Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)

Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)
IKTD. Pelukan setelah sekian lama


__ADS_3

Gisel semakin menundukkan kepala, disini dia yang salah banyak. Malu? Pasti. Lalu, bagaimana dengan hubungan dirinya dengan Willy nantinya?


"Aku..."


Gisel tampak menatap ke arah Mama Tina yang menjelaskan. Lalu, pandangannya tertuju pada Zifana.


Keduanya beradu tatapan sendu, keduanya mengalirkan air mata. Sekian lamanya, dan itu karna pikirannya yang salah.


"Zie maafkan aku," ucap Gisel. Dia berdiri, air matanya meleleh.


Zifana tersenyum, air mata yang ditahan sejak tadi tampak tak mau tertahan lagi. Luruh, membasahi pipinya. Zifana berdiri, keduanya berjalan dan saling menuju hingga kini keduanya keduanya saling berhadapan. Saling bertatapan, dan keduanya saling berangkulan.


Keduanya melepas rindu, membuang ego yang menjadi tembok pembatas diantara keduanya dulu.


"Zie maafkan aku," ucap Gisel lagi. Air matanya membasahi pipinya.


"Maafkan aku juga yang tidak pernah menjelaskan hubungan keluarga aku dan Willy. Kau tau, dia malu punya saudara sombong sepertiku," canda Zifana disela isak tangisnya.


Gisel terkekeh, mereka saling berangkulan erat. Tangis haru menyambut kebersamaan ini.


Delon tampak lega, jadi seperti ini hubungan kedua wanita itu? Lalu bagaimana bisa tidak mengenal Zifana dan Willy sejak dulu jika mereka adalah sahabat Gisel? Mareka juga tak tampak di hari pernikahannya dengan Vely. Delon masih mengamati keharuan ini, begitu pula Willy, mama Amel, Mama Tina dan juga kakek.


"Zie, jangan hiraukan celoteh manusia tak peka itu. Sekarang kau jauh lebih baik. Bahkan kau sekarang menjadi hamba yang taat, sabar, aku harus banyak belajar darimu," ucap Gisel.


"Iya, aku tidak akan menghiraukan manusia sepertinya. Kau berlebihan jika menilaiku terlalu baik, aku masih belajar, kita belajar bersama, adik ipar," ucap Zifana.


Gisel seperti diingatkan jika sekarang yang dia peluk bukan sekedar sahabat, tapi juga kakak ipar.


"Iya. Siap kakak iparku yang cantik, bahkan kau juga sangat pandai membuat dunia kakakku jungkir balik. Kau ingat, dulu saat aku mengundangmu di pernikahannya. Kau bilang bisa bahaya jika bertemu, karna kau akan membuatnya bertekuk lutut dihadapanmu? Ternyata kau membuktikan ucapanmu, bahkan tanpa sengaja, tanpa tau dia kakakku kau melakukan itu. Mungkin memang jodohmu dengan lelaki menyebalkan sepertinya," ucap Gisel sambil terkekeh.


Zifana mempererat pelukannya, Gisel dan dirinya seperti saudara juga. Sayang, sangat sayang. Keduanya terkekeh bersama.


"Kau ingat itu? Bahkan aku hanya bercanda, mungkin kalau tau kakakmu segalak itu, seketus itu dan semenjengkelkan itu aku tidak akan pernah mengatakan hal itu," ucap Zifana lagi.


"Tapi anehnya dia luluh padamu, mungkin jika kau sombong seperti dulu akan setiap hari bertengkar," celoteh Gisel.


Delon dan Willy geregetan mendengar celoteh dua wanita yang saat ini sedang melepas rindu itu. Apa apaan ini? Bagaimana bisa Zifana dan Gisel membicarakan keburukannya dimasa lalu?


"Aku memang sombong dihadapannya, tapi sesombongnya aku, dia menolongku. Menyelamatkan nyawaku saat itu, bahkan sekarang dia menyayangiku," ucap Zifana.


Delon merasa hangat mendengar celoteh Zifana pada Gisel. Haru? Pasti, Zifana belum pernah mengatakan cinta, tapi Delon merasakan cinta Zifana menembus hatinya tanpa diucapkannya.

__ADS_1


Delon dan Willy menoleh, keduanya saling bertatapan. Saling berpandangan.


"Apa kau ingin juga memelukku seperti itu Tuan Delon? Kau banyak salah paham padaku dan banyak pula pikiran jelek kepadaku, calon kakak ipar," ucap Willy sambil tersenyum mengejek.


Delon mengepalkan tangannya, ya, dia bersukur setelah mengetahui hubungan Willy dan Zifana karna hubungan persaudaraan. Tapi apa bisa dia tidak emosi nantinya kalau punya adik ipar sesongong Willy?


