
Delon menatap ke arah Leo, dia mengenal Zifana? Menipu? Apa yang dilakukan Zifana sehingga dia dikatakan menipu?
Delon tampak melirik waspada pada lelaki yang berada di hadapannya. Lelaki yang menatap istrinya penuh napsu, tapi kenapa menjelek jelekan nama Zifana?
"Tuan mengenalnya?" tanya Delon setelah dia menandatangani beberapa berkas dan memberikanya pada Andreas.
"Namanya Zifana Manda kan?" ucap Leo sambil menatap ke arah Zifana. Dia tampak terpesona dengan Zifana. Dulu, foto yang disodorkan papanya memang cantik. Tapi melihat saat ini Zifana memakai pakaian tertutup malah membuatnya semakin cantik dimata Leo, putra dari Mr Lee. Lelaki tua, tempat Tuan Sinatria hampir saja menjual Zifana.
Deg
Delon mengepalkan tangannya, nama Zifana disebut oleh lelaki di depannya membuat darahnya mendidih. Dia tak rela.
"Jangan menilai orang dari masa lalu, karna mungkin saat ini dia berubah dan anda tak tau," ucap Delon sambil menatap ke arah Leo yang masih saja menatap ke arah Zifana.
Mendengar ucapan Delon membuat Leo menoleh ke arahnya. Dia terkekeh pelan.
"Sepertinya anda sangat tegang Tuan Delon, aku hanya bercanda," ucap Leo.
Delon tersenyum tipis, kesal pada lelaki di depannya. Sepertinya dia harus menyembunyikan Zifana agar wanita hamil yang nakal itu berada di rumah dan tidak menjadi pusat perhatian dari lelaki lelaki ganjen seperti kliennya dan juga kliennya sendiri.
"Terimakasih atas pertemuannya Tuan Leo, sepertinya kita cukupi siang ini. Senang bertemu dengan anda, semoga kerja sama kita membawa kita pada kesuksesan," ucap Delon penuh wibawa, dia mengulur tangannya untuk berjabat tangan.
Leo tampak tak suka melihat Delon Wilantama, dia rasa ada yang tidak beres pada lelaki itu. Apa dia juga tertarik pada wanita yang telah dibelinya dan kabur itu?
Tak mau terlihat jahat, lelaki tiga puluh tahun itu membalas uluran tangan Delon.
"Terimakasih Tuan Delon, semoga kerjasama kita berhasil baik," ucapnya.
Mereka berdiri dan keluar dari restauran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nona," suara itu mengagetkan Zifana dan manda yang hampir saja beranjak.
Kedua wanita cantik itu berhenti di tempat. Mereka menunggu sang pemilik suara menghampirinya. Yang benar saja orang itu berdiri di depannya.
Zifana tampak tak nyaman. Sejenak pandangan mereka bertemu. Sepertinya lelaki di depannya berusaha mendekatinya.
"Ada apa Tuan Arya?" tanya Zifana.
__ADS_1
"Maaf, aku lihat anda sangat lemas. Aku ada Vitamin, minumlah?" ucapnya. Zifana tersenyum manis dan menatap ke arah Arya.
"Aku tidak papa.Terimakasih telah menghawatirkan aku," ucapnya sambil memegang kepalanya.
Arya tersenyum dan semakin penasaran pada wanita didepannya kian marajai hatinya.
"Apa tidak sebaiknya, Nona istirahat dulu?" tanya Arya.
Zifana melirik Jam yang melingkar di tangannya.
Pukul 15.40 itu artinya Delon waktunya pulang dia akan mengabari untuk dijemput disini saja. Dia berharap Delon rindu begitu, sama seperti dirinya yang saat ini merindukan suaminya itu.
"Maaf,saya tidak ada banyak waktu. Saya langsung saja Tuan, terimakasih atas tawarannya,"ucap Zifana kemudian melangkahkan kakinya.
Entah keberanian dari mana Arya menarik tangan Zifana. Zifana terkejut,menatap tangan yang kini digenggam erat oleh Arya.
Zifana yang tersadar segera menarik tangannya. Menatap tajam kearah Lelaki itu.
"Jaga sikap anda, Tuan Arya. Saya bisa saja membatalkan kesepakatan kita karna kekurang ajaran anda," ucap Zifan tegas.
