Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)

Kembalilah (Istri Kesayangan Tuan Delon)
IKTD. Jangan pergi tanpa kabar


__ADS_3

"Kau, bawa Tuan Muda dan wanita itu kesini sekarang juga," ucap wanita itu kemudian menutup ponselnya.


Dua lelaki tinggi tegap itu tampak mengamati gerak gerik tuan mudanya yang kini masih di tempat yang sama.


Gisel dan Willy saling berpandangan. Willy? Ya, lelaki itu adalah Willy yang menguntit Gisel sejak tadi.


Gisel merasa kesal, setelah lama tak bertemu, sekarang berjumpa dan kelakuan lelaki di depannya tampak sangat menjengkelkan. Benar benar menguji kesabarannya.


"Bisa minggir Tuan, sepertinya urusan kita sudah selesai tadi sore di pelataran mall. Tidak ada urusan lagi, jadi minggirlah tuan yang terhormat," ucap Gisel dengan kesal.


"Begitukah?" jawabnya sambil menautkan alisnya.


Meskipun baginya Zifana dan Gisel sama sama sombong. Nyatanya pesona Gisel tidak bisa digeser oleh Zifana di hati Willy. Zifana? Wanita itu pamit padanya untuk bekerja hampir dua bulan lalu. Sampai saat inipun mereka tidak bertemu. Bahkan ponsel Zifana tidak aktif lagi.


"Minggirkan mobilmu," ucap Gisel sambil membuka pintu mobilnya. Willy menahan dengan satu tangannya, netranya menatap seorang gadis yang hampir empat tahun tidak berjumpa dengannya itu.


"Jelaskan padaku kemana kau selama ini, Nona Arzenia Gisela Meca," ucap Willy sambil menatap tajam ke arah Gisel yang tampak menahan geram itu. Menyebutkan nama panjang Gisel dengan fasih dan benar.


"Bukan urusanmu, sekarang.... "


"Sekarang Tuan Muda dan Nona diminta Nyonya Tan untuk ke mansion utama," sahut seorang bodyguard yang tiba tiba muncul.


Salah satu dari mereka mengendarai mobil Willy dan pergi, takut jika Willy malah kabur nantinya. Willy dan Gisel menoleh ke asal suara. Willy memejamkan matanya, mama dan papanya berkunjung dan dia lupa? Astaga.


"Kenapa saya juga?" bantah Gisel.


"Itu perintah dari Nyonya, sebaiknya anda menurut," ucap bodiguart itu kemudian kembali ke mobil.


Willy dan Gisel saling berpandangan, seolah memiliki kesempatan berduaan. Willy mengambil kunci mobil di tangan Gisel dan masuk ke dalam mobil. Gisel tampak kesal saat Willy mengambil alih kemudi. Kapan lagi bisa membawa Gisel ke depan dua orang tuanya?


"Kau, bisa keluar?" sentak Gisel.


"Masuklah, sebentar saja ke rumahku. Aku akan mengantarkanmu pulang nantinya, sekarang kau harus mengantar aku. Lihatlah, mobilku dibawa orangku," ucap lelaki dua puluh tujuh tahun itu.


Gisel masih berdiri tak melangkah sedikitpun.


"Kau masuk, apa aku akan memasukanmu?" ucap Willy dengan wajah yang tak merasa bersalah sama sekali.


Dengan kesal Gