
"Zifa," kejut Delon saat Zifana hilang kesadaran dan kini jatuh dalam rengkuhannya.
Segera Delon mengangkat tubuh Zifana yang lemas, dia menatap wajah pucat Zifana. Kepanikan tampak dalam benaknya. Bagaimana bisa Zifana seperti ini? Apa hanya dengan bertemu Gino membuat Zifana sampai seperti ini?
Delon berjalan ke arah mobil, Nada dan juga Gisel tampak mendekat dan menatap Zifana dengan panik.
"Kak, kenapa dengan Zifa?" tanya Gisel.
"Aku juga kurang tau, sebaiknya aku membawanya pulang ke apartemen. Sepertinya dia butuh istirahat," ucap Delon.
"Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit De?" tanya Nada yang menghawatirkan keadaan Zifana.
"Biar dokter keluarga yang menanganinya," sahut Delon. Jarak apartemen dari sini memang tidak jauh, dia berharap Zifana bisa istirahat dengan tenang di apartemen.
Gisel dan Nada mengangguk, segera Gisel membuka pintu mobil kakaknya. Delon segera menempatkan Zifana ke mobil, kemudian dia berlari kecil ke arah kemudi dan segera menancap gas mobilnya.
Gisel dan Nada saling menatap, merekapun bisa bernapas dengan lega karna Zifana kini sudah ditemukan setelah satu jam tak ada kabar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon menatap ke arah Zifana, rasa khawatir masih saja merayap di hatinya. Dia mengulurkan tangan, mengusap wajah cantik yang kini telah terbaring diatas ranjang.
Keadaan Zifana sudah membaik dibandingkan tadi, hanya saja dia belum sadar. Kata dokter Zifana kelelahan, hingga membuat perutnya sedikit kram.
Delon mengulurkan tangannya dan mengambil ponselnya. Dia menekan tombol hijau dan membuat panggilan pada Andreas.
"Halo bos," sahut Andreas di sebrang sana.
"Ndre, Zifana pingsan. Tadi dia bertemu Kak Gino, tapi aku pikir bukan hanya itu yang membuatnya seperti ini. Bisa kau menyelidiki hal ini?" tanya Delon pada Andreas.
"Dimana lokasinya?" tanya Andreas.
__ADS_1
"Sekitar Sheyna bontique," ucap Delon.
"Oke, laksanakan," ucap Andreas.
Delon menutup ponselnya. Ditatapnya wajah Zifana yang masih dalam tidur lelapnya. Delon mengusap pipi Zifana, mengecup pelan puncak kepala istri yang sangat dia cintai.
"I Love you," lirihnya.
...****************...
Andreas menutup ponselnya, dia menatap ke arah wanita yang kini tampak terdiam. Wanita yang selalu bercekcok denganya karna urusan pekerjaan di Sakura grup. Akan tetapi, sepertinya akhir akhir ini mereka tampak akrab dan sering pergi berdua, meskipun alasanya juga karna pekerjaan.
"Ada apa?" tanya Manda.
"Zifana pingsan, Delon memintaku untuk mencari tau penyebab Zifana seperti ini," ucap Andreas.
Manda menganggukan kepalanya, dia menutup berkas yang ada di atas meja.
"Ya, sekarang mereka berada di apartemen," ucap Andreas.
Manda tampak panik, pasalnya dia tadi diminta Zifana untuk menyusul ke sana untuk pengukuran baju keluarga. Tapi dia menolak karna masih ada pekerjaan. Kalau dia kesana dan menemani Zifana, mungkin saja tak akan terjadi seperti ini. Pikir Manda.
"Oke, sebaiknya kita akhiri pekerjaan hari ini Ndre, aku akan menjenguk Nona Zifana. Dan kau, sebaiknya kau segera melakukan perintah Tuan Delon," ucap Manda.
Wanita cantik itu memberesi tasnya kemudian berdiri. Andreas juga berdiri.
"Aku permisi Ndre," ucap Manda, hampir saja Manda melangkah, akan tetapi tangan Andreas tampak menghentikannya.
Keduanya tampak berpandangan, menyadari telah lancang, Andreas segera melepaskan tangan Manda.
"Maaf," ucap Andreas. Manda tampak mengangguk canggung.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya kita kesana bersama? Tadi kau kesini bersamaku," ucap Andreas.
"Aku bisa naik taksi," jawab Amanda.
"Tapi sayangnya aku keberatan," ucap Andreas. Manda menautkan alisnya.
"Apa maksudmu?" tanya Manda.
"Karna aku selalu membantumu, kau harus gantian membantuku untuk melaksanakan perintah Delon," sahut Andreas.
"Kau meminta imbalan?" kesal Manda.
"Terserah apa katamu saja," ucap Andreas sambil melangkah pergi.
Amanda tampak terdiam, tak tau saja dengan sikap Andreas yang berubah ubah itu.
"Ndre, tapi aku...."
"Tidak ada pnolakan," sahut Andreas.
"Oke, tapi untuk membantumu tidak gratis," sahut Manda. Dia akan minta diantar pulang sekalian nanti, karna kalau harus ikut Andreas dulu pastinya dia akan pulang kemalaman. Dan di daerahnya tak ada lagi kendaraan yang lewat.
Andreas yang semula berjalan, kini menghentikan langkahnya. Dia memutar tubuhnya dan menatap Manda yang juga memandangnya.
"Kau tenang saja, imbalannya seperangkat alat shalat dibayar tunai," ucap Andreas kemudian menggenggam tangan Manda dan ditariknya menuju ke mobil.
Manda membelalakan matanya, wajahnya bersemu merah. Apa apaan Andreas? Ditatapnya Andreas yang terus saja menariknya. Jantungnya berdetak tak karuan.
Andreas juga merasakan hal yang sama, dia berusaha untuk tenang. Setelah tak bisa mengungkap perasaanya pada Gisel, sepertinya membuka hati untuk wanita lain tak ada salahnya. Bukankah setiap manusia berhak bahagia?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1