
"Sayang sedikit lagi," lirih Delon.
Zifana menghela napas panjang, kemudian menganggukan kepalanya.
"Ayo tarik Nafas lagi Nona, sedikit lagi, keluarkan, mengejan ya Nona. Bismilah," Dokter tampak kembali membantu Zifana untuk memberikan aba aba.
"Bismilah," Zifana memejamkan matanya, tangannya kuat memegang telapak tangan Delon.
"Sayang, kamu bisa," lirih Delon disamping telinga Zifana.
"Siap Nona, satu, dua...ti...." ucap perawat yang ada di bawah.
Delon seolah memberikan dorongan dan....
"Oe, oek, oek,"
Suara tangisan bayi mengisi hening ruangan yang tadi penuh dengan ketegangan. Delon seketika mencium puncak kepala Zifana berulang kali. Delon mengusap peluh yang membasahi wajah dan dahi Zifana. Kali ini benar benar dia menyaksikan perang sahid yang dilakulan seorang ibu mempertaruhkan nyawa demi kelahiran putra putri tercintanya.
"Terimaksih sayang kamu telah berjuang," ucap Delon. Sungguh, air matanya mengalir, Delon mengusap air matanya.
Delon dan Zifana menatap bayi mungil yang sedang dibersihkan itu.
"Selamat Nyonya, Tuan, bayinya sangat cantik," ucapnya sambil menyerahkan baby kecil dengan gedong bayi berwarna merah muda itu.
Delon mengambil putrinya dari tangan dokter kemudian mengadzani dan mengiqomahinya. Sambil mengumandangkan adzan, ditatapnya bayi mungil yang wajahnya sangat mirip dengannya. Akan tetapi matanya berbinar indah seperti mamanya. Delon teesenyum bahagia, apapun jenis kelaminnya, dia akan menyayangi anaknya.
Setelah selesai, dokter meletakan baby kecil itu di atas dada Zifana. Zifana menatap wajah putri cantiknya, sangat mirip Delon. Akan tetapi binar mata indahnya mengingatkan dirinya pada papanya. Air mata Zifana mengalir deras.
"Papa memang tidak akan selalu ada di sampingmu, tapi papa bisa melihatmu," ucap papa saat itu dalam mimpi.
Zifana mengusap air matanya.
"Terimakasih papa," lirihnya.
__ADS_1
Setelah baby girl tampak lelah, kini dokter segera membawa baby girls ke ruang NICU. Baby girl akan di letakan di dalam kotak inkubator sampai keadaanya stabil. Walau tampak sangat lincah dan sehat, baby kecil itu memang disarankan untuk diinkubator untuk beberapa waktu karna kelahirannya yang prematur.
"Kami permisi dulu Tuan, Nona," ucap perawat. Zifana mengangguk, karna memang perawat dan dokter sudah selesai membantu dirinya membersihkan diri.
Delon menatap Zifana yang berbaring dengan tempat tidur agak tinggi. Delon mencium kening Zifana.
"Kamu haus?" tanya Delon. Zifana mengangguk.
Delon mengambilkan segelas air untuk Zifana.
"Dia cantik, seperti kamu, tapi mirip aku," ucap Delon sambil terkekeh. Delon mengusap lembut pipi Zifana.
"Dia mempunyai mata seperti papa," ucap Zifana.
"Tapi bagiku matanya seperti kamu," sahut Delon. Zifana terkekeh.
"Itu karna aku anak papa," ucapnya. Air matanya meleleh. Tak menyangka dia telah menjadi yatim piatu, hanya bersama Gino.
Delon merengkuh Zifana dan mengusap air matanya.
"Aku keingat papa, keingat mama, kakek, nenek, ternyaya aku yatim piatu," ucap zifana sambil mengusap air matanya.
"Ada aku, kak Gino. Mama, Gisel, kakek, kamu tidak sendiri," ucap Delon.
"Aku beruntung punya kalian," ucap Zifana.
"Jangan sedih lagi, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk baby kita?" tanya Delon.
Zifana menggeleng.
"Kamu sudah Mas?" tanya Zifana.
"Deandra Maharaya Wilantama, apa kamu setuju?" tanya Delon.
__ADS_1
"Deandra?" tanya Zifana.
"Hem, Delon and Aurora," ucap Delon.
Zifana memejamkan matanya, dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Manggilnya?" tanya Zifana.
"Raya, baby Raya," jawab Delon. Zifana mengangguk mantap.
"Sekarang aku ke depan dulu, sepertinya mama, Gisel dan Kak Gino ingin masuk juga," ucap Delon.
Zifana menganggukan kepalanya. Delon keluar, dan benar saja, mama, Gino dan Gisel memang gantian masuk untuk menemui Zifana. Mereka tadi sudah melihat keadaan baby girl.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon yang mengingat kelahiran prematur Zifana karna banyak pikiran dan stres tampak mengingat nama Leo, dia ingin menemui Andreas untuk memberi pelajaran pada Leo.
"Bagaimana Bos? Nona Zifa sudah melahirkan?" tanya Andreas.
"Dia baik baik saja sekarang, baby girl juga baik, tapi aku ingin kau melakulan sesuatu untuk Leo," ucap Delon dingin.
"Leo?" tanya Delon.
"Ya, kau hancurkan perusahaanya," ucap Delon.
"Memang apa salahnya?" tanya Andreas.
Delon tampak menatap Andreas dengan sorot mata tajam.
"Kau masih bertanya setelah dia datang sebagai tamu tak diundang dan membuat Zifanatertekan, takut, stres dan pada akhirnya melahirkan prematur?"
"Ndre, Leo salah muncul di pestaku, bahkan kemunculanya sejak dulu selalu mengancam Zifana. Dia sudah kamu ingatkan, dan dia tidak mengindahkan, dia harus dihukum," ucap Delon.
__ADS_1
Andreas memejamkan matanya, semua ini atas perintahnya. Bagaimana jika Delon tau? Astaga, kenapa jadi senjata makan tuan? Apa Delon malah akan menghancurkan dirinya? Pikir Andreas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...