
Di Sheyna Bontique, Gisel, Zifana dan Nada tampak berbincang hangat. Mereka sangat bahagia menyambut hari bahagia pernikahan.
"Terimakasih Nada, sudah memberikan pelayanan terbaik pada kami, terimakasih juga karna kamu juga memberikan hadiah luar biasa ini," ucap Zifana.
"Sama sama Zifa, Gisel, kita adalah keluarga. Aku harap kalian bahagia dan puas," ucap Nada.
"Kamu benar Nad, kami sangat bahagia," sahut Gisel.
Zifana dan Nada tersenyum mendengar sahutan Gisel. Zifana dan Gisel, mereka tampak senang sekali diberikan hadiah dari Nada untuk gaun dan seragam keluarga. Sebenarnya ingin membuat gaun rancangannya sendiri di Zif bontique. Akan tetapi waktu yang begitu singkat, dan juga tenaga yang tidak memadai karna kondisinya yang hamil, Zifana memutuskan untuk menerima tawaran Nada. Karna Zif bontique pun, saat ini sedang mengerjakan banyak pesanan gaun pengantin.
"Padahal, jika bercermin pada zaman dulu. Aku tidak memberikan apapun di pernikahanmu dengan Marvel. Aku hanya memberikan ancaman buatmu Nad," ucap Zifana terlihat bersedih.
"Apa yang kamu katakan Zifa, yang berlalu biarlah berlalu. Lagi pula aku sudah bahagia bersama Mas Marvel, kamu juga sudah bahagia dengan Delon. Yang terpenting sekarang, kamu sudah lebih baik, itu adalah hal yang membahagiakan buat kami," ucap Nada.
Zifana tersenyum, untung saja Nada orang yang baik. Bahkan, selain memaafkan, Nada mau membantunya untuk berhijrah. Dari dirinya yang sangat angkuh, tidak punya hati, sekarang menjadi manusia yang lebih baik, meski masih jauh dari kata sempurna.
__ADS_1
Kini, kembali bayangan papa dan kakaknya berada di pelupuk matanya. Banyak sedikit, apa yang dilakukan Zifana di masa lalu adalah sebuah pengaruh yang diberikan oleh papa dan kakaknya.
"Oh iya, aku ke toilet sebentar ya," ucap Zifana. Rasa sesak memenuhi hatinya. Dengan berwudhu, mungkin akan mengurangi kesesakan dalam hatinya.
"Ya, hati hati Zie," ucap Nada sambil mengamati Zifana yang berdiri itu.
"Siap bos," sahut Zifana.
Gisel dan Nada saling berbincang, sedangkan Zifana memisah dari mereka dan menuju ke toilet.
Zifana menatap dirinya di cermin, hatinya terasa sesak. Bayangan papanya seakan menghantuinya.
Air mata Zifana mengalir. Diusapnya air mata yang jatuh disana. Apa yang harus dia lakukan? Dia rindu, tapi rasa takut masih bersarang dalam dirinya. Bagaimana jika papa dan kakaknya masih berhubungan dengan Mr Lee? Bagaimana jika mereka tidak beeubah?
Pikiran Zifana berkecamuk, resepsi pernikahan sudah sangat dekat. Dulu, disaat pernikahan, tak ada satupun dari keluarganya datang dan mendampinginya. Sekarang, dalam resepsi pernikahannya, apa harus dia sendiri lagi? Air mata terus mengalir.
__ADS_1
Isakan tangis Zifana terdengar, hatinya sangat sesak. Ingin rasanya memeluk papanya, kakaknya, berbagi kebahagiaan. Tapi sanggupkah dia bertemu dengan dua orang yang sangat dicintai, tapi juga menoreh luka dalam benaknya?
Zifana menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya untuk tetap tegar. Sepertinya menelpon Delon adalah hal yang tepat. Beberapa kali suaminya menawarkan untuk bertemu papanya, bahkan membebaskan papa dan kakaknya.
Mungkin berdamai lebih baik, dia juga ingin papa dan kakaknya memakai seragam keluarga yang sama, tepat di hari resepsi pernikahannya nanti.
Zifana merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, meminta Delon untuk mempertemukan dirinya dan papanya. Membicarakan juga tawaran pembebasan papa dan kakaknya. Akan tetapi, dia tampak terkejut ketika tidak ada ponsel di dalam tasnya.
"Astagfirulah, ponselnya ketinggalan di mobil deh kayaknya. Pantes aja nggak dengar bunyi sama sekali," pikir Zifana.
Seketika wanita cantik itu mengusap sisa air mata di wajahnya, kemudian segera Zifana keluar dari toilet dan menuju ke arah mobilnya.
Zifana membuka pintu mobilnya, sangat lega saat dirinya mendapati ponsel ada di dalam mobilnya. Tangannya terulur untuk mengambilnya.
"Alhamdulilah," ucapnya.
__ADS_1
Zifana kembali menutup pintu, dia berbalik arah. Dia tampak terkejut saat melihat seseorang tampak berdiri di belakangnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...