
Diraihnya Zifana dalam dekapannya, Zifana menangis disana. Dia bahagia, haru, tapi juga kesal.
"Diamlah, jangan menangis lagi," ucap Delon sambil mengusap puncak kepala Zifana
Zifana menghela napas panjang, yang dia rasakan saat itu bersama Delon adalah sebuah kenyamanan dan juga bahagia saat menjadi milik Delon seutuhnya. Bahkan untuk yang pertama kali baginya. Lalu, Delon mempertanyakan semuanya dan seolah menuduhnya berhubungan dengan orang lain? Sangat menyakitkan.
"Kamu meragukanku? Meragukan darah dagingmu?" tanya Zifana.
Delon melepas pelukannya dan menatap ke arah wanita cantik yang sangat dicintainya itu. Wanita hamil yang sangat sensitif itu.
"Tak ada alasan untuk ragu, karna saat itu aku yang berhasil membobol gawang rapat milikmu," ucap Delon sambil mengingat masa itu. Masa dimana dirinya melihat tetesan darah yang berada di spray tempatnya dan Zifana melakukan hubungan suami istri.
"Lalu kenapa kamu tadi mempertanyakan hal itu?" kesal Zifana. Delon tersenyum sambil mengusap wajah ibu hamil yang masih tampak menggebu itu.
"Sudah aku bilang, aku hanya ingin memastikan bahwa kau sangat mencintai aku," ucap Delon.
"Walau kesombonganmu tak mau mengatakan padaku, tapi aku bisa merasakan cinta di hatimu, Sayang," ucap Delon sambil tersenyum lagi.
"Memangnya sepenting itu ungkapan cinta dariku?" tanya Zifana.
Delon terkekeh dan memegang kedua pipi Zifana dengan lembut.
__ADS_1
"Sangat penting bagiku, tapi jika tak mau mengatakan ya sudah, konsekuensi mempunyai istri sombong memang begini sepertinya," ucap Delon seolah mengajak bercanda.
Zifana tampak kesal, walau dia sedih, tapi baginya melihat Delon bisa meredam emosinya. Keduanya memandang bintang yang bertebaran di atas sana.
Deringan ponsel Delon terdengar, panggilan dari kakek wilan dia dapat, segera lelaki tampan itu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo assalamualaikum Kek, selamat Malam," ucap Delon.
Zifana yang semula menatap bintang di langit, kini menatap ke arah suaminya yang sedang mengobrol dengan seseorang di ponsel.
"Wallaikumsalam De, kamu ada dimana?" tanya kakek Wilan.
"Delon sedang di taman, bermesraan dengan Nyonya Delon," jawab Delon dengan senyuman indahnya.
Ditatapnya Delon yang berbicara dengan tenang, angin sepoi-sepoi menggerakkan rambut Delon, seakan membuat wajah Delon terlihat segar dan jelas. Zifana tampak menikmati pemandangan yang indah ini, pemandangan yang memperlihatkan wajah Delon yang baginya sangat mempesona.
Kakek Wilan terdengar terkekeh di sebrang sana.
"Kau bersama cucu menantu Kakek? Kakek dengar Dia sedang mengandung buyut kakek, kamu jaga baik baik dia De," ucap Kakek Wilan.
"Siap Kek," ucap Delon.
__ADS_1
"Ada apa kakek menelpon?" tanya Delon.
"Kakek hanya ingin memberitau, bahwa besok di ZA grup ada acara penyambutan ownernya. Kakek dan Andreas sudah mempersiapkan semuanya, jadi kakek mengabarimu untuk meluangkan waktu besok," ucap kakek Wilan.
"Kakek sudah menemukannya?" tanya Delon.
"Hem," jawabnya.
Delon menghela napas panjang dan menatap ke arah Zifana.
"Syukurlah kalau begitu, aku bisa membantu Zifana di sakura grup jika tidak lagi memegang ZA grup. Aku bisa memintanya untuk istirahat nantinya," ucap Delon.
"Kakek serahkan padamu untuk mengaturnya, kakek yakin kau tau yang terbaik untuk istrimu," ucap kakek Wilan.
Zifana menoleh, ada apa dengan ZA grup? Sedari tadi dia tak membuka ponsel. Apa kakek menghubungi dirinya tadi?
Zifana mengambil ponselnya di dalam tas, menghidupkannya sejenak. Beberapa pesan masuk dari kakek Wilan.
Zifa, kakek sudah tidak bisa menyembunyikan lagi identitas kamu di hadapan Delon. Persiapan diri kamu besok, kau datang di ZA grup sebagai owner. Kakek akan memperkenalkan kamu di depan semua orang nantinya.
Zifana membelalakan matanya, Netranya menatap ke arah Delon yang masih saja bercengkrama dengan kakek di sebrang sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...