
"Kenapa marah marah Mas? Kamu baik baik saja?" tanya suara merdu di sebrang sana.
Delon tampak terkejut, ternyata yang menelpon bukan lagi Leo, akan tetapi istri cantiknya.
"Maaf Sayang, aku pikir klien baruku yang menjengkelkan," jawab Delon.
"Menjengkelkan?" tanya Zifana antusias.
"Ya, sangat menjengkelkan. Ada apa kamu menelpon?" tanya Delon sambil melirik Andreas yang sedari tadi tertawa.
"Ya udah, ketimbang jengkel terus. Bagaimana kalau kita makan siang bareng Mas? Aku mau kamu bawain aku sesuatu, aku nggak napsu makan. Sepertinya kalau sama kamu, aku lahab makannya," ucap Zifana di sebrang sana.
Delon melirik jam yang melingkar di tangannya, dan benar saja jika saat ini sudah saatnya makan siang. Delon terkekeh dan mengangkat sudut bibirnya membuat seulas senyuman yang indah. Emosi yang tadi menggelora seakan sirnalah sudah.
"Hem, aku akan segera ke kantormu," ucap Delon.
"Siapa bilang aku di kantor Mas, aku sedang ada di taman. Aku mencari udara segar," ucap Zifana sambil menatap ke arah lalu lalang orang yang sedang berjalan jalan.
"Hanya itu yang kamu lakukan disana?" tanya Delon penuh selidik.
Zifana tersenyum, sebenarnya tidak mau mengatakan jika tadi dia bertemu dengan Arya. Klien yang sepertinya memiliki perasaan padanya. Sudah juga Zifana mengatakan dia bersuami, tapi dia tampak tak percaya.
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Kamu mencurigaiku Tuan Delon?" ucap Zifana sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jangan kamu pikir aku tak tau, aku cukup tau jika Zifana aurora manda sangat nakal. Dia minta dihukup karna bertemu lelaki lain," ucap Delon.
Zifana terkekeh pelan dia mengubah panggilan suara menjadi panggilan Vidio. Delon segera mengangkatnya. Kini tampaklah wajah Zifana di layar ponselnya.
Zifana yang tersenyum mengamati wajah Delon yang dingin dan datar.
"Tadi aku ketemu sama Klien," ucap Zifana.
"Lelaki?" tanya Delon dan diangguki oleh Zifana.
"Tapi aku sudah bilang padanya jika aku bersuami," ucap Zifana.
"Dia percaya? Tidak kan?" sewot Delon.
"Cie cie," sahut Andreas saat mendengar ucapan Zifana di sebrang sana. Delon tampak salah tingkah, dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap ke arah Zifana.
"Oke, aku akan menyusulmu sekarang. Memangnya kamu kamu makan apa? Tentukan tempatnya dari sekarang, aku tidak mau menunggumu berpikir terlalu lama hanya untuk menentukan tempat makannya," ucap Delon lagi.
Zifana tertawa kecil dan mengingat beberapa hari yang lalu, hanya untuk memilih tempat makan, Delon harus menunda meeting dengan klien.
"Aku minta kamu aja yang beliin Mas, nanti kita makan sama sama di sini," ucap Zifana sambil tersenyum senyum membayangkan indahnya makan berdua bersama sang suami tercinta.
"Sepertinya istriku sedang merindukanku," goda Delon dan berhasil membuat Zifana tersipu.
__ADS_1
"Aku yakin kamu bisa menebaknya," ucap Zifana.
Keduanya tampak tersenyum indah di tempat masing masing.
"Mau makan apa?" tanya Delon setelah menghela napas dalam dalam.
"Aku pengen makan nasi padang, trus aku pengen juga klepon, gethuk, kue lapis, onde-onde, sama...."
Delon menggelengkan kepalanya, dia tampak terkejut saat mendengar permintaan Zifana. Begitu banyaknya. Apa dihabiskan?
"Kenapa?" tanya Zifana yang merasa Delon berubah pikiran.
"Serius kamu minta semua ini?" tanya Delon. Zifana menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Selamat mencari, Tuan suami. Asalamualaikum," ucap Zifana kemudian menutup ponselnya.
Delon menghela napas panjang, dirinya meminta Andreas untuk memutar laju mobil ke arah pusat kota.
"Selamat Siang Nona Zifana Aurora Manda," ucap seseorang yang tiba tiba muncul di sebelah Zifana. Siapa dia? Bahkan Zifana pun tak mengenalnya.
Zifana mundur beberapa langkah, netranya menatap waspada ke arah orang asing itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1