
"Papa," ucap mereka bersamaan.
Segera Delon memanggil dokter, tak lama kemudian dokter datang dan mencoba untuk memberikan pertolongan dengan alat pemacu jantung. Tapi dokter tampak menggelengkan kepalanya.
Tangis Zifana pecah, Gino meraih Zifana dalam dekapnya.
"Inalilahi Wainnailaihi rojiun," ucap mereka dan hanya bisa didengar diri sendiri.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah SWT beekehandak lain," ucap dokter.
"Papa Kak, papa," histeris Zifana sambil menatap wajah papanya yang tampak tersenyum dan sangat tampan.
"Zifa papa sudah tenang, papa sudah tak sakit lagi. Dia juga bahagia diakhir hidupnya kita berkumpul sisini. Papa bahagia kamu datang menghantar kepergiannya," ucap Gino.
"Maafkan aku," lirih Zifana. Gino melepaskan pelukan Zifana saat dia dipanggil untuk mengurus sesuatu.
Delon mendekat dan dan meraih zifana dalam peluknya.
"Andai aku tidak keras kepala, andai aku tidak seperti ini. Mendengarkanmu dan mau membebaskan papa disaat itu, pasti papa tidak pergi secepat ini," ucap Zifana. Tangisnya terus berderai. Disaat itu juga Delon selalu mencoba untuk menguatkan.
__ADS_1
"Sabar sayang, ini adalah takdir. Papa bahagia sekarang, doakan beliau agar beliau tenang," ucap Delon. Zifana menganggukan kepalanya dalam dekapan Delon.
Selena mengikuti langkah Gino, tak tega saja melihat Gino yang sedang berkabung harus mengurus sendiri. Pada akhirnya wanita cantik itu menemani Gino.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berita duka kepergian Tuan Sinatria telah terdengar banyak orang, mereka berbondong bondong datang dan membantu acara pemakaman. Teman, sahabat dan keluarga semua berkumpul menghantarkan Tuan Sinatria di peristirahatan terakhir.
Kini di depan tanah merah bertabur bunga Zifana duduk termenung bersama dengan Delon. Gino sudah terlebih dulu pulang, kondisinya yang lemah membuat Gino diminta untuk pulang.
Keluarga lain? Mereka juga sudah pulang.
"Aku mau menemani papa," ucap Zifana dengan tangisnya.
Delon menunduk, dia mengusap wajah Zifana yang terus mengeluarkan air mata.
"Papa sedih jika melihatmu menangis," ucap Delon. Zifana terdiam, dia menghela napas panjang. Takut saja jika tangisnya semakin membuat papanya berat. Pada Akhirnya dia menatap ke arah batu nisan yang melukiskan nama papanya disana.
Papa, mungkin rindu tak berujung akan aku rasakan untuk kepergianmu. Tapi aku yakin papa bahagia di surga, Zifana mencoba ikhlas papa pergi. Hanya doa yang bisa zifa panjatkan pada Allah untuk papa, semoga dosa papa diampuni, amal baik diterima. Selamat jalan papa, Zifana menyanyangimu. Alfatihah. Amin. Batin Zifa.
__ADS_1
Zifana berdiri, dan menatap Delon yang kini menatapnya dengan sorot mata yang tenang.
"Kita pulang," ucap Delon.
Zifana mengangguk, mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan tanah merah bertabur bunga itu. Iringan doa selalu terpanjat untuk papanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Delon dan Andreas tampak saling berhadapan. Delon menatap Andreas dengan tenang. Dia sudah mengetahui siapa Mr Lee yang dimaksud oleh Zifana dari Vidio yang diberikan oleh Andreas.
"Leo berbahaya bagi kita?" tanya Delon.
"Tidak sebahaya itu, kita bisa mengendalikannya, sahamnya ada pada kita. Lagi pula kita punya beberapa bukti kejahatannya, kita bisa melakukan apapun untuk menghancurkan perusahannya," ucap Andreas. Delon menghela napas panjang.
"Kau datangi dia, beri peringatan untuk tidak lagi mengganggu Zifana. Jika tidak mengindahkan, lakukan apa yang bisa menjadikan perusahaannya hancur," ucap Delon dengan sorot mata dinginnya.
"Siap Bos," ucap Andreas. Lelaki itu berdiri dan segera meninggalkan Delon yang masih dalam suasana duka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1