Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)

Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)
IKTD. Baikan


__ADS_3

"Sejak kapan kakak disini?" tanya Zifana seolah mengintimidasi. Dia merasa Delon memeluknya, merasa juga Delon menaninya semalam. Lalu, bagaimana bisa ada Delon disini?


Delon tak menjawab, malah masuk ke dalam ruang kamar Zifana. Zifana mengikuti langkah Delon yang meletakkan sup hangat di meja sofa dekat jendela.


"Kak, bisa jawab aku?" tanya Zifana yang semakin penasaran.


Delon berdiri dan memutar langkahnya menatap ke arah Zifana, keduanya saling berhadapan. Keduanya saling bertatapan, mengarungi perasaan masing masing.


"Apa harus aku menjawabnya?" tanya Delon sambil tersenyum nakal.


Zifana membelabakan matanya, kesal sekali mendengar jawaban Delon yang seperti ini dan itu membuat emosinya meluap.


"Apa susahnya kakak jawab? Ini apartemenku, dan aku tidak bisa membiarkan orang lain masuk seenaknya, ini bisa membahayakan aku. Bagaimana jika...."


Delon meraih Zifana dalam pelukannya, memeluk erat wanita yang sangat dia cintai.


"Zifa please, jangan mengatakan seandainya kamu kenapa napa. Karna aku tidak pernah akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu, karna aku akan menjagamu Zifa. Memastikan jika kamu akan baik baik saja," ucap Delon.


Zifana merasakan sesak dalam hatinya, Zifa menepuk pelan dadanya yang terasa sesak. Dia menikmati hangat dekapan yang sama persis dirasakannya semalaman.


"Bi nur semalam aku introgasi. Dia tampak ketakutan, hingga aku memintanya untuk minta akses apartemenmu dari asisten rumah tangga yang ternyata anggota orang mansion juga," ucap Delon.

__ADS_1


Zifana memejamkan matanya, kasian juga dengan suaminya itu. Zifana menghela napas panjang, masih pada posisi yang sama. Dia tidak merubah sama sekali posisinya, dia sangat nyaman dalam dekapan hangat suaminya.


"Disini aku benar benar merasa bodoh, setelah dibodohi Vely. Aku dibodohi orang rumah, jadi apa sebenarnya mama, kakek, Andreas dan adikku tau semua ini dan sengaja membodohiku?" tanya Delon.


Zifana menghela napas panjang. Andreas, kakek dan mamanya memang tau. Bahkan mama berulang kali datang kesini meminta dirinya menemui Delon dan menjenguknya, meski dia tak mengiyakan. Tapi Adiknya? Apa Delon punya adik? Bahkan belum sekalipun dia bertemu dengannya.


"Kenapa mengalihkan pembicaraan kak? Kenapa muter muter tidak jelas? Aku hanya tanya sejak kapan?" Zifana mendorong Delon untuk menjauh, seakan tak memerlukan pelukan itu. Sudah lega sekali dia berada dalam pelukan Delon dan tidak perlu repot repot merengek atau meminta pelukan pada Delon.


Delon terkekeh pelan dan menatap Zifana dengan tenang.


"Sejak semalam, semalam juga aku menemani tidurmu," sahut Delon sambil mengusap pelan pipi mulus Zifana yang saat ini merah merona. Zifana memejamkan matanya dan memutar langkahnya membelakangi Delon. Jadi semalam benar benar ada Delon? Benar benar dipeluk Delon? Astaga, marah? Ah tidak. Bahagia? Ah entahlah. Zifana tersenyum, tapi dia malu.


Delon memeluk Zifana dari belakang, meletakkan dagunya di pundak Zifana. Harum semerbak wangi Zifana membuatnya terbuai. Memang sejak semalam dia menemani Zifana. Zifana yang lemas sudah memejamkan matanya, dengan telaten lelaki tampan itu memijat kaki Zifana. Memberi minyak di kakinya.


"Kenapa, apa kau marah?" tanyanya.


Zifa terdiam, apa begini kasih sayang Delon yang diberikan untuk Vely? Lalu, bagaimana bisa wanita itu menghianati jika kenyataannya Delon sangat hangat jika sudah memantapkan hatinya. Apa ini yang membuatnya tidak pernah bisa menerimanya dulu? Dia bukan Casanova. Tidak bisa melepas dan menerima dalam satu waktu.


Zifana merasakan sesak, mungkinkah dia memaafkan Delon? Apa Delon akan tetap mempertahankan dirinya saat nanti ada wanita lain hadir dalam pernikahannya? Delon punya hati yang sebenarnya sangat tulus dia rasakan.


Zifana membalikan tubuhnya, keduanya saling menatap. Zifana mencoba mengenali Delon, mencoba memahami Delon. Satu hal yang dia pegang dan pernah dia rasakan. Bahwa ketika Delon menambatkan pada satu hati, maka dia tidak akan pernah menerima hati lain untuk masuk seenaknya dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa pantas aku marah? Apa pantas aku kesal pada suami yang mencoba memberikan perhatian, kasih, sayang, cinta, pada istrinya?" tanya Zifana.


Delon membelalakkan matanya, bahagia? Pasti.


"Kamu tidak marah?" tanya Delon Antusias.


"Mungkin aku belum percaya sepenuhnya, tapi aku berusaha untuk memberikan kesempatan. Tuhan saja maha pemaaf, bahkan aku dulunya juga bukan orang yang baik. Mungkin ada baiknya kita memperbaiki diri, bersama sama belajar menjadi yang lebih baik," ucap Zifana.


Delon bahagia sekali dan memeluk Zifana dalam dekapannya lagi.


"Tapi bukan berarti kamu masuk semaumu," lanjut Zifana.


"Aku hanya menghawatirkanmu, aku mendengarmu memuntahkan isi perutmu," ucap Delon.


"Aku hanya tidak enak badan, sekarang lepas pelukanmu," ucap Zifana. Delon melepaskan pelukannya dan menatap istrinya.


"Kita baikan? Cukup memakan sup buatanku jika kau menyetujuinya" ucap Delon.


Zifana terdiam, biasanya dia tidak suka makan apapun akhir akhir ini. Demi kata baikan, dia meraih sup hangat yang ada di meja. Duduk dan menyantap makanan yang ternyata terasa sangat enak dilidahnya itu.


"Terimakasih Kak," lirihnya. Zifana tersenyum tipis.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku lahab sekali?" batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2