
"Gie, tolong jangan menghindari aku," ucap Willy dengan tenang, membuat Gisel tampak mengerjabkan mata indahnya.
Gisel menatap ke arah Willy, lelaki yang kini berada di depannya.
"Aku tidak punya waktu luang, maaf Wil ini sudah malam dan aku harus pulang," ucap Gisel.
Willy memegang dua pundak Gisel, menatap wanita cantik itu dengan tenang. Ditatapnya wanita yang sedari dulu mengisi hatinya itu.
"Beri aku kesempatan untuk berada di sampingmu, kita sudahi semua kesalah pahaman. Aku ingin kita berbaikan," Willy mengacungkan jari kelingkingnya, mereka saling menatap.
Gisel tampak menundukan kepalanya. Kemudian wanita cantik itu memandang Willy dengan senyuman. Sebenernya dia malu. Pernah menyimpan sebuah kesalah pahaman yang ternyata tidak benar sama sekali.
"Bukankah kita memang sudah berbaikan ?" tanya Gisel. Willy tampak tersenyum.
"Tapi kau menghindariku," ucap Willy.
"Sebenarnya aku hanya malu saja, aku selalu berpikiran yang tidak tidak padamu dan juga Zifana," jawab Gisel. Gisel menatap Ke arah Willy dan tersenyum singkat.
"Itu masalalu, saat ini yang terpenting semuanya sudah jelas, tak ada hubungan apapun antara aku dan Zifana," ucap Willy. Lelaki tampan itu mengambil sesuatu dalam saku jasnya. Mengulurkan benda itu pada Gisela.
"Apa ini?" tanya Gisel.
"Kemarin mama yang melamarmu, saat ini aku datang dan memastikan kau menerimaku. Kita menikah bulan depan," ucap Willy.
Gisel memejamkan matanya, hatinya berbunga. Akan tetapi kecanggungan masih ada dalam hatinya. Memang tadi keluarga Willy datang lagi ke rumah, dengan tiba tiba. Akan tetapi Gisel tak ada, hingga pada akhirnya Willy mencari keberadaan wanita yang mengisi hatinya.
"Aku," Gisel tampak gugup.
Willy memandangnya dan semakin membuat dirinya merasa gugup.
"Aku tau jawabannya, kau mau Kan? Sekarang kita pulang, calon pengantin dilarang pulang sendirian," ucap Willy kemudian menggenggam tangan Gisel dan mengajaknya untuk segera pergi dari tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinar mentari menerangi kamar yang masih saja memberikan kenyamanan di tengah dinginnya pagi ini. Zifana masih saja bermanja meminta peluk suami tercintanya sambil memandangi subuah foto pernikahan yang lewat di beranda akun sosmednya. Dia dan Delon saling berpandangan. Melihat hal itu membuat keduanya canggung. Karna sampai saat ini belum terlaksana resepsi pernikahan antara mereka.
Dulu mereke menikah karna Elia, Sebuah pernikahan yang terjadi tanpa ada rasa cinta dan kini subur dengan seiring berjalannya waktu.
Seusai Shalat Subuh tadi, Zifana dan Delon langsung memasak untuk sarapan. Karna semalam sehabis dari taman, mereka mampir juga ke mall.
__ADS_1
"Kenapa memandang foto itu terus? Apa kau ingin resepsi pernikahan yang Sama?" tanya Delon. Zifana tampak menggeleng pelan. Tak enak saja jika harus mengiyakan ucapan Delon.
"Aku akan jauh lebih tampan dari pengantin itu nantinya, kita akan segera mengadakan resepsi," ucap Delon. Zifana memejamkan mata. Dulu memang membayangkan pernikahan yang megah, tapi dia tak lagi memimpikannya. Mempunyai suami yang baik seperti Delon sudah mempunyai kebahagiaan tersendiri.
"Mana ada, bukan tampan tapi menyebalkan," sahutnya. Delon terkekeh. Ditatapnya Zifana dengan tenang.
"Aku juga tidak lagi memikirkannya, bagiku memilikimu adalah hal yang sangat Indah," ucap Zifana.
"Tapi keinginanku adalah memperkenalkanmu pada publik bahwa kau istriku, memperlakukanmu sebagai ratu, karna saat dulu aku menyakitimu," ucap Delon sambil mengusap pelan pipi Zifana.
"Kalau ingat waktu itu, rasanya aku sangat marah pada diri sendiri," ucap Delon.
Zifana menggelengkan kepala, dia tersenyum.
"Lupakan, saat ini kita sudah lebih baik. Nanti kita bicarakan lagi bersama kakek dan mama, sepertinya dibarengkan dengan pernikahan Gisela dan Willy sangat tepat," ucap Zifana.
Delon tampak antusisas dan mengangguk pelan.
"Ide yang bagus," ucapnya.
Tak beberapa lama kemudian terderngar ketukan pintu, segera Zifana beranjak dari ranjang, begitu juga dengan Delon yang bersiap untuk bekerja.
"Asalamualaikum Nona Zifa, selamat pagi," ucap Manda dan Andreas yang sepertinya sama sama kesal.
"Pagi, ayo masuk dulu," ucap Zifana mempersilahkan mereka masuk,, walau pertanyaan dalam benaknya tampak bertanya tanya.
Mereka masuk bersama.
"Ndre, ada perlu sama kak Delon? Dia ada di atas," ucap Zifana.
Sebenarnya Andrea's datang untuk membahas tentang ZA grup pada Delon, bersamaan dengan manda yang akan membicarakan hal yang sama pada Zifana. Andrea's meminta Manda berbicara di lain tempat agar Delon tak tau dulu jika ownernya Zifana, untuk kejutan nantinya. Malah wanita itu seperti mengabaikan, membuat Andrea's kesal dan terjadi perdebatan.
"Bilang pada asistenmu untuk tidak mengatakan apapun pada Delon," ucap Andrea's kemudian melangkah pergi.
Zifana menatap Manda dan tersenyum pada wanita cantik dari keluarga sederhana itu.
"Tu orang songong bener sih," kesal Manda sambil menyerahkan berkas yang harus disetujui oleh Zifana.
"Jangan kesal kesal, bahaya," ucap Zifana sambil menandatangani berkas.
__ADS_1
"Okey, jadi semua sudah beres, semoga apa yang kita impikan bisa tercapai. Semoga kita semakin sukses, Amin," ucap Zifana sambil terkekeh.
"Amin," aku bahagia sekali bisa menyelesaikan pekerjaan ini Zie, kalau begitu aku harus kembali dan mempersiapkan semuanya," ucap Manda dan diangguki oleh Zifana.
"Aku akan segera menyusul," ucap Zifana sambil mengamati punggung Manda yang mulai menjauh darinya.
"Aku juga harus berangkat, nanti orang rumah yang akan mengantarmu. Tunggu saja, Jangan mengendarai mobil sendiri," ucap Delon yang muncul bersama dengan Andreas.
"Hem," ucap Zifana.
"Setelah ZA jatuh pada pemilik asli, aku minta kau tidak lagi bekerja," ucap Delon.
Zifana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Hem, aku akan menjadi ratu di istana Tuan Delon," ucap Zifana dengan tenang.
Delon tertawa karna melihat Zifana yang manja. Delon mengusap pelan puncak kepala Zifana dan mencium perut datar istrinya.
"Baik baik, jangan rewel, Daddy menyayangimu. Jaga Bunda untuk Daddy," ucapnya pelan.
Zifana tersenyum dan menatap ke arah Delon dengan tenang.
"Hati-hati kak," ucap Zifana.
"Apa mesranya bisa nanti saja? Ini sudah mepet waktunya," ucap Andreas.
Zifana dan Delon menoleh bersamaan.
"Sewot banget, nikmati saja derita jomblo. Makanya segera menikah," sahut Delon dan disahut kekehan tawa Zifana.
Andreas berlalu begitu saja.Membuat Zifana dan Delon semakin terpingkal.
"Dasar Andre," ucap Delon. Delon kembali menatap Zifana.
"Aku berangkat dulu. Aasalamualaikum," ucap Delon. Zifana mencium tangan Delon, kemudian Demon melenggang pergi.
"Waalaikumsalam," jawab Zifana sambil memandang Delon yang menjauh darinya.
"Sampai Bertemu di ZA, sayang," lirih Zifana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...