
Kakek Wilan menatap ke arah ponselnya dan tersenyum saat panggilan dari Zifana masuk dalam ponselnya. Segera lelaki lanjut usia itu mengangkat panggilan dari cucu menantunya.
"Halo Zifa,"
"Halo, Assalamualaikum Kek. Kakek ke kantor ya?" tanya suara di sebrang.
"Waalaikumsalam Zifa. Ya, kamu benar. Kakek ada di kantor, sempat kakek khawatir tidak ada kamu. Bahkan di apartemen juga tidak ada, tapi kakek bahagia saat melihatmu bertemu dengan Delon," ucap Kakek Wilan.
Deg
Zifana memejamkan matanya.
"Jadi kakek tau? Pasti kerjaan Andreas," pikir Zifana.
"Zifa hanya menanyakan pesanan mobil," ucapnya.
"Dan Delon tidak mau memberikannya bukan?" tanya Kakek yang memang sudah mengetahui mobil itu khusus untuk Zifana.
Zifana terdiam. Ucapan Delon masih jelas ditelinganya bahwa mobil itu untuk orang spesial.
"Kakek benar," jawabnya.
"Zifa,"
"Ya,"
"ZA grup adalah milikmu. Bahkan mobil yang mana yang kamu mau, kamu bisa memakainya. Asal kamu bilang pada Delon bahwa kamu adalah cucu dari sahabat kakek. Sekalian kamu bicara pada Delon, kalian bicara baik baik, agar masalah kalian bisa terselesaikan," ucap Kakek Wilan dengan tenang, mencoba mengoyak benteng Zifana yang dibangun untuk menjauh dari Delon.
Zifana memejamkan matanya, memberi tau Delon bahwa dia cucu dari sahabat kakeknya begitu? Dia belum bisa terang terangan untuk bertemu dengan Delon. Hatinya masih terasa sakit, takut, dia tidak mau untuk sakit yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Itu hanya saran kakek, tidak baik berlarut dalam kemarahan, bukan kakek membela salah satu diantara kalian. Kakek hanya ingin yang terbaik bagi cucu cucu kakek," ucapnya.
Zifana membuka matanya, dia menghela napas dalam dalam, mencoba berpikir jernih.
"Zifa akan pikirkan nanti kek," ucapnya. Zifana tak mau banyak berdebat, menyebut nama Delon saja sangat menyiksa dirinya. Tapi untuk pergi dia belum sanggup, kakek Wilan mewajibkan dirinya untuk memberi tau Delon dulu jika ingin pergi sesuai dengan tekatnya. Alhasil dirinya main petak umpet seperti ini.
"Hem, semoga Allah memberikan kemudahan Zifa. Oh iya, ada apa kamu menghubungi kakek?" tanya Kakek Wilan sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 16.00.
"Amin, Zifa mau izin keluar kek, Zifa mau kerumah temen Zifa. Sekalian mampir, karna baru saja Zifa selesai pengajian di masjid yang tak jauh dari rumahnya, apa kakek mengizinkan? " tanya Zifana dengan tenang.
Kakek Wilan terdengar menghela napas panjang.
"Ya, kakek mengizinkan. Bahagia selalu Zifa," ucap kakek Wilan. Zifana tersenyum, malam ini dia ingin ke rumah Nada, dia baru saja selesai pengajian dengan ustadhah Hafizah yang membimbingnya selama belajar agama.
Memang selama ini, orang yang membantu Zifana bangkit, bahkan menguatkan Zifana adalah Nada. Zifana yang bingung harus bagaimana menjawab persaratan kakek, saat itu memilih untuk menghubungi Nada. Meminta solusi atas masalah yang dialami. Mengingat Nada adalah satu satunya orang baik yang dia kenal.
"Terimakasih kakek, assalamualaikum," ucap Zifana kemudian menutup ponselnya.
Zifana memasukan ponselnya di dalam tas, kini netranya menatap ke arah bangunan 3 lantai yang bertuliskan "Zif bontique". Butik kesayangannya yang sekarang entah dimiliki oleh siapa. Butik yang dibangun dengan susah payah. Sengaja dia berhenti di sini.
Zifana menatap dengan sedih, dia rindu dengan butik yang dulu adalah miliknya itu. Zifana menghela napas dalam dalam. Disana ada mantan asisten pribadinya yang masih sempat menghubungi beberapa minggu lalu. Tapi Zifana seolah menghindar dan mengganti nomer ponselnya. Tentu saja untuk menghilangkan jejak dari Delon juga.
Zifana melangkah masuk, dia ingin menghilangkan kerinduan dengan berkunjung disana. Sepertinya suasana sangat ramai sekali. Mungkin kedatangan orang penting, pikir Zifana. Dengan pelan dia membuka pintu dan disambut oleh beberapa karyawan.
"Selamat datang di Zif bontique," sambut seorang karyawan.
Zifana terdiam, bahkan namanya masih sama. Zifana tampak tak percaya, namun sebentar kemudian melangkah masuk, netranya mengedar memandang dengan takjub isi ruangan yang tidak dirubah sama sekali. Masih sama, hanya saja letaknya terlihat tampak rapi. Bahkan lukisan foto dirinya masih terpampang rapi disana.
Air mata mengalir deras, bagaimana bisa? Siapa pemiliknya? Kenapa tidak merubahnya? Bahkan, baju yang dibuat adalah baju yang menjadi seleranya. Zifana merasakan sesak yang menghujam. Air mata menetes dibalik kaca mata hitamnya. Ya, seperti biasa dirinya menggunakan masker dan juga kaca mata.
__ADS_1
Zifana berdiri, memandang dengan tenang ruangan pribadinya dulu yang ada di lantai dua. Fikiranya melayang entah kemana, bahkan dia tidak fokus.
Hingga beberapa orang tampak berbondong bondong dari arah lain dan tampak menyita perhatian para pengunjung pun Zifana tidak menyadari. Dia masih berdiri di tengah jalan. Sedangkan pengunjung lain sudah mengkondisikan diri.
"Maaf, Nona Manda. Bisa minggir sejenak?" suara seseorang tampak mengagetkannya.
Zifana yang terkejut segera memutar langkahnya, dia ingin menghadap ke arah suara yang dengan jelas memanggil nama samaran yang pagi tadi baru saja diucapkanya pada seseorang. Lalu, siapa yang memanggilnya? Apa orang yang dia kelabuhi yadi pagi ada disini? sedang apa?
Zifana yang memutar langkahnya ke belakang tampak tak seimbang, kakinya terbelit gamis sehingga membuatnya terhuyung mundur. Dia terkejut, hampir saja dia terjatuh. Zifana memejamkan matanya. Dia takut terjatuh.
Akan tetapi segera seseorang di depannya menarik dirinya dalam rengkuhannya.
"Kau selamat Nona Manda, kau bisa melepaskan pelukanmu," ucap orang itu dengan suara datarnya.
Zifana perlahan membuka matanya, menatap lelaki yang sangat dekat dengannya. Bahkan adegan ini sangat intim. Dia mengalungkan tangannya di leher orang itu. Orang itupun merengkuh pinggang Zifana. Keduanya saling menatap.
Sadar dengan kondisi sekitar, Zifana segera melepas pelukannya.
"Maaf," ucapnya.
Netranya menatap ke arah lelaki di depannya. Jantungnya berdetak hebat saat menyadari bahwa di depannya adalah Delon, Andreas, dan beberapa klien penting lainya. Netranya juga memandang menatap sorot mata banyak orang yang seakan memandangnya dengan takut, kasihan dan ada juga yang geram.
"Lain kali fokus Nona, kau bisa mencelakakan dirimu sendiri jika banyak melamun seperti ini," ucap Delon kemudian melangkah pergi diikuti oleh Andreas dan rombongannya. Delon menyunggingkan senyum tipis saat melewati Zifana yang masih tampak gugup.
Zifana menghela napas panjang, dia melangkah pergi, jantungnya berdetak tak karuan. Berada di rengkuhan Delon membuatnya nyaman dan tenang. Jujur, sedari pagi berhadapan dengan Delon dia menginginkan hal ini. Dipeluk, walau sebentar saja. Dan saat ini, hatinya merasa lega mendapatkan apa yang dia inginkan walau dengan cara yang memalukan.
Zifana melangkah pergi, diiringi tatapan yang entah bagaimana dari para karyawan dan pengunjung lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya. Like, komen penyemangat... 300 like yuk... wkwkw