
Lama sudah Delon dan juga Zifana bercengkrama di atas panggung, hingga tiba saatnya mereka turun dari panggung. Keduanya menuju ke dalam ruangan Delon.
Para hadirin bertepuk tangan meriah, mengiringi Delon dan Zifana yang turun dari panggung. Tak ada kecurigaan dari para hadirin, yang mereka tau hubungan kedekatan Delon dan Zifana hanya sebatas rekan kerja.
Acara selanjutnya adalah istirahat yang diisi oleh sebuah grup musik yang terkenal di kota itu. Para hadirin menikmati lantunan lagu.
Arya, lelaki yang duduk di pojok ruangan tampak mengepalkan tangannya. Klien dari sakura grup itu tampak tak suka mendengar pengakuan Zifana tadi. Apa Zifana benar benar sudah menikah? Lelaki tampan itu masih tampak tak percaya.
Arya berdiri, di sebelah kirinya seseorang juga berdiri. Keduanya memutar langkah dan saling bertabrakan.
"Maaf Tuan," ucap Arya.
Lelaki di depannya tampak kesal dan menatap Arya dengan emosi.
"Kau punya mata? Gunakan matamu dengan sebaik baiknya," ucapnya kemudian melenggang pergi.
Arya menautkan alisnya saat melihat sebuah identitas perusahaan terkenal menempel di jas lelaki itu.
"Lee grup?" lirihnya.
Arya tersenyum tipis saat menyadari bahwa itu adalah Leo, sahabat baiknya. Segera lelaki itu mengejar langkah Leo yang meninggalkan arena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zifana dan Delon kini berdiri di depan pintu, keduanya saling berpandangan. Keduanya terdiam,
Delon menatap istri cantiknya yang tengah berdiri itu. Bahagia? Pastinya, karna Zifana mengutarakan cinta padanya.
Akan tetapi, kesal juga masih bergelayut saat dirinya baru saja mengetahui bahwa Zifana adalah owner dari ZA grup. Apa di dalam sertivikat ZA grup ada identitas Zifana seperti yang dikatakan oleh Andreas? Sepertinya dia harus memastikannya. Pemilik ZA grup juga cucu dari sahabat kakeknya, apa Zifana adalah cucu sahabat kakeknya? Banyak pertanyaan di benak Delon.
__ADS_1
"Kak, kamu tak bercita cita memelukku sejenak?" tanya Zifana. Wanita cantik itu melangkah mendekat ke arah Delon.
Rindu sekali Zifana pada Delon, manja, ingin selalu dipeluk. Walau tau Delon kesal, tapi sengaja dia ingin mencairkan suasana. Tak mau saja Delon marah terlalu lama padanya.
Delon memejamkan matanya, dia ngambek. Tapi untuk menyiakan kesempatan memeluk istrinya, dia juga tak sanggup. Alhasil Delon meraih Zifana dalam dekap hangatnya.
"Kenapa merahasiakan semuanya dariku?" tanya Delon sambil memeluk hangat wanita yang memiliki hati dan pikirannya itu.
"Sejak kapan kakek tau kau adalah cucu sahabatnya?" tanya Delon seolah meluapkan kekesalan. Zifana tersenyum tipis.
"Aku tidak bermaksud untuk itu," ucap Zifana.
"Lalu?" tanya Delon dengan tenang.
Zifana menyusupkan wajahnya di dada Delon, mencari kehangatan disana.
"Semuanya terjadi begitu saja, saat aku memilih untuk pergi," ucap Zifana.
"Kakak ingat, aku pernah bilang pada kakak, jika aku memilih pergi, maka aku harus melakukan satu permintaan kakek?" tanya Zifana.
Delon menautkan alisnya dan tampak berpikir, dia ingat itu. Zifana pernah mengatakan sesuatu yang masih belum jelas kelanjutannya.
"Hem, aku ingat. Apa itu?" tanya Delon.
Zifana mengangkat wajahnya, menatap Delon yang lebih tinggi darinya. Delon meraih pinggang Zifana dengan tangan kiri. Tangan kanannya mengusap pipi mulus wanita cantik itu dengan lembut.
"Dulu, saat aku memilih pergi, bertepatan dengan kakek tau bahwa aku adalah cucu dari sahabatnya," ucap Zifana. Delon memejamkan matanya, mengingat hal itu lagi membuat sesal kembali membayangi pikirannya.
"Kakek memintaku untuk tetap di sampingmu. Tapi aku sudah tidak bisa, aku memutuskan untuk tetap pergi," ucap Zifana. Delon masih terdiam, dia ingin tau kelanjutan cerita dari istrinya, karna dia ingin tau kejelasan cerita tentang keberadaan Zifana yang tinggal di apartemen dekat dengannya, tapi dia tidak tau.
__ADS_1
"Aku yang terus memberontak membuat kakek mengatakan padaku jika kakekku menitipkan dua perusahaan untukku, satu perusahaan dikelolanya dan langsung bisa aku kelola sendiri. Tapi satu lagi dipegang oleh cucunya, kakek memberikan syarat padaku untuk mengambilnya dan mengatakan pada cucunya. Kalau aku tak mau mengatakan, maka kakek juga tidak memperbolehkan aku pergi lagi, karna beliau tak mau menyakiti kakekku," ucap Zifana.
Delon tersenyum tipis, jadi kakeknya menahan Zifana waktu itu?
"Mungkin dibalik itu semua, kakek menginginkan aku untuk berpikir jernih. Meminta aku untuk tidak gegabah mengambil keputusan, karna pada kenyataanya, aku tidak bisa mengambilnya darimu. Bukan karna apapun, tapi karna aku memang tidak bisa pergi darimu," ucap Zifana.
Deg
Hati Delon meleleh mendengar ucapan Zifana. Dia tersenyum, Zifana benar benar membuat hatinya bahagia. Depeluknya Zifana dengan erat.
"Lalu bagaimana bisa kau tinggal di apartemen sampingku?" tanya Delon.
"Karna saat itu kata Andreas hanya ada tempat itu yang kosong, dan akupun tidak mau banyak protes, karna aku malas berdebat," ucap Zifana.
Delon menghela napas panjang, jadi dia salah jika berpikir kakek dan Andreas yang menyembunyikan Zifana. Ternyata beginilah kebenarannya.
"Tapi kalau dipikir sekarang, aku pikir Andreas sengaja untuk mendekatkan aku padamu, ya walaupun tidak berhasil," ucap Zifana sambil memutar bola matanya.
Delon tampak kesal dengan ucapan Zifana yang terakhir, dia menatap Zifana seolah tak trima.
"Tak berhasil katamu? Ini kamu menempel nempel padaku Nona," protes Delon.
Zifana terkekeh dan menyusupkan wajahnya di dada bidang Delon.
"Iya, tapikan setidaknya sudah memberimu pelajaran beberapa minggu," jawab Zifana.
Delon terkekeh dan megeratkan pelukannya, makin kesini makin dia sadar bahwa keluarganya, bahkan Andreas adalah orang yang benar benar menyayanginya.
"Thank you Andreas, semoga kau lekas bertemu jodohmu" batin Delon.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...