
"Ya Allah, berikanlah yang terbaik," batin Zifana.
"Kak, tapi ini dimana?" Zifana yang merasa ini bukan diapartemen mengedarkan pandangannya. Dilihatnya beberapa pelayan berjajar rapi di depan pintu utama. Mereka membungkuk memberi hormat pada Tuan muda tercinta.
"Kak, turunkan aku!" ucap Zifana.
Delon mendadak berhenti dan menatap ke arah wajah istrinya yang tampak merah merona. Diturunkannya Zifana di depan pintu. Elia? Gadis kecil itu sudah masuk ke dalam mansion dengan bahagia.
Zifana dan Delon saling berpandangan, ditatapnya wajah Zifana yang tampak malu.
"Sudah aku bilang, kalo.... "
"Kak, jangan membuatku malu. Bukan aku dan kamu saja yang disini," kesalnya pada Delon saat menyadari dirinya ada di mansion utama. Bukan mansion miliknya sendiri.
Delon terkekeh pelan, dia maju dua langkah untuk mendekat ke arah istrinya. Tangannya terulur menatap wajah ayu yang kini melepaskan maskernya.
"Oh, jadi kalau hanya kita berdua boleh?" tanya Delon dengan senyum nakalnya.
Zifana membelalakkan matanya, bagaimana bisa dia terjebak dalam perkataanya sendiri?
"Maksud aku ...."
"Kenapa masih diluar? Kenapa kalian tidak segera masuk?" tanya mama Amel yang tiba tiba keluar. Zifana dan Delon menoleh dan menatap ke arah mama Amel yang tampak bahagia.
"Mama," ucap keduanya bersamaan.
Zifana mendekat dan salim kepada mertuanya. Mama Amel tersenyum dan mengusap punggung Zifana kemudian berangkulan sejenak dengan wanita cantik itu.
"Malam sayang, selamat datang kembali di sini," sapa mama Amel.
Zifana tampak haru mendapatkan sambutan begitu hangat dari mama mertuanya.
Delon tampak memperhatikan dua wanita istimewa yang sedang bercengkerama itu. Akrab sekali, Delon semakin yakin jika memang ada kongkalikong antara istri, mama, kakek, bahkan andreas juga, untuk tidak memberi tau keberadaan Zifana waktu itu. Gisel? Kenapa adek kesayangannya itu tak mau memberi taunya? Apa dia juga tidak tau apapun? Delon tampak bertanya tanya dalam hati.
"Jadi kalian seakrab ini?" tanya Delon sambil menyedekapkan tangan di depan dada.
Kedua wanita itu menoleh dan menatap ke arah pria tampan yang kadang sangat mudah untuk dibodohi itu.
"Zifa, sebaiknya kita masuk. Kakek menunggu di dalam, mama juga sudah menyiapkan makan malam untuk menyambutmu," ucap mama Amel seolah mengabaikan Delon dan lebih memperhatikan menantunya. Mama Amel merengkuh pinggang Zifana dan mengajaknya masuk ke dalam.
__ADS_1
Zifana dengan senyumannya menurut saja dengan wanita paruh baya yang berstatus sebagai mertuanya. Wanita yang dulunya sangat ketus, tapi ternyata sangat hangat dan berhati lembut.
Delon mengikuti langkah dua wanita itu, lalu dimana adik kesayangan yang juga wanita istimewa baginya itu?
Mereka telah sampai di ruang makan, terlihat Elia dan kakek Wilan sedang bercengkerama. Ya, sejak kepergian Vely dari mansion utama, mama memang mengajak kakek untuk tinggal kembali di mansion utama. Mengingat kakek yang semakin tua dan butuh perhatian lebih dari putra semata wayangnya.
"Assalamualaikum kek," sapa Zifana saat sampai disana. Segera Zifana bersaliman dengan kakeknya. Kakek tampak antusias menyambut cucu menantu dan juga cucunya yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam Zifa, selamat datang kembali di keluarga Wilantama," jawab kakeknya.
Zifana tersenyum, jadi Delon mengajaknya kesini karna ada makan bersama seperti ini? Zifana tampak bahagia.
"Terimakasih Kek," ucapnya.
"Malam kek," Delon merangkul kakeknya sejenak. Mereka tampak mengambil tempat dan duduk ditempat masing masing.
"Akhirnya kalian datang, kakek bahagia melihat kebahagiaan kalian. Semoga hubungan kalian selalu bahagia, langgeng, tidak ada pertengkaran lagi. Jikapun ada, semoga terselesaikan dengan baik," ucap kakak.
Zifana, Delon, mama tampak diam dan mendengar penuturan kakek.
"Kakek harap kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah, walau dulunya mungkin pernikahan kalian terjadi karna sebuah keterpaksaan. Tapi, saat ini kakek rasa bertemunya kalian lagi karna sebuah takdir yang digariskan karna kalian ditakdirkan untuk bersama, mungkin masih ada kecanggungan, masih ada kesal, masih ada marah, tapi kakek yakin, ada cinta diantara kalian," ucap kakek lagi.
Kakek menerawang jauh, mengingat nenek yang sudah lama pergi. Melihat Delon dan Zifana, mengingatkannya pada masa muda yang mengalami banyak rintangan dalam pernikahan.
"Saling memaafkan, belajar dari kesalahan, dan memperbaiki adalah cara untuk menjaga keharmonisan kalian, niatkan semuanya hanya untuk beribadah kepada Nya," lanjut kakek lagi.
Zifana dan Delon saling melirik, Delon yang berada di samping Zifana mengulur tangannya ke arah Zifana, menggenggam erat tangan Zifana yang kini tampak berkaca.
Zifana merasakan kedamaian mendengar penuturan kakek, hatinya seakan terkoyak oleh ucapan kakek. Matanya berkaca. Jika tadi masih ada kebimbangan untuk memaafkan Delon, maka saat ini dia yakin. Semuanya dia sandarkan pada Sang Maha Pembolak balik hati manusia. Semuanya dia lakukan untuk beribadah kepadanya.
"Ya Allah, aku putuskan untuk kembali dalam rengkuhan tangan suamiku. Ridhoilah, agar kami bisa menjalankan ibadah ini dengan baik," batin Zifana.
"Sebaiknya kita makan, kakek sudah terlalu banyak ngomong," ucap kakeknya dan disambut gelak tawa mereka semua.
"Mana anak gadis mama?" tanya Delon ketika tidak melihat Gisel ikutan makan malam.
"Dia pergi sejak sore, ada kepentingan katanya. Palingan bentar lagi juga pulang," ucap mamanya.
Delon menganggukan kepalanya, Zifana hanya mendengar, tidak berbicara atau bertanya walau penasaran, mungkin dia juga akan segera bertemu juga dengan adik iparnya itu.
__ADS_1
Mereka segera memulai makan malam. Mereka menyantap makanan dan menikmati makan malam yang hangat itu.
Elia? Gadis kecil itu asik dengan dunianya, makan dengan lahab disuapi bi Nur.
Beberapa saat kemudian, mereka telah menyelesaikan makan. Mereka tampak mengobrol dan bercengkerama dengan bahagia, sambil menunggu datangnya Gisel yang tak kunjung muncul.
Pada akhirnya Delon dan Zifa yang sudah lelah memutuskan untuk ke kamar. Elia juga menuju ke kamar bersama mama Amel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Delon membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Zifana untuk masuk. Zifana melangkah pelan, pertama kali dia kesini berada di kamar tamu. Bahkan di malam setelah pernikahan dia ada di apartemen.
Zifana mengedarkan pandangannya, jika kamar ini kamar Delon, bukankah ini adalah kamar bersama Vely? Delon yang menyadari sesuatu tampak mendekat ke arah Zifana.
Delon memeluk Zifana dari belakang dan menempatkan dagunya di pundak Zifana. Zifana terkejut dan berdiam.
"Disini kamar utama milikku sebelum menikah dengan Vely, kamarku dengan Vely ada di pojok sana. Dan sekarang sudah berubah menjadi gudang," ucap Delon.
Entah kenapa Zifana merasa lega, dia membalikan badanya dan menatap ke arah Delon yang kini menatapnya dengan lembut.
"Zifa aku mencintaimu, aku akan berusaha menjadi suami yang baik setelah dulu aku menyakitimu," ucap Delon.
Zifa tersenyum, tapi untuk sekedar membalas kata cinta Delon lidahnya seakan masih susah. Walau begitu, dipastikan cintanya ada untuk Delon.
Delon yang berharap ucapan cintanya tersambut oleh bibir Zifana hanya bisa bersabar lagi saat kata sambutan tidak kunjung keluar.
Delon mengehela napas panjang, mungkin Zifana masih butuh waktu. Yang jelas dia merasakan, jika sikap Zifana sudah hangat, tidak dingin seperti sebelumnya.
"Kak ayo shalat isya, nanti lekas tidur. Aku lelah," ucap Zifana seolah tak mau ada hal lain yang terjadi diantara mereka.
Delon menganggukan kepalanya.
"Hem, tapi aku mau kamu melakukan sesuatu," ucap Delon.
Zifana menautkan alisnya. Pasti aneh aneh, Zifana.
"Apa?" tanya Zifana.
Delon mengambil sesuatu di saku celananya, memberikan sesuatu yang dibelinya dari apotik saat perjalanan pulang tadi, ketika Zifana lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa coba tebak? wkwkwkwk