
Zifana membelalakan matanya, Netranya menatap ke arah Delon yang masih saja bercengkrama dengan kakek di sebrang sana.
Ingatannya tertuju pada pesan yang dikirim oleh kakek. Dia harus datang sebagai owner ZA grup? Diperkenalkan sebagai Owner? Zifana merasakan sesak yang mendera. Apa dia sanggup?
"Baik Kek, aku akan datang besok," ucap Delon sambil merangkulkan tangannya di pundak Zifana.
"Kalau begitu lanjutkan mesra mesranya," ucap kakek sambil terkekeh pelan.
"Siap Kek, assalamu'alaikum," ucap Delon mengakhiri perbincangan.
Delon menatap ke arah Zifana, dia tersenyum dan mengusap pelan pipi merah muda wanita yang kini berada dalam rengkuhannya. Dimasukannya ponsel miliknya ke dalam saku jas.
"Ini sudah malam, bagaimana jika kita pulang?" tanya Delon pada istri cantiknya itu.
Zifana melirik jam yang menunjukkan pukul 22.00 itu.
Zifana menganggukan kepalanya, keduanya berdiri. Disekitar mereka sudah sepi. Delon memakai sepatunya, begitupun dengan Zifana.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke mobil, tangan kekar Delon menggenggam erat tangan Zifana. Zifana melirik ke arah lelaki tampan di sampingnya. Lelaki yang memiliki utuh, jiwa dan raganya.
Delon membuka pintu mobil, mempersilakan pujaan hatinya untuk masuk. Sedang dirinya berlari ke arah kemudi.
Keduanya menikmati perjalanan malam ini menuju ke arah mansion yang dibelikan Delon untuk Zifana saat itu.
"Apa yang kau pikirkan, kenapa diam?" tanya Delon yang melihat Zifana tampak diam saja.
__ADS_1
"Tidak, ada yang aku pikirkan," ucap wanita cantik itu.
"Jangan berbohong, aku tau kau memikirkan sesuatu. Apa itu tentang Selena? Atau Gisel? Atau mungkin papa dan kakakmu?" tanya Delon.
Zifana tersenyum, padahal bukan semua itu yang mengganggu pikirannya. Tapi, bagaimana bisa Delon memikirkan sejauh itu?
"Bukan, aku hanya memikirkan perasaanmu," ucap Zifana.
Delon menautkan alisnya, perasaannya?
"Kenapa dengan perasaanku?" tanya Delon yang kini melihat Zifana tampak sumringah.
"Penasaran saja, bagaimana perasaanmu saat bertemu dengan owner ZA grup," ucap Zifana.
Delon mengerjabkan matanya beberapa kali, bagaimana bisa Zifana mempertanyakan itu? Apa istrinya itu cemburu? Delon terkekeh pelan, cucu sahabat kakeknya memang seorang wanita. Seperti apa? Bahkan dia belum tau, sebenarnya ada foto di sertifikat yang pernah diperlihatkan oleh kakek. Tapi dia menolak melihatnya sejak saat itu.
Zifana tampak terkekeh, dia bisa melihat kebodohan Delon saat tidak tau apapun. Jadi apa begini saat Vely membodohinya dulu? Pantas saja selalu lancar melakukan aksinya, Delon memang begitu sangat baik saat sudah percaya pada orang lain.
"Cemburu atau tidak ya," ucap Zifana sambil terkekeh pelan.
"Pasti cemburu," sahut Delon dan membuat Zifana semakin terkekeh.
"No, bagaimana bisa aku cemburu pada diriku sendiri," ucap Zifana.
Delon menatap ke arah Zifana, cemburu pada dirinya sendiri? Pandai sekali wanita cantik itu melucu. Tak menjawab apapun, Delon mengusap pelan wajah ayu Zifana.
__ADS_1
"Hanya kau yang ada di hatiku, Sayang," ucap Delon.
Zifana memejamkan mata indahnya, ucapan Delon membuatnya sangat bahagia.
Delon lebih mempercepat laju mobilnya. Hari sudah malam, dia ingin segera istirahat, tanpa mendebat ucapan Zifana yang yang dikiranya adalah lelucon belaka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Willy menatap ke arah meja yang menampakkan seorang gadis cantik tengah berkutat dengan beberapa berkas. Dia tersenyum melihat wajah cantik yang terlihat tenang itu.
"Mau aku bantu?" tanyanya ketika berada di depannya.
Gisel menoleh, Willy? Orang yang melamarnya semalam? Hais, kenapa jadi gugup? Gisel hanya sedikit tersenyum. Canggung? Pasti.
"Tidak perlu, sudah hampir selesai,". jawabnya.
Willy tersenyum kemudian duduk di kursi depanya. Netranya menatap ke arah wajah Gisel, dia bisa melihat dengan jelas rona merah wajah wanita cantik itu.
"Sepertinya aku sudah mau beranjak, maaf aku tidak bisa menemani," ucap Gisel sambil membereskan berkasnya.
Willy tau, Gisel menghindarinya, Ditariknya tangan Gisel yang kini bersiap untuk melangkah.
Keduanya saling bertatapan, sebuah rasa menyelinap masuk dalam hati masing masing.
"Gie, tolong jangan menghindari aku," ucap Willy dengan tenang, membuat Gisel tampak mengerjabkan mata indahnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...