi, maafkan aku Zifa," ucap Delon sambil menatap Zifana dengan sorot mata tajamnya.
"Jangan membuang waktumu untuk hal seperti ini, lebih baik buka pintunya dan biarkan aku pergi. Kau tidak bersalah apapun," ucapnya tak mau kalah. Delon tampak menggelengkan kepalanya.
Delon meraih tangan Zifa ke arah pipinya.
"Pukul Zifa, pukul lagi, aku rela. Asal kau tetap berada di sampingku,!" sentak Delon yang terbawa emosi yang sama.
Zifana menggelengkan kepalanya. Sejujurnya dia sangat terluka melihat Delon seperti ini. Hanya saja sudah menjadi tekatnya untuk pergi dari kehidupan Delon dengan keluarga kecilnya.
__ADS_1
"Tidak pernahkah kau berpikir untuk melihatku sedikit saja? Melihat posisi sulit yang aku jalani? Aku sakit Kak, aku terluka," ucap Zifana. Air matanya benar benar luruh. Dia sangat sedih.
Delon memejamkan matanya, pada akhirnya Zifana mengeluarkan apa yang seharusnya dia katakan. Rasa sakit menghujam hatinya, tapi panggilan kak yang dilontarkan Zifana seolah memberikan signal kebaikan dari istrinya itu.
"Dengarkan penjelasanku," ucap Delon.
"Penjelasan macam apa Kak? Bagiku semuanya sudah jelas. Aku bukan siapa siapa bagimu," sahut Zifana.
Deg
Delon lagi-lagi merasakan sakit yang bertubi. Seperti dipermainkan oleh Zifana. Entah mengapa Delon tak tak terima. Delon yang tampak menahan emosi melangkah maju. Zifana benar-benar menguji kesabarannya.
Zifana ikut memundurkan langkahnya, terus seperti itu sehingga Zifana dekat merapat ke dinding. Delon menekan pundak Nada sehingga istrinya memejamkan matanya. Sejenak Zifana membuka mata, keduanya saling menatap penuh emosi.
Delon menatap Zifana dengan geram, diraihnya Dagu Zifana dengan tangan kananya. Keduanya saling menatap lekat, saling beradu, menutupi cinta dengan emosi.
"Aku bilang dengarkan," lirih Delon
"Tidak!"
"Kau harus mendengarnya Zifa, setelah itu kau berhak memilih, untuk tetap pergi atau berada di sampingku!" ucap Delon.
Deg, jantung Zifana bergetar hebat. Penjelasan macam apa? Dia tidak butuh itu. Dia mendorong tubuh Delon dengan emosi. Namun percuma Delon tak bergerak sedikitpun, Delon meraih pinggang Zifana dengan tangan kirinya. Tangan satunya kembali meraih dagu Nada.
Delon memiringkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke arah bibir wanita yang sah dimata agama dan negara dua bulan lalu itu.
Delon memberikan c*uman lembut di bibi* Zifana. Meluapkan segala emosi dengan cinta dan menahan amarah dengan sayang. Zifana mengalirkan air mata, tetapi dia merasakan kenyamanan di dalam hatinya. Merasa bahagia dan sesak secara bersamaan.
Zifana mencoba mendorong Delon, Delon melepas ciuman manis itu, tangan kanannya mengusap air mata Zifana, menatap wajah cantik yang tampak sembab itu.
"Aku harus pergi, aku tidak butuh penjelasan apapun, kita akhiri semuanya hari ini juga kak. Anggap tidak pernah ada hubungan apapun diantara kita, bahagialah dengan keluarga kecilmu," ucap Zifana sambil menarik diri dari Delon dan mencoba berlari untuk menjauh.
"Zifana, Elia bukan putriku. Bahkan aku sudah cerai dengan wanita iblis itu, tiga tahun lalu!" ucap Delon dengan keras.
Deg
Suara lantang Delon membuat Zifana menghentikan langkahnya. Air matanya semakin deras. Sesak di hatinya sangat terasa. Apa maksud Delon?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mau lagi? Ritualnya jangan lupa.. wkwkkw
__ADS_1