
"Andreas, kau vidio wajah keparat ini," ucap Delon kemudian segera berjalan ke arah keluar.
Andreas yang baru saja sampai tampak mengelus dada, tak sia sia sejak tadi dia merekam wajah Leo.
Kini dia mendekat ke arah Leo.
"Pergilah, tugasmu selesai," ucap Andreas. Leo menautkan alisnya kemudian pergi tanpa berkata apapun. Andreas segera cabut setelah berpamitan dengan Manda.
Gino kini menatap Radit, Vino, dan juga Nicho.
"Kau tak papa?" tanya Radit. Gino menggelengkan kepalanya.
Semua penghuni mansion tampak berkumpul, pesta memang telah berakhir, dan yang tertinggal dan menyaksikan kejadian di malam ini hanya keluarga dekat saja. Mereka tampak berdoa untuk kebaikan Zifana.
Tak menunggu lama, Mama Delon, Gisel dan juga Willy menyusul ke rumah sakit. Sedangkan yang lainnya menunggu di rumah dan menunggu kabar dari Delon nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Astagfirullah, sakit," ucap Zifana saat merasakan perutnya yang semakin tak karuan. Berkali kali dia menghela napas dan dikeluarkan dengan pelan.
Delon yang mengendarai mobil hanya bisa diam, bingung dia harus bagaimana. Gugup sekali, pantas saja dulu saat Vely lahiran tidak pernah melihat seperti ini. Ternyata memang Elia bukan anaknya.
Vely, dia dan suaminya telah meninggal, lalu bagaimana putranya yang yatim piatu? Bersama siapa dia? Bukankah saat ini sudah berusia 4 tahun? Hais kenapa jadi memikirkan Vely dan Steve?
Zifana tampak menatap Delon, keringatnya bercucuran keluar. Apalagi gaun yang dia pakai memang sedikit tebal sehingga membuatnya tampak gerah
"Astagfirullah," ucap Zifana lagi.
"Bersabarlah Baby," ucap Delon.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan seputar kenapa Zifana meminta foto wajah Leo. Akan tetapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat.
Delon membelokan mobil di pelataran rumah sakit, disana sudah ada Andreas yang memang mengendarai motor untuk sampai lebih cepat. Andreas juga sudah meminta pihak petugas kesehatan untuk segera bersiap.
__ADS_1
Setelah mobil benar benar terparkir dan berhenti, kini petugas kesehatan mendekat sambil membawa brankar. Zifana yang merasa kesakitan tampak dibopong ke atas brankar.
"Kau baik baik saja?" tanya Andreas pada Delon.
"Aku baik, apa kau tidak bisa melihat? Istriku yang kesakitan!" jawab Delon sedikit emosi. Andreas tampak kesal.
"Ndre, kau melakukan tugas dari Mas Delon tadi?" tanya Zifana yang kini tampak meringis kesakitan diatas brankar.
"Vidio?" tanya Andreas. Zifana menganggukan kepalanya.
"Mana," ucap Zifana.
Andreas mengulurkan ponselnya, seketika Zifana mengambil ponsel Andreas dan para petugaspun membawa Zifana ke dalam.
Delon dan Andreas tampak berpandangan, mereka benar benar tak tau apa penyebab Zifana seperti itu.
"Aku masuk, kau disini saja," ucap Delon pada Andreas.
Delon segera masuk, dia melihat dokter sedang memeriksa keadaan Zifana.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Delon yang kini melihat layar monitor yang menampakan bayi yang begitu lincah dan sehat.
"Jadi ibu Zifana terpaksa harus melahirkan bahinya dengan prematur, karna kondisi bayi sudah memasuki jalan lahir," ucap dokter.
Zifana dan Delon tampak membelalak, Delon segera mendekat dan merengkuh pundak Zifana yang kini tampak menahan sakit.
"Tapi apa itu bahaya dok?" tanya Delon sambil terus mencoba menguatkan Zifana.
"Untuk bayi anda saya rasa resiko kelahiranya tidak ada masalah, dia lahir di minggu ke dua puluh delapan. Bayi yang lahir pada usia kehamilan 28–32 minggu akan mengalami perbaikan kondisi kesehatan secara bertahap, kemudian seiring waktu risikonya mengalami gangguan akan makin rendah. Untuk itu setelah dilahirkan, bayi prematur akan dirawat secara khusus di ruang NICU (neonatal intensive care unit). Perawatan akan dilakukan hingga organ dalam bayi berkembang sempurna dan kondisinya stabil," ucap dokter itu.
"Lalu bagaimana bisa ini terjadi Dok?" tanya Delon.
Dokter tersenyum, dia menatap Delon yang tampak menghawatirkan Zifana.
__ADS_1
"Banyak faktor yang menjadikan kelahiran prematur, stres bisa juga memicunya," ucap dokter.
Delon mengepalkan tangannya, kini nama Leo ada di benaknya. Dia yakin sejak awal Zifana banyak pikiran karna kemunculan Leo. Dia akan memberikan peehitungan nantinya.
"Aduh," keluh Zifana saat perutnya semakin menjadi. Air mata Zifana mengalir. Dokter yang melihat Zifana kesakitan tampak mendekat dan mengambil tindakan. Beliau meminta beberapa perawat segera masuk. Sedangkan Delon tampak berada di dekat Zifana.
Beberapa perawat membantu Zifana untuk berganti baju, kemudian menyiapkan beberapa alat. Ya, Zifana memungkinkan untuk melahirkan secara normal, bahkan pembukaan sudah mencapai maksimal.
Sejak tadi Zifana memang memandang wajah Leo di ponsel Andreas. Dalam benaknya benci, tapi dia mencoba memaafkan dan berucap dalam hatinya jika dia memaafkan semua kesalahan Leo. Tidak mau saja kebencian dalam hatinya membuat dia kesusahan dalam persalinan.
"Argh," Zifana tampak menahan sakit. Dia memejamkan matanya.
Delon mencoba menguatkan Zifana dan mencium beberapa kali.
"Berjuaglah Sayang, aku ada disini menemanimu, andai sakit itu bisa dipindahkan, aku memilih untuk merasakannya dibanding melihatmu seperti ini," ucap Delon. Matanya berkaca.
Deg
Zifana terisak, ucapan Delon begitu dalam menusuk ke dalam hatinya. Ditatapnya mata indah yang memancarkan cahaya bening itu. Diingatanya mengingatkan memori pertemuan dirinya dan Delon yang sangat menyakitkan.
"Maafkan, bila aku bukan istri yang sempurna untukmu," ucap Zifana. Dia mengulur tangannya mengusap air mata Delon yang luruh. Delon tak bisa beekata kata, dia menangis, berharap Zifana baik baik saja. Dia pernah terpuruk karna kehilangan Zifana, dan dia tak mau itu terjadi.
"Kamu istri yang sempurna bagiku, Sayang," ucap Delon.
"Arg," keluh Zifana.
"Ayo tarik Nafas, keluarkan, mengejan ya Bu. Bismilah," Dokter tampak membantu Zifana untuk proses kelahiran.
Zifana berjuang sekuat tenaga, air matanya mengalir saat bayangan papa seakan ada dipelupuk mata dan memberikan semangat untuknya.
"Sayang sedikit lagi," lirih Delon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1