"Oh ya, selain aku adik iparmu. Kau juga adik ipar karna telah menikah dengan adikku Zifana. Akan ada hukuman yang harus kau jalankan karna menikah dengannya tanpa memberi tauku," ucapnya lagi.


Delon tersenyum sinis dan menatap Willy dengan tajam.


"Apa yang aku lakukan tidak ada sangkut pautnya denganmu, dan juga sebaliknya Tuan William Gerald Tanubrata yang terhormat," ucap Delon kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Zifana dan Gisel yang sudah saling melepaskan pelukan.


"Kau yakin itu?" tanya Willy.


Delon tak menjawab.


"Kau lihat nanti," ucap Willy.


Kakek, Mama Amel, mama Tina tampak menghela napas lega. Pada akhirnya semua bisa teratasi. Bahkan kesalah pahaman mereka sudah berakhir.


"Alhamdulillah, kakek seneng lihat kalian akur seperti ini," ucapnya.


"Lalu bagaimana dengan Lamaran yang diajukan? Kau menerimanya Gie?" tanya Willy dengan berdiri. Dia mendekat ke arah Gisel dan Zifana.


Zifana mundur beberapa langkah sehingga Willy bisa berhadapan dengan Gisel.


Gisel tampak gugup, baru juga dia tau Willy ternyata mencintai dirinya juga. Lalu apa semudah itu dia menyerahkan cintanya?


Gisel tampak menatap ke arah Delon yang kini tampak terkejut karna Willy ada disana.


"Jangan meminta pendapatnya, dia tak ada urusannya dengan kehidupan kita," ucap Willy sambil tersenyum menang.


Delon tampak kesal, Zifana terkekeh. Pasti suaminya yang kaku itu tak bisa menerima canda Willy yang emang gila.


Mama Amel, kakek, mama Tina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.


Delon berdiri dan mendekat, dia hampir saja mengeluarkan kekesalannya. Tapi Zifana menggenggam tangannya, mengusap dada bidangnya. Keduanya bertatapan dan saling menatap teduh.


"Biarkan Gisel menentukan hidupnya, kau memang kakaknya, tapi dia punya hak untuk bahagia," ucap Zifana.


Delon yang sempat kesal tampak menganggukan kepalanya, dia tau Willy hanya bercanda.

__ADS_1


"Gie, beri aku kesempatan, menikahlah denganku, jadilah ibu untuk anak anakku," ucap Willy penuh harap. Willy mengulurkan sebuah kotak perhiasan pada Gisel. Tak ada canda dalam wajahnya seperti tadi, kali ini dia fokus dan serius.


Hati Gisel membeku, air mata membasahi pipinya. Apa Willy jodohnya? Dia memejamkan matanya.


Delon terharu, dia melirik ke arah Zifana yang antusias menyaksikan lamaran ini. Zifana tampak harap cemas. Delon juga sama, dia merutuki dirinya sendiri. Dulu, dia tidak memperlakukan Zifana seromantis ini ketika memintanya menikah dengannya. Menyesal? Sangat. Delon meraih pinggang Zifana, sehingga keduanya merapat. Keduanya menyaksikan dan menantikan jawaban Gisel.


Mama Amel, Mama Tina dan kakek juga harap cemas.


"Gie," panggil Willy.


Gisel membuka matanya, pandangan matanya mengedar, menatap kakak kakaknya, mama mamanya, dan kakeknya, seolah meminta restu


Gisel menatap ke arah Willy dan menatap ke arah lelaki tampan berusia 27 tahun itu.


"Bismillah, aku berharap ini memang jalanku, Ya Rob," batin Gisel.


"Bismillah, aku terima pinanganmu," ucap Gisel.


Willy tersenyum dan sontak meraih Gisel dalam pekukannya. Beberapa tahun dia menunggu momen ini, sekarang bahagia tak terkira.


Delon dan Zifana sontak juga berpelukan erat, mendengar jawaban Gisel membuat hatinya seakan lega.


Kedua mama dan kakek juga menghela napas lega.


Gisel mendorong Willy dan menatap Willy dengan wajah merah meronanya.


"Aku istirahat dulu," ucap Gisel sambil menatap Willy, mama dan kakek.


"Iya sayang," ucap mereka bersamaan.


"Oh malam ini kita habiskan malam bersama Zie, kita bercerita. Kak, aku pinjam Zifana," ucap Gisel sambil menarik Zifana.


Zifana seolah berpamitan dengan yang lainya.


Delon tampak kesal, bagaimana bisa guling hidupnya di pinjam? Padahal dia baru juga menemukannya kembali.


Willy? Lelaki itu tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah," lirihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2