
Setelah bercengkrama banyak banyak dengan Selena, kini Zifana, Nada, Delon dan juga Marvel tampak berpisah. Mereka pulang ke arah yang berbeda.
keadaan baby Alya juga sudah membaik, sehingga besok sudah bisa di bawa pulang. Zifana merasa lega, dia berpikiran untuk memberikan satu perusahaan yang ditinggalkan kakeknya untuk Alya. Anak dari kakaknya yang juga berhak mendapatkannya.
Zifana berencana akan membicarakan pada kakek Wilan nantinya.
Delon menatap ke arah Zifana yang tampak bahagia dan berbinar, walau saat ini wanita cantik itu sedang diam, tapi Delon bisa membaca dari mimik wajahnya.
Senyuman indah merekah di sudut bibir Delon. Sepertinya menghabiskan waktu malam dengan Zifana di taman sangat menyenangkan.
Delon membelokkan mobilnya di sebuah taman yang indah, Zifana tampak membolakan matanya.
"Kita turun disini Kak?" tanyanya.
Delon menganggukan kepalanya, Zifana tersenyum, keluar dari mobil dan menatap hamparan bunga yang indah. Ini adalah taman favoritnya.
Delon juga keluar, dia berdiri di samping Zifana. Delon menggenggam tangan Zifana dan mengajaknya mendekat.
"Kita duduk di sini," ucap Delon sambil melepas sepatunya. Duduk lesehan diatas karpet merah.
Zifana tertawa, Delon benar benar berbeda dari yang dia sangka. Dia pikir Delon terlalu angkuh dan tak mau dengan kesederhanaan. Tapi nyatanya semuanya tidak seperti yang dia duga.
"Kenapa tertawa?" tanya Delon.
Zifana menggeleng, dia melepaskan sepatunya dan duduk di samping Delon. Keduanya saling berpandangan. Angin malam berhembus, memberikan dingin yang menusuk.
Delon yang menyadari itu membuka jasnya dan meletakkan di punggung istrinya.
"Terimakasih Kak," ucap Zifana.
"Aku hanya berusaha membuatmu tidak kedinginan, dan itu adalah salah satu tugasku, menghangatkan mu," ucap Delon.
Hati Zifana sangat hangat, Delon memperlakukannya seperti ratu.
"Membuatku hangat?" tanya Zifana. Delon terkekeh dan merangkulkan tangannya ke pundak Zifana.
"Hem, kalau dikamar sebenarnya jauh lebih hangat. Tapi karna diluar, hanya ini yang bisa aku lakukan," bisik Delon di telinga Zifana.
Zifana menetap Delon, wajahnya memerah dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dasar mesum," ucap Zifana.
"Sama istri sendiri, nggak papakan," ucap Delon dengan tawa menggoda.
Zifana membuang pandangannya, keduanya menatap ke arah sana, memandang banyak bintang dan juga melihat bulan yang bersinar.
"Terimakasih atas semua kakak," ucap Zifana.
Delon menoleh dan menatap ke arah wanita cantik yang saat ini menjadi belahan jiwanya itu. Menatap wanita yang masih memandang indah rembulan malam.
__ADS_1
"Untuk?" tanya Delon.
"Untuk semua kebaikan kakak, mama, kakek, Gisel. Karna kalian aku tidak sendiri, aku pikir setelah kabur dari papa dan menghindari menikah dengan lelaki tua, hidupku akan hancur. Tapi nyatanya semuanya menjadi indah, walau sebelumnya hancur lebur juga," ucap Zifana.
Zifana mengalihkan pandangan, menatap Delon yang seakan sedang disindir itu.
"Menyindirku?" tanyanya.
"Hanya membicarakan kenyataan," ucap Zifana.
Delon tersenyum dan merebahkan dirinya, memposisikan kepalanya di pangkuan Zifana.
"Aku minta maaf untuk semua itu Sayang," ucap Delon.
"Kau tau, mengetahui semua kebenaran saat kau telah pergi sangat menyakitkan," ucapnya.
"Aku harap kamu memaafkan aku, menerimaku dan mencintaiku. Seperti aku yang sangat mencintaimu," ucap Delon.
Zifana mengusap kepala Delon yang berada di pangkuannya. Menatap Delon dengan teduh.
"Aku memaafkanmu, juga menerimamu," ucap Zifana.
"Cinta?Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Delon sambil menggenggam erat tangan Zifana.
Zifana menghela napas panjang, dia memejamkan matanya. Apa arti ucapan Cinta? Masihkah Delon ingin mendengar? Tak bisakah Delon merasakan cintanya?
