
Jangan lupa nanti malam
Delon membaca satu pesan yang masuk di ponselnya. Segera Delon membalas dan menatap ke arah Zifana yang menatapnya.
"Siapa Kak?" tanya Zifana.
Delon tersenyum dan menatap wanita cantik itu dengan senyuman indahnya.
"Teman," jawabnya. Zifana tampak menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia tak perlu bertanya tanya sedetail mungkin. Delon punya Privasi, dan mungkin tidak untuk diketahuinya.
Delon segera menancap gas mobilnya, melewati lalu lalang kendaraan menuju ke arah sakura grup.
Tak lama dari itu, sampailah keduanya di sakura grup. Zifana mengambil tas nya kemudian bersalaman dengan Delon.
Delon mengecup pelan puncak kepala Zifana kemudian tersenyum tipis.
"Hati hati Nyonya Delon," ucap Delon.
Zifana menganggukkan kepalanya, Delon mengusap pelan pipi Zifana dan kembali mengecup pelan puncak kepala Zifana.
"Sore nanti aku akan menjemputmu," ucap Delon.
"Hem, selamat bekerja, Tuan Delon. Assalamualaikum," ucap Zifana kemudian beranjak dari tempatnya duduk.
Delon tersenyum dan mengacak puncak kepala berhijab milik Zifana.
"Waalaikumsalam. I love you," ucap Delon.
Zifana tersenyum, lagi lagi dia tak mampu menjawab ucapan cinta Delon. Zifana segera keluar dia menutup pintunya dan segera melangkah menuju kantornya.
Delon menghela napas panjang, berharap nanti malam tak ada kendala. Delon segera menancap gas mobilnya lagi. Dia ada meeting pagi dengan beberapa klien. Mungkin bisa sampai siang nanti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa bisa kita mulai?" tanya Zifana disela keheningan.
__ADS_1
Dua lelaki tampan yang kini berada di depanmya tampak saling memandang, mereka mengangguk bersamaan.
Meeting dimulai, Zifana saat ini ditemani oleh Manda, asisten pribadinya. Saat ini mereka bersama dengan Ouner Alana jaya grup pemilik toko perhiasan ternama yang ingin bekerja sama dan mengambil beberapa perhiasan dalam jumlah besar di sakura grup.
Pimpinan itu sesekali mencuri pandang ke arah Zifana. Wajah cantik Zifana begitu membuatnya penasaran. Zifana mendongak, sesekali tatapan mereka bertemu menciptakan kecanggungan. Zifana tak nyaman dengan tatapan lelaki yang mungkin seusia dengan suaminya itu.
tiga puluh menit berlalu. Ke empatnya menghela Napas panjang. Manda membaca beberapa notuline yang menjadi kesepakatan.
"Jadi bagaimana untuk penawaran terakhir? Perusahaanku akan mengambil 100 persen dari Sakura grup. Tapi, tiga hari sekali kita mengadakan pertemuan,"ucap lelaki tampan bernama Arya itu. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum tipis disana.
Zifana tampak menautka alisnya. Dia tampak menimbang, dia juga tidak mau terjebak dalam situasi yang nantinya akan mencelakakan dirinya sendiri. Tiga hari sekali? Hais, pasti Si suami posesifnya akan berpikir yang macam macam jika tau tentang ini.
Arya menatap Zifana dengan intens. Wanita yang kini berada di depannya itu tampak elegan, bahkan setiap kata yang terucap dari bibirnya seolah menegaskan bahwa dia sangat istimewa. Membuat Arya seakan tak mau lepas dari pemandangan itu.
"Terimakasih atas penawarannya, Tuan. Bisa saja itu terjadi, asisiten saya dan salah satu perwakilan dari sakura grup pasti bisa bertemu dengan Alana Perhiasan," ucap Zifana sambil tersenyum.
"No, saya maunya bertemu dengan anda Nona," selanya dengan senyuman menawannya. Zifana tampak terkejut, apa maksud kliennya itu?
"Maksud saya, jika bertemu dengan ounernya langsung sepertinya akan sangat afdhol," lanjutnya seolah menepis pikiran buruk Zifana.
Zifana tampak memejamkan matanya, semoga saja memang itu yang diharapkan Arya. Tidak lebih. pikirnya.
"Nama anda siapa Nona?" tanya Arya sambil tersenyum.
Zifana terdiam, Bahkan tak terbesit difikirannya akan diberi pertanyaan demikian. Apa harus dia menyebutkan? Bukankah mengatasnamakan PT sakura sudah jelas?
"Tidak perlu menjawab, mungkin itu terlalu privasi. Bukan ranah saya untuk menanyakannya. Maafkan," lanjut Arya seolah tak enak.
Zifana memandang Arya, menyerahkan beberapa berkas penting pada lelaki itu dia tersenyum. Tak enak juga tidak memperkenalkan diri.
"Maaf, dua jam bersama bahkan saya lupa tidak memperkenalkan diri. Saya Ziera, dan asisten saya Manda, Tuan Arya," ucap Zifana dengan anggun.
Arya tampak menautkan alisnya, sedari tadi mengamati wajah itu, familiar. Tapi dia lupa. Dan setelah mengingat ingat nama Ziera. Bukankah itu adalah model ternama yang hampir dua bulan lalu namanya melambung dan dia menghilang? Pantas saja sangat familiar. Bahkan dia sekarang menutup auratnya? Benar benar wanita idaman.
"Ziera, apa anda model yang membintangi iklan dengan Wilantama grup beberapa waktu yang lalu?" tanya Arya.
__ADS_1
Zifana memejamkan matanya, niatnya ingin tidak dikenali dengan menyebut nama panggungnya. Lalu kenapa bisa dikenali? Bahkan banyak orang yang memandang dirinya dan pasti mencuri gambar.
Zifana hanya tersenyum dia bingung harus bagaimana.
"Senang bertemu dengan anda, saya berharap anda juga mau menjadi bintang iklan dari Alana grup," ucap Arya.
Zifana sedikit gentar, perasaan takut menyelinap dihatinya. Entah kenapa dia tak nyaman jika dia dikenal banyak orang. Apa iklan itu sangat terkenal? Zifana menghela nafas panjang dan menghembuskan pelan.
"Kita bicarakan lain waktu, Tuan. Yang terpenting kita sepakati yang ada dulu," ucap Zifana. Arya menatap kearah Arya.
"Hem, terimakasih atas kerja samanya Nona. Saya bangga bisa bekerja sama dengan sakura grup," ucap Arya tampak bahagia.
Zifana hanya tersenyum, dia memasukan berkas ke dalam tas kerjanya.
"Silahkan dinikmati hidangannya Nona, sebelum kita akhiri tidak ada salahnya kita bersama makan siang," ucap Asisten Arya mempersilakan setelah beberapa pelayan mengantarkan makanan.
Zifana menatap Manda, asistennya. Seolah memintanya untuk segera makan dan pergi. Mereka menikmati hidangan dengan hikmad.
Di sebrang sana beberapa pasang mata tampak menatap ke arah Zifana, dan juga beberapa klien. Salah satu diantaranya adalah Delon yang merasa geram. Bagaimana bisa Zifana menjadi pusat perhatian?
Bagaimana bisa istri cantiknya memperkenalkan nama panggungnya? Apa mau terkenal dan dikenal banyak orang begitukah? Sangat menjengkelkan dan minta dihukum.
"Jadi anda mengenalnya?" tanya Tuan Leo. Putra dari salah satu perusahaan ternama di negara itu. Ya, dia mengenal wajah Zifana setelah mengamati wajah itu. Wajah cantik yang pernah disodorkan fotonya padanya oleh papanya.
Ini Namanya Zifana, papanya bangkrut. Dia meminta bantuan kepada kita dengan menyerahkan putrinya. Papa sudah memberikan sepuluh persen dari yang mereka minta. Sisanya setelah kau berhasil menikah dengannya. Lalu apa kau bersedia menikah dengannya? ucap Mr lee pada Leo, putranya. Saat itu Leo bahagia. Tapi ternyata dia mendengar wanita itu malah kabur. Dia mengepalkan tangannya. Ingin dia mendapatkan wanita itu.
Delon yang diajak bicara tampak menatap ke arah Lelaki yang mungkin seusia dengannya itu. Ya, memang Delon dan juga Andreas menjdawalkan meeting di restauran ini juga. Tak menyangka ada Zifana. Dan pembicaraan Zifana dengan Kliennya terdengar jelas di telinga Delon dan membuatnya sangat kesal.
Delon yang semula melirik Zifana kini menatap ke arah Tuan Leo.
"Ya," jawab Delon jujur.
"Hati hati dengan wajah polosnya Tuan. Hati hati dengan tampilannya, dia wanita jahat, bahkan sempat keluarganya menipu saya," ucapnya.
Deg
__ADS_1
Delon menatap ke arah Leo, dia mengenal Zifana?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...