
Zifana melangkah pergi, meninggalkan Leo yang tampak sangat emosi. Langkahnya sedikit terburu hingga dia menabrak seseorang.
"Maaf," ucapnya lirih.
Zifana mengangkat wajahnya dan memandang orang di depannya. Keduanya saling berpandangan hingga Zifana menyadari siapa orang di depannya.
"Sayang, kau kenapa?" tanya orang yang ditabrak Zifana yang ternyata adalah Delon.
"Mas," ucap Zifana. Zifana yang memang tampak takut menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Delon.
"Sayang, kenapa? Kenapa kamu ketakutan? Ada yang menakutimu? Siapa?" tanya Delon sambil mengedarkan pandangan matanya melihat sekelilingnya. Tak ada siapapun.
Delon yang penasaran melepaskan pelukannya, memandang ke arah Zifana. Memegang dua pipi Zifana, mengamati setiap inci wajah istrinya itu.
Zifana menggeleng, dia menatap ke arah Delon dengan teduh.
"Ayo pergi dari sini," ucapnya.
"Tapi kamu kenapa? Coba katakan padaku," ucap Delon seakan meminta istrinya untuk berbagi.
"Aku hanya bertemu dengan ular," ucap Zifana asal. Dia tak mau membebani Delon dengan masalah masalalunya.
__ADS_1
Delon tampak menautkan alisnya, dia tak percaya. Tapi pada akhirnya dia mengangguk, dia yakin ada suatu hal yang terjadi. Tapi lelaki tampan itu tak mau memaksa Zifana untuk bercerita saat ini.
"Oke, kita segera pergi dari sini," ucap Delon sambil menggenggam erat tangan dingin Zifana.
Zifana menganggukan kepalanya. Keduanya segera berjalan ke arah mobil dengan langkah yang tenang.
Dibalik pohon, Leo mendapati Zifana sedang berbicara dengan seseorang. Berpelukan mesra. Tapi, sayang sekali Leo tak dapat melihat dengan jelas wajah dari sosok tinggi tegap yang berbincang dengan Zifana. Yang dilihatnya hanya punggung lelaki yang membelakanginya itu.
"Siapa dia? Kenapa tidak asing?" kesalnya.
Tadi Leo hampir mengejar Zifana, menyelesaikan perdebatan dan membuat wanita cantik itu kacau karna ucapannya. Akan tetapi langkah Zifana yang cepat membuat Leo kesusahan mencarinya. Bahkan, dia menemukan Zifana saat dia sudah berada dalam pengawasan seseorang. Dan besar kemungkinan, itu adalah suami Zifana.
Kini Leo hanya bisa menghela napas kasar, melihat punggung Zifana dan lelaki itu yang menjauh dari pandangan matanya.
Delon membuka pintu untuk Zifana, kemudian berlari ke kecil ke arah kemudi. Andreas? Setelah mencari makanan pesanan Zifana, lelaki tampan itu memilih pulang dengan taksi online.
Delon memberikan paperbag pada wanita kesayangannya. Zifana menatap suaminya, dia tau isi paper bag itu. Tapi sepertinya selera makannyapun sudah hilang tak bersisa karna takut.
"Makan dulu," ucap Delon.
Zifana menggelengkan kepala, Delon menautkan alisnya. Dia kelamaan menyusul Zifana karna makanan ini, mengakibatkan dia tak tau sesuatu apa yang terjadi pada istrinya itu. Lalu Zifana tak mau? Tidak akan dia biarkan.
__ADS_1
Delon membuka bungkus nasi padang, kemudian mengarahkan satu sendok pada Zifana. Zifana menggeleng lagi, hingga Delon menghela napas panjang.
"Sayang, jika kamu tak mau, anggap saja aku sedang menyuapi baby kita. Apa kamu tak kasihan padanya? Katamu kamu tak lahap makan, belum makan? Aku tak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu dengannya," ucap Delon sedikit mengeluarkan sisi kilernya.
Zifana memejamkan matanya, dia memang tak sendiri. Ada nyawa yang harus dijaganya. Pada akhirnya Zifana tersenyum, membuka mulutnya.
Delon mengusap pelan pipi Zifana yang berangsur memutih setelah tadi tampak memerah.
"A," ucap Delon sambil memberikan satu suapan pada Zifana.
Zifana menerima suapan Delon, setidaknya perutnya terisi. Dia sudah sedikit tenang, akan tetapi masih memikirkan kemunculan Leo, bahkan pikiran jelek tentang kakak dan papanya kembali menguasai hatinya. Kejahatan kakak dan papanya terus menjadikan dirinya khawatir.
Apa masih akan berlanjut papa dan kakaknya menekannya untuk menepati janji pada MR Lee? Zifana menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran buruknya.
"Papa, kakak, apa kalian setega itu?" ucapnya lirih dan hanya mampu di dengarnya sendiri.
Delon hanya bisa memandang Zifana, dia semakin yakin Zifana memikirkan sesuatu. Sebenarnya Delon ingin juga memberi tau tentang tuntutan pada papa dan kakaknya yang sudah dicabut oleh Radit, bahkan mereka bisa keluar hari ini juga. Akan tetapi, melihat Zifana yang seperti ini membuat Delon mengurungkan niatnya. Delon akan menceritakannya lain waktu. Mengingat Zifana selalu menolak membicarakan mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Leo menatap ke arah lapas yang informasinya adalah tempat dimana kakak dan papa Zifana berada. Leo tersenyum sinis, membayangkan wajah Zifana yang ayu.
__ADS_1
"Kalian akan keluar dari sini, tapi kalian harus membantuku mendapatkan Zifana," ucapnya sambil tersenyum bangga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...