"Tetaplah berada di sampingku, jangan pernah untuk mencoba pergi. Kau tinggal, dan ternyata kakek, mama dan Andreas tau tentang keberadaanmu, itu sangat menyakitkan. Sepertinya mereka semua bahagia atas penderitaanku," ucap Delon.
"Mungkin itu cara mereka menghukum mu karena menyakiti aku," ucap Zifana.
Delon menatap istrinya yang tengah bercerita itu.
"Sebenarnya aku juga tidak pernah meminta mereka menyembunyikan keberadaanku. Tapi, aku memilih pergi. Sepertinya kakek tidak menginginkan perpisahan diantara kita, dan dia malah memberi satu syarat padaku, aku boleh pergi jika sudah melakukan syarat darinya," ucap Zifana.
"Karna aku tidak bisa melakukan, kakek memintaku untuk tinggal di apartemen," tambah Zifana.
Delon menautkan alisnya, bagaimana bisa kakeknya mengenal Zifana? Bukankah Belum pernah sekalipun dia mengenalkan pada kakek?
"Sedekat itukah kau dan kakek? Memang syarat apa yang diajukan kakek padamu?" tanya Delon.
"Syarat agar aku bilang padamu kalau,,,"
Zifana menghentikan ucapannya, astagfirullah. Bukankah Delon belum tau tentang kebenaran bahwa dia adalah cucu sahabat kakeknya? Pemilik dari ZA grup?
"Kalau?" Delon menatap Zifana penuh tanda tanya.
Zifana diam, dia belum siap untuk ini. Dia takut jika Delon merasa besar kepala nantinya. Karna pada kenyataannya Zifana memilih untuk tetap tinggal dan tidak pergi.
"Lupakan, semua sudah berlalu," ucap Zifana.
__ADS_1
Delon tersenyum dan mengangguk.
"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu," ucap Delon.
"Untuk?" tanya Zifana.
"Untuk baby kecil di perutmu," ucap Delon sambil mengusap perut datar Zifana. Mencium beberapa kali perut Zifana.
"Aku juga bahagia," ucap Zifana merasa sangat bahagia.
"Sebelumnya pernah menikah, dan mendapati bahwa anak yang selama ini aku anggap anak ternyata bukan anakku, aku sempat..."
Delon tidak melanjutkan kata katanya, dia memejamkan matanya. Zifana paham arti ucapan Delon.
"Sempat apa?" tanya Zifana. Delon terdiam.
"Sempat meragukan keperkasaanmu begitu?" lanjut Zifana.
Seketika Delon duduk, Zifana tertawa sambil menutup mulutnya rapat rapat.
Delon yang kesal karna ucapan Zifana menggelitik wanita cantik itu sehingga dia tertawa.
"Ampun kak, aku hanya menebak," ucapnya disela tawanya.
Delon meraih Zifana sehingga keduanya dekat dan merapat, keduanya saling berpandangan.
"Tapi apa yang kamu katakan memang benar, aku sempat berpikir yang tidak tidak. Vely menceraikan aku sejak tiga tahun lalu dan telah memiliki putra, lalu aku mendapatkan kabar jika Elia bukan putriku, rasanya sangat menyiksa," ucap Delon.
Zifana tersenyum dan menatap ke arah Delon.
"Hilangkan pikiran burukmu, nyatanya kamu bisa memproduksi. Sekali jadi, jadi tak perlu lagi kamu meragukan itu. Anggap saja kamu tak pernah melakukan apapun dengannya, karna nyatanya dia tidak tulus padamu," ucap Zifana.
Delon menganggukan kepalanya.
"Tapi kamu tidak melakukannya dengan selain akukan?" tanya Delon.
Zifana membelalakan matanya, seketika Zifana berdiri. Kesal? Pasti. Bagaimana bisa dia dituduh seperti itu?
Delon segera berdiri, menatap Zifana yang saat ini berkaca kaca.
Delon berdiri di depan Zifana, menghapus air mata yang menetes di pipi wanita itu. Dipandangnya wajah cantik yang selalu dia rindukan itu.
Reaksi Zifana membuat Delon tersenyum, saat ini dia yakin bahwa Zifana sangat mencintainya. Walau wanita itu seolah tak mau mengatakan.
"Maaf, aku hanya ingin memastikan bahwa kau sangat mencintai aku. Walau kesombonganmu tak mau mengatakan padaku, tapi aku bisa merasakannya," ucap Delon.
Diraihnya Zifana dalam dekapannya, Zifana menangis disana. Dia bahagia, haru, tapi juga kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Like, komentarnya mana?😀😀😀