
Andreas memejamkan matanya, semua ini atas perintahnya. Bagaimana jika Delon tau? Astaga, kenapa jadi senjata makan tuan? Apa Delon malah akan menghancurkan dirinya? Pikir Andreas.
"Ndre, kenapa diam? Ayo kita cari Leo keparat itu, kita habisi dia sekarang juga," kesal Delon.
Andreas tampak menghela napas berkali-kali, dia menatap Delon dengan sedikit was was.
"De, bisa kau tenang? Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Andreas sambil memasang wajah cengengesan.
"Apa?" tanya Delon yang sepertinya tidak bisa menerima candaan.
"De, sebenarnya...." Andreas tampak berhati-hati.
Delon masih menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut Andreas.
"Apa?" tanya Delon tak sabar.
"De sebenarnya Leo datang atas undanganku," ucap Andreas.
Delon membelalakan matanya. Bagaimana bisa Andreas mengundang Leo? Bukankah asistenya itu tau jika Leo berbahaya untuk Zifana? Kesal tampak menggerogoti hati Delon.
Bug Bug Bug
Delon memberikan pukulan bertubi di perut Andreas dan pipi Andreas. Andreas mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
"De, aku bisa jelaskan," ucap Andreas. Tapi Delon seakan tak mau mendengar. Dia sangat tak menyangka. Diraihnya kerah baju Andreas dan diseret untuk keluar dari rumah sakit.
Banyak orang yang melihat mereka, tapi membiarkan mereka berlalu. Kini mereka ada di tanah lapang. Keduanya saling berhadapan.
__ADS_1
"Kau, kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri Ndre. Tapi kau melakukan ini? Apa maumu? Kau tau, Zifana hampir mati karna ulahmu. Bahkan bayiku harus dirawat intensif, kau punya otak atau tidak?" sentak Delon dengan perasaan kecewa.
Andreas menunduk, dia tak berniat untuk menjelaskan ditengah emosi Delon. Andreas yang tak menjawab apapun malah semakin menyulut emosi Delon.
Delon kembali menyerang.
"Keparat Kau Ndre!"
Mau tidak mau mau, Andreas melindungi dirinya. Manda yang baru datanga menganga tak percaya melihat semua ini, dia yang melihat dua orang yang tampak emosi segera mendekat, Manda mencoba melerai bos dan asistennya itu.
"Hentikan!"
Manda berteriak panik, namun Andreas maupun Delon tidak merespon Manda.
"Stop aku bilang, Andreas! Delon!" sentak Manda lagi. Namun Andreas dan Delon masih saja melanjutkan aksinya.
Manda menarik tangan Andreas, security menarik tangan Delon. Mereka melerai perkelahian itu.
Setelah terkondisikan, security mengkondisikan kerumunan dan membubarkan mereka. Perkelahian itu sampai ditelinga Kakek Wilantama, sehingga kakek datang di tempat itu.
"Apa-apaan kalian ini, benar-benar memalukan!" sentak kakek Wilan yang memang tadi akan melihat keadaan Zifana dan cicitnya.
Delon dan Andreas tampak diam, meski emosi masih ada diantara keduanya.
"Bukan dengan berkelahi cara menyelesaikan masalah, kalian itu sudah dewasa!" bentak kakek panjang lebar.
"Apa masalah kalian? Selesaikan masalah kalian baik baik, kakek tunggu kalian di ruang rawat Zifana!" ucap kakek sambil meninggalkan keduanya. Security juga pergi. Manda pun juga beranjak karna permintaan kakek. Kini mereka hanya berdua, saling diam.
__ADS_1
"Apa kau tau kesalahan mu?" tanya Delon.
"Aku melakukan untuk kebaikanmu," ucap Andreas.
Delon mengepalkan tangannya geram.
"Kau melakukan untuk kebaikanku? Kebaikan dari mana? Kau menyakiti Zifana!" sentak Delon.
Andreas yang kesal tampak tersenyum sinis. Dia dari dulu melakukan semua hal penuh dengan perhitungan, dab itu selalu tepat sasaran. Dan saat ini, tak ada toleransi baginya? Bahkan menjelaskanpun tak diberi waktu? Egois sekali Delon yang selalu menyudutkannya. Andreas menahan sesak di dadanya. Entah, kali ini dia emosi.
"Coba katakan kebaikan yang bagaimana?"
Delon menarik kerah Andreas, Andreas menghempaskan tangan Delon, dia tersenyum sinis.
"Pikir saja sendiri, dari tadi kau tak mendengarku kan? Harusnya kau tanya baik baik, aku bekerja padamu tidak hanya sebulan dua bulan De, bertahun tahun. harusnya kau tanya apa tujuanku!" Kesal Andreas.
"Tujuan macam apa yang kau maksud? Kehancuranku begitu? Kau mau aku hancur karna kehilangan Zifana?" sentak Delon.
"Pergi! Jangan perlihatkan wajahmu di hadapanku!" sentak Delon.
Mata keduanya merah, Andreas mengangguk, dia menatap wajah di depannya.
"Setidaknya aku telah mengabdi untuk kebaikanmu. Semoga kau bahagia dan terus sukses Delon," ucap Andreas.
Andreas melepaskan id card Wilantama group dan meletakan di telapak tangan Delon, ia menepuk pundak mantan tuanya dan berlalu pergi.
Delon memejamkan matanya, sedih bergelayut di hatinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...