Arya tampak terkejut dan menatap ke arah Zifana dengan canggung.
"Oh, maaf Tuan. Saya hanya reflek," ucap Zifana sambil mengambil ponselnya. Manda menghela napas panjang, dia pikir akan terjadi keributan bosnya dan juga pemilik Alana perhiasan itu. Tapi ternyata tidak juga.
"Tidak papa Nona,"
"Maaf. Saya hanya takut menimbulkan kesalah pahamaman jika suami saya mengetahui," ucap Zifana.
"Uhuk, uhuk," Arya tersedak udara, ia mengamati wanita didepannya. Bahkan dirinya tertarik pada wanita yang bersuami? Pasti dia mengada-ngada. Pikirannya.
Zifana yang menyadari sesuatu menutup mulutnya, kenapa dia mengatakan hal itu. Bagaimana bila semua orang bertanya siapa suaminya?
"Maaf saya harus pergi," ucapnya kemudian melangkah pergi.
"Manda, kamu duluan saja. Aku masih ada perlu," ucap Zifana pada asistennya. Dia ada di pintu belakang, dan dipastikan sangat sepi.
Manda mengangguk kemudian melangkah pergi. Zifana menghela napas panjang. Zifana mengambil ponselnya dan mencari kontak bernama My lovely Husband.
Tapi dia terkejut saat sebuah tangan menyambarnya dan membawanya berjalan ke arah parkiran. Reflek tangan Zifana mengalung di leher orang itu, Zifana mendongak dan tersenyum saat melihat lelaki tampan membawa dirinya dalam gendongannya.
__ADS_1
"Kak," lirihnya.
Delon yang semula menatap ke depan kini memandang wanita yang ada dalam rengkuhannya itu.
"Selain kak, apa tidak ada panggilan yang lebih menarik? Aku ini suamimu, bukan kakakmu," ucap Delon tampak kesal.
Zifana menautkan alisnya, dia tersenyum. Delon sangat manis baginya. Kini mereka sudah ada di depan mobil, Zifana yang tau Delon kesusahan membuka segera membuka pintu mobil. Delon menurunkan Zifana di mobil depan kemudian dia berlari kecil ke arah kemudi.
Zifana melirik Delon yang kini berada di kemudi, wajahnya kesal. Kenapa? Pertanyaan yang mengiang di otaknya.
"Kakak mau dipanggil apa?" tanyanya sambil menatap Delon, berharap wajah kesal suaminya segera pergi. Delon menoleh dan terdiam.
Bayangan Tuan Leo tadi cukup menjadi alasannya menjadi sebal, dan saat melihat tangan Zifana di sentuh lelaki lain membuatnya semakin sebal, tapi hatinya mencair saat Zifana mengatakan jika takut akan terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan suaminya.
Zifana menghela napas panjang, apa Delon melihatnya disentuh oleh orang? Zifana tampak menatap suaminya dan mengulur tangannya ke arah pipi Delon.
"Apa kau sedang cemburu Sayang?" tanya Zifana pada lelaki tampan yang tampak uring uringan itu.
Deg
Jantung Delon berdetak tak beraturan saat mendengar ucapan kata sayang yang keluar dari bibir Zifana. Delon memegang tangan Zifana yang berada di pipinya. Netranya menatap Zifana dengan senyuman.
"Sangat, sangat cemburu. Melihat istrinya disentuh orang lain, bukankah itu hal yang lumprah?" tanyanya dengan lembut. Bahkan wajahnya tidak sekucel tadi.
Zifana terkekeh pelan dan menatap ke arah suaminya.
"Hem, lalu kamu berencana menghukumku begitu?" tanya Zifana.
Delon tersenyum dan menatap istrinya itu.
"Kau bisa mebaca pikiranku?" tanyanya. Zifana terkekeh.
"Bukan pandai membaca pikiran, tapi aku sering baca novel online. Biasanya begitu, akan dihukum," ucap Zifana sambil tersenyum.
Delon terkekeh pelan, dia memegang kedua pipi Zifana dan menatap istrinya itu.
"Kau tenang saja Nona, hukumannya sangat manis," ucap Delon sambil tersenyum. Suasana hatinya berubah cair saat berada di dekat Zifana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1