
Zifana dan Delon telah sampai di pusat kota, sebuah taman yang indah. Saat ini Delon yang hanya memakai kaos oblong dan Jins panjang tampak keluar dari mobil.
Zifana juga, keduanya berjalan dan bertemu di depan mobil. Zifana mengedarkan matanya. Melihat pemandangan yang sangat indah. Banyak sekali orang tua dan anak yang quality time bersama.
Pemandangan ini membuatnya teringat sosok ayah dan kakak. Ayah dan kakak yang sebenarnya sangat menyayanginya. Sosok ayah dan kakak yang selalu memanja, sosok ayah yang selalu memberi apa yang dia mau, menghujaninya dengan kasih, sayang, uang, hingga pada akhirnya menjadi sosok ayah yang juga tega untuk menjadikan dirinya alat penukar kekayaan.
Tapi, entah bagaimana ayah dan kakaknya keliru. Seharusnya dia bicara baik baik, bukan malah kabur. Zifana menghela napas panjang, merasakan sesak dalam hatinya.
"Zifa, sebaiknya kita ke mol kau belanja sepuasnya. Kakak ada uang banyak,"
"Zifa, papa harap kamu tidak bersedih. Papa mau kamu tetap semangat. Papa yakin, putri papa sangat kuat,"
Air mata Zifana mengalir, membicarakan orang tua baginya sangat menguras air mata. Bahkan saat ini dia ingat kebaikan kakak dan ayahnya. Walau ada salah, pasti ada sisi baik mereka terhadap kita.
"Kau menangis?" Delon menatap Zifana yang kini menghapus air matanya.
"Aku hanya teringat papa, dan juga kakakku," ucap Zifana.
Deg
Jantung Delon berdesir ngilu, apa yang harus dia lakukan? Delon menghela napas panjang dan menatap ke arah Zifana.
"Kau rindu pada mereka?" tanya Delon.
Zifana menganggukan kepalanya. Jantung Delon semakin terusik. Dia tak bisa melihat Zifana menangis.
"Kau ingin bertemu?" tanya Delon lagi. Zifana menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin papa dan kakak bahagia, aku yakin mereka berada di tempat yang semestinya. Bertemu dengan mereka malah akan membuatku bersedih, saatnya nanti tanpa memintapun, pasti akan ada waktu kami bertemu," ucap Zifana kemudian berlalu.
Deg
Jantung Delon tampak berdetak lebih cepat, Apa maksud Zifana? Papa dan kakaknya berada di penjara. Apa sebenarnya dia sudah tau? Atau mungkin dia hanya berbica pada umumnya? Untuk membicarakan ini lebih dalam sepertinya tidak bisa. Zifana seakan membatasi dirinya.
Delon mengejar langkah Zifana dan membersamai langkah wanita itu.
"Zifa," panggil Delon.
"Ya," jawab Zifana.
"Ada aku disampingmu, kau tidak sendiri," ucap Delon. Zifana terkekeh pelan dan membuang pandangannya. Dia bahagia, wajahnya bersemu merah.
__ADS_1
"Papa Delon, mama Zifa," teriak suara imut yang terdengar sangat nyaring.
Delon dan Zifana menoleh. Terlihat Elia berlari ke arah keduanya, Zifana dan Delon tersenyum dan merentangkan tangannya, menyambut datangnya putri kecil mereka.
"Elia," ucap Delon dan Zifana saat putri kecilnya berada dalam rengkuhannya.
Delon menggendong Elia. Delon merangkulkan tangan kanannya di pundak Zifana, sehingga Elia yang ada di gendongannya dekat sekali dengan Zifana.
"Mama, papa, Elia lindu," ucap gadis itu.
"Papa dan mama juga," ucap Delon dan Zifana bersamaan.
"Selamat pagi Pak Delon, dan Nona Zie," sapa Asti dan Devan yang baru saja sampai di tempat.
"Pagi," jawab Delon dan Zifana.
"Nona Zifa bagaimana kabarnya?" tanya mbak Asti.
"Alhamdulillah baik mbak Asti, senang bisa berjumpa lagi," ucap Zifana.
Mereka tampak bercengkerama, sangat akrab. Bahkan sekarang Delon meminta Asti dan juga Devan memanggil nama saja. Karna mereka sama sama orang tua Elia. Bahkan Asti sudah tidak lagi bekerja di Wilantama, karna usaha Devan berkembang pesat setelah Elia kembali, dan meminta Asti fokus pada anak.
"Ya sudah De, Zifa, nikmati kebahagiaan kalian dengan Elia. Nanti atau besok kalian antar juga tidak masalah, kalian juga orang tuanya. Aku percaya pada kalian," ucap Asti.
"Kalau begitu kami pamit," ucap Asti.
"Sayang, baik baik sama papa De dan mama Zie. Papa Dev dan mama Asti mau pulang, oke," ucap Devan sambil memeluk erat putri kecilnya.
"Siap papa," ucap Elia bahagia.
Devan dan Asti berlalu.
Kini Delon, Zifana dan Elia tampak bermain di wahana yang tersedia. Mereka sangat bahagia. Mereka sangat kompak berjalan kesana kesini dengan riang.
Kini mereka berada di bawah pohon yang rindang, istirahat dan mengisi perut. Zifana hanya memandang makanan yang di beli. Ada es krim, martabak, pisang keju, srabi, lemper dan banyak lagi makanan tradisional. Semua di beli dan hanya dimakan sedikit.
Hingga Elia dan Delon yang harus bersusah payah menghabiskan.
"Mama Zifa kenapa makannya sudah? Masih banyak, Elia sama papa bisa kekenyangan," protes gadis kecil itu.
Zifana terkekeh pelan dan menatap Delon yang memang tampak kualahan itu.
__ADS_1
"Kan bisa dimakan nanti lagi, Elia boleh kok main lagi, papa sama mama disini sambil mengawasi. Nanti langsung kembali lagi kalau Elia haus dan lapar," ucap Zifana.
Gadis kecil itu tampak menerawang jauh dan memikirkan sesuatu.
"Elia kenapa?" tanya Delon sambil menatap putri kecilnya.
"Pa, mama Asti juga enggak mau makan. Selalu Elia dan papa Devan yang menghabiskan makanan. Bikin Elia jadi gendut," ucap gadis itu begitu menggemaskan.
Zifana dan Delon tampak terkekeh. Mereka menatap Elia dan mendengarkan cerita apa lagi yang akan keluar dari mulut imut putri kecil itu.
"Nah, mungkin mama Asti sama kayak mama Zifa. Lagi tidak ada nafsu makan," ucap Zifana.
"Bukan tidak nafsu, ma," sanggah Elia.
"Lalu?" tanya Zifa antusias.
Elia tampak tersenyum, wajahnya berbinar dan tampak bahagia.
"Mamang kenapa mama Asti nggak mau makan banyak?" tanya Delon sambil mengangkat tubuh mungil Elia di pangkuannya. Berhadapan dengan Zifana yang menopang dagu memandang keduanya.
"Papa kenapa Elia dipangku, Elia mau main lagi," kesal gadis itu dan merosot dari pangkuan Delon. Delon dan Zifana tertawa melihat tingkah gadis kecilnya.
"Nggak papa dong di pangku," ucap Delon.
"Nggak mau, Elia udah besal. Elia mau jadi kakak, papa tau nggak kenapa mama Asti nggak mau makan?" tanya Elia dengan senyuman yang kembali muncul dalam bibirnya.
Delon menggelengkan kepalanya.
"Kata papa Devan di pelut mama Asti ada dedek bayi yang minta makan sesuka hatinya. Dedek bayi yang makan nggak mau habisin, dedek bayi yang kalau keinginannya tidak dituluti bisa ilelan, apa di pelut mama Zifa ada dedek bayi juga?" tanya Elia dengan binar mata yang indah.
Uhuk
Delon yang semula mengunyah tampak tersedak, sedangkan Zifana tampak membelalakkan matanya.
Delon mengambil botol air dan meminumnya. Dedek bayi? Dia mengusap wajahnya dengan tak percaya, ditatapnya wajah Zifana yang tampak terkejut juga. Dia baru sekali saja melakukan dengan Zifana, dan itu sekitar tujuh minggu yang lalu sebelum dia Depresi. Apa benar Zifana hamil?
Zifana memejamkan matanya, mencoba mengingat haid terakhirnya. Harusnya memang dia 23 hari masa suci, dan dia mencoba hitung saat ini dia sudah melebihi itu. Apa artinya dia hamil?
Elia yang menatap papa dan mamanya bengong dan tidak menjawab pertanyaannya tampak kesal dan memilih bermain di belakang Zifana.
Delon dan Zifana masih bengong dan masih tampak berpandangan malu, penuh tanya, canggung. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Yang jelas tak ada yang memulai pembicaraan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...