Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)

Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)
IKTD. Jelaskan padaku


__ADS_3

Delon dan Zifana masih bengong dan masih tampak berpandangan malu, penuh tanya, canggung. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Yang jelas tak ada yang memulai pembicaraan.


"Aku,"


Keduanya bersama sama berucap, keduanya juga tampak gugup. Delon tampak terkekeh pelan mendapati Zifana yang seakan hilang keangkuhannya.


Zifana berdiri, menutupi kecanggungannya. Dia membalikan tubuhnya dan menatap ke arah Elia yang terlihat sangat bahagia. Kenapa hatinya dag dig dug tak karuan?


"Kata papa Devan di pelut mama Asti ada dedek bayi yang minta makan sesuka hatinya. Dedek bayi yang makan nggak mau habisin, dedek bayi yang kalau keinginannya tidak dituluti bisa ilelan, apa di pelut mama Zifa ada dedek bayi juga?"


Ucapan Elia mengiang di otaknya, membuat semburat merah menghiasi wajahnya yang kini tertutup kembali dengan masker.


Delon yang tampak bahagia berdiri juga, dia berjalan ke arah Zifana dan berdiri di samping wanita cantik yang kini tampak berbinar dalam kegugupan itu. Delon juga memandang Elia sambil memasukan kedua tangannya di saku celana.


Keduanya berdiri bersandingan, semilir angin kesana kesini memberikan sebuah kesejukan yang semakin membuatnya dalam kondisi yang membaik. Sangat membahagiakan jika ternyata Zifana hamil. Ketangguhannya sebagai lelaki tidak diragukan. Setelah merasa bodoh karna ulah Vely yang menipunya.


Zifana yang sadar Delon ada di sampingnya tampak semakin gugup, netranya masih menatap ke arah Elia yang antusias bermain dengan beberapa balita lainnya.


"Coba jelaskan padaku, apa dipelut mama Zifa ada dedek bayi yang minta makan sesuka hatinya. Dedek bayi yang makan nggak mau habisin, dedek bayi yang kalau keinginannya tidak dituluti bisa ilelan?" tanya Delon menirukan ucapan Elia. Wajahnya berbinar, netranya menatap ke arah sana, menatap ke arah Elia yang sangat bahagia.

__ADS_1


Mendapatkan pertanyaan seperti itu membuat wajah Zifana semakin merah. Setelah lama menahan rindu, pada akhirnya dia lega bisa bertemu dengan suaminya, dipeluknya, bahkan dia tau hal yang selama ini menjadi sebuah kesalahpahaman.


Lalu, dia juga baikan dengan suaminya. Dihujani berjuta kasih sayang dan cinta meski dia masih tampak cuek. Lantas, apa kehamilan juga telah menghampirinya? Apa ini hadiah dari sebuah kesedihan yang dibayar dengan kebahagiaan?


Baru dia sadari bahwa apa yang dia rasakan memang seperti tanda tanda kehamilan. Bahkan, merasa bahagia saat apa yang dia inginkan terwujud juga baru dia sadari. Zifana menghela napas panjang, dia menatap Delon yang kini masih saja menatap ke arah Elia.


"Mama Zifa belum bisa memastikan, karna Mama Zifa belum cek kedokter, bahkan mama Zifa juga belum mengeceknya dengan tes kehamilan, Sayang," lirihnya. Zifana menunduk, menjawab seperti ini membuat wajahnya semakin merah.


Delon menoleh ke arah istrinya, dia melangkah beberapa kali hingga kini dia berada di depan Zifana dan menatap ke arah istri cantiknya itu. Istri cantiknya yang angkuh dan ketus. Lalu, apa tidak mimpi memanggilnya sayang? Atau dia hanya memposisikan diri berbicara pada Elia? Delon sangat gemas sekali.


"Mau papa Delon bantu mengeceknya? Atau mengantar mama Zifa ke doktel? Papa Delon tidak akan kebelatan, Cinta," ucap Delon.


Zifana terkekeh, Astaga, alay sekali dia dan Delon saat ini. Zifana mendorong tubuh Delon hingga Delon menjauh. Zifana berjalan ke arah Elia yang kini juga berjalan ke arahnya.


"Aku berharap kamu hamil Zifa, aku berharap ada buah cinta kita yang meyakinkan dirimu untuk selalu berada disampingku dan tak akan pernah pergi lagi. Aku sangat mencintaimu," batin Delon.


Zifana yang berada bersama Elia tampak tertawa, dia memejamkan matanya mencoba memahami dirinya dan perasaannya.


"Ya Allah, jika aku dan kak Delon harus bersatu kembali dengan cara indahmu. Maka lapangkanlah hati hamba untuk memaafkan kesalahan dimasa lalu, menerimanya untuk kembali. Tuntun hamba untuk selalu menjadi hambamu yang lebih baik ke depannya," batin Zifana.

__ADS_1


"Mama, mama Zifa capek ya?" tanya Elia.


Zifana menggelengkan kepalanya, Elia bersorak dan melompat bahagia.


"Ye, Elia main lagi ya ma," ucap Bocah itu dan diangguki oleh Zifana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gisel Memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran mall di pusat kota. Setelah harinya disibukan dengan pekerjaan yang menguras tenaga di Wilantama grup, sepertinya dia harus bersenang senang di hari liburnya.


Ya, kesibukannya setelah Wisuda beberapa minggu lalu adalah membantu Delon di Wilantama grup. Hal yang sangat menjengkelkan ketika harus bekerjasama dengan Andreas, asisten pribadi kakaknya yang sangat menyebalkan dan tidak pernah sefrekuensi dengannya.


Gisel menghela napas dalam dalam, sampai saat ini belum sekalipun dia bertemu dengan Zifana. Zifana, orang yang pernah menjadi sahabat baiknya dan kini telah menjadi kakak iparnya. Masih ada luka yang membuatnya belum bisa untuk kembali bersua. Meski Zifana yang sekarang bukan Zifana yang saat itu, apa dia salah paham dulunya?


Dulu, Gisel memilih untuk pergi saat menyangka Zifana menikungnya dari belakang dan menguasai Willy, orang yang dia cintai. Lalu, apa yang terjadi di masa lalu jika kenyataannya Zifana menikah dengan kakaknya? Entahlah. Gisel tak mau memikirkan urusan yang membuatnya semakin stres.


Dengan cepat Gisel membuka pintu mobil, dan bersamaan dengan seseorang yang tengah lewat tepat disamping mobilnya terparkir. Membuat orang itu seketika berhenti dan menunggu munculnya seseorang yang baru saja keluar.


"Bisa lebih cepat sedikit Nona?" ucap lelaki yang tampak terhalang pintu mobil Gisel.

__ADS_1


Gisel menoleh dan menatap ke arah lelaki yang berdiri di depannya. Keduanya saling berpandangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2