
"Maaf Nona, kau harus masuk dalam perangkapku, Wily sepertinya sangat mengidolakanmu. Jadi, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja, kalau Willy jahil, mungkin tante bisa lebih gila," batin Mama Tina sambil tersenyum.
"Bagaimana Gie?" tanya Mama Amel yang tampaknya bahagia sekali melihat lamaran ini. Ya, sering kali Mama Amel meminta pada putrinya itu untuk serius menjalin hubungan. Karna usianya sudah cukup untuk berumah tangga.
Gisel memejamkan matanya, ragu? Pasti. Kaget? iya. Tapi dia tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa lamaran ini sangat memporak porandakan hatinya. Masalalu yang membuatnya pergi seolah menjadi tembok besar yang membuatnya ragu.
Tapi bukankah saat ini berbeda? Bahkan, Zifana telah menikah dengan kakaknya? Willy, bukankah lelaki itu tak tau? Pernikahan Zifana dan kakaknya belum terpublikasikan. Tapi bagaimana bisa Mama Willy mengatakan bahwa pilihan Willy jatuh pada dirinya?
Delon dan Zifana menuruni anak tangga, tangan Delon menggenggam erat tangan Zifana dengan penuh cinta. Delon tampak tersenyum senyum mendengar lamaran yang ditujukan untuk adiknya.
Zifana? Wanita cantik itu mengamati dua wanita yang sejak tadi menyita perhatiannya. Wanita yang kini duduk membelakanginya. Kenapa dua duanya tak asing baginya? Siapa mereka? Dengan hati yang gusar Zifana mengikuti langkah kaki Delon yang terus saja melangkah. Pandangannya mengedar menatap ke arah dua wanita, kakek dan juga Mama Amel.
"Sayang, bagaimana?" tanya Kakek Wilan.
Gisel memejamkan matanya, untuk berucap rasanya juga sangat susah, lidahnya kelu. Dia teringat percakapan dengan kakaknya beberapa hari yang lalu, saat mamanya membicarakan tentang pernikahan.
"Bagaimana kriteriamu? Kakak akan membantumu untuk berkelana," tanya Delon saat itu.
"Aku juga bisa kak, aku bukan tidak laku. Tapi aku tidak mau," ucap Gisel dengan kesal.
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku hanya tidak percaya pada lelaki, sepertinya lelaki bodoh di dunia ini hanya kau, yang bisa dibodohi oleh Vely manusia lucnut itu.... Tapi, diluaran sana banyak lelaki yang tak punya hati, aku harus hati hati," ucap Gisel. Delon terkekeh pelan.
"Jangan mengejekku, katakan saja, apa kriterianya?" tanya Delon sedikit jengkel.
Gisel terkekeh juga dan menatap ke arah kakaknya dengan bahagia.
"Yang serius, itu yang utama. Melamar aku untuk menjadi istrinya, bukan menjadi pacarnya, apalagi selingkuhannya," ucapnya.
"Kalau kau tidak kenal?" tanya Delon.
"Kalau melamar ke sini, datang ke sini, tentu saja dia mengenal aku dengan baik Kak, bahkan sebaliknya. Kecuali mereka rekan kamu, rekan mama, atau rekan kakek, pastinya aku tidak kenal. Udah ah, sana pergi," ucap Gisel saat itu.
Gisel menghela napas panjang, hingga pada saatnya Delon angkat bicara dari belakang mereka.
"Aku pastikan Arzenia Gisela Meca menerima lamaran yang anda ajukan Nyonya," ucap Delon mengisi keheningan malam ini.
Semua mata kini menoleh, mengarahkan pandangan mereka pada satu titik. Sepasang suami istri yang sangat serasi, tampan dan cantik. Akan tetapi, berbeda dengan Mama Tina dan Gisel yang tampak terkejut karna sosok Zifana yang ada di atas sana.
Bahkan, Zifana juga terkejut mana kala menatap ke arah Mama Tina dan juga Gisel.
"Arzenia Gisela Meca?" lirih Zifana.
__ADS_1
Ingatannya berputar, mengingat nama yang sangat kental di ingtannya. Sahabat baik, sahabat tercinta, yang menghilang karna kesalah pahaman. Yang menjauh karna menganggapnya menusuk dari belakang.
Kedua bola mata bening itu saling beradu, tatapan rindu seakan ingin memeluk. Tapi tembok pembatas seakan berdiri tegak diantara keduanya. Mereka tampak berkaca kaca.
Zifana memejamkan matanya, apa Gisel adik iparnya? Tante Tina? Apa Willy melamar Gisel? Bahagia bermunculan di hati Zifana, dia bahagia saat Willy menemukan pelabuhan cintanya.
Mama Tina terkejut melihat sosok cantik yang sangat mirip dengan sahabat baiknya. Sosok cantik yang memintanya menganggap Zifana sebagai putrinya sendiri.
Tina, anggap Zifana seperti putri kandungmu sendiri. Walau kasih sayang ayah dan kakaknya sangat besar. Kadang kala mereka berada di jalan yang salah. Nasehati Zifana jika dia berada di jalan yang keliru.
Mama Tina tampak mengingat ucapan Mama Zifana saat dulu mereka masih bersama.
"Zifana," ucap Mama Tina dan Gisel bersamaan.
Deg.
Semua orang menoleh ke arah mama Tina dan Gisel. Delon, mama Amel dan Kakek tampak terkejut. Bagaimana bisa mereka saling mengenal?
Gisel? Dia tampak membeku, mama Willy mengenal Zifana?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1