
Delon mengepalkan tangannya, bagaimana bisa lelaki itu meminta nomor ponsel Zifana? Hati Delon seakan berkecamuk penuh emosi.
"Kau kenapa?" tanya Andreas yang melihat perubahan wajah yang terjadi pada Delon.
Marvel yang semula memberesi berkas, kini menatap ke arah Delon. Benar saja, wajah dari sahabat baiknya itu memang tampak tidak baik baik saja.
"Bagaimana perasaanmu jika ada yang meminta nomor ponsel istrimu?" tanya Delon sambil mengarahkan ponselnya pada Radit dan Andreas.
Andreas dan Radit tampak tertawa kecil, mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Sangat menjengkelkan, bagaimana bisa aku memberikannya," ucap Delon.
"Itu karna dia tak tau Zifana istrimu. Kau tinggal menolaknya jika tak mau memberikannya, lagi pula pasti itu untuk urusan pekerjaan," ucap Marvel dan di dengar antusias oleh Delon.
"Kau benar," jawabnya.
"Itu pentingnya melakukan resepsi dan mengumumkan pada dunia jika owner ZA grup adalah milikmu, kau tidak akan hawatir lagi ada yang merebutnya darimu," ucap Andreas.
"Tak mengajarkannya aku pun tau itu Ndre," kesal Delon.
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, lagi pula semua sudah terencanakan dengan matang bersamaan dengan resepsi pernikahan Willy dan Gisel," lanjut Delon lagi.
__ADS_1
Andreas tertunduk, memang dia pun sudah mengetahui akan hal itu, bahkan pernikahan Willy dan Gisel yang sempat membuatnya patah hati.
Undangan pernikahan sudah tersebar. Dan pastinya hanya keluarga besar dan kolega bisnis lama yang dia undang. Patner kerja baru seperti Leo? Dia belum sempat memberikannya.
"Kenapa kalian ribut? Aku tidak ada waktu menyaksikan perdebatan kalian. Aku harus pamit. Akan segera kirim orang ku untuk mencabut tuntutan. Dan ka De, segera beri balasan pesan pada patner barumu itu," ucap Marvel sambil tersenyum, kemudian dia melenggang pergi.
Delon menghela napas panjang dan masuk ke dalam mobil. Andreas melakukan hal yang sama.
Delon yang tak segera membalas pesan dari Leo dikejutkan dengan deringan ponselnya, segera Delon menatap layar ponselnya dan sedikit menautkan alisnya saat melihat kontak Tuan Leo memanggilnya.
Segera lelaki tampan itu menggeser tombol hijau dan mengangkat ponsel ke telinganya.
"Siang Tuan Delon," jawab suara di sebrang.
"Apa anda menelpon ingin mendapatkan nomor ponsel yang anda Minta, Tuan Leo?" tanya Delon tanpa basa basi.
Terdengar kekehan tawa di sebrang sana yang membuat dirinya semakin kesal.
"Ternyata kau sangat peka, Tuan. Jadi apa bisa kau memberikan nomer ponsel Nona Zifana padaku?" tanya Leo dengan kepedeannya.
Delon menghela napas kasar.
__ADS_1
"Jika untuk urusan pekerjaan, membuat kerja sama dengan perusahaan yang saat ini di kendalikan oleh Nona Zifana, alangkah baiknya anda datang ke kantornya dan datang dengan baik baik. Jika berurusan dengan ZA grup, bukankah urusan denganku tidak ada masalah? Aku yang menghendelnya sejak dulu," ucap Delon terdengar dingin, membuat kekehan tawa yang berada di bibir Leo berangsur menghilang.
Leo tampak mengepalkan tangannya, dia merasa Delon sedang menutupi sesuatu sehingga tampak susah sekali untuk memberikan nomor kontak yang pasti dia memilikinya. Atau ada hubungan sepesial diantara keduanya? Atau hanya sebatas atasan dan bawahan? Banyak pertanyaan di benak Leo.
"Oh, begitu? Terimakasih Tuan, aku merasa tak enak. Takutnya ada sesuatu diantara kalian, hingga kau bersikukuh untuk tidak mau memberikanya," ucap Leo seakan menyinggung pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.
Delon tampak bereaksi, dia menyadari Leo tengah mencari informasi. Delon terkekeh dan menghela napas panjang.
"Bagiku nomor ponsel adalah prifasi setiap orang, jika anda membutuhkan, anda bisa datang ke kantornya. Membuat janji, kemudian memintanya sendiri pada yang bersangkutan. Sepertinya semua sudah jelas Tuan Leo, selamat siang," ucap Delon kemudian mematikan ponselnya.
Leo mengepalkan tangannya, ada aura permusahan antara dia dan Delon saat ini. Leo menatap ke arah kontak Tuan Delon dan tersenyum sinis.
"Saat ini mungkin kita patner, jangan salahkan aku jika suatu saat nanti kau adalah salah satu musuh bagiku, Arzenio Delon Wilanntama," lirih Leo.
Delon tampak kesal dan meminta Andreas untuk segera berjalan. Pada saat itu, ponselnya kembali berbunyi. Dengan penuh emosi dia menggeser kembali layarnya, tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Ada apa lagi, bukankah semuanya sudah jelas?" sentaknya.
"Kenapa marah marah Mas? Kamu baik baik saja?" tanya suara merdu di sebrang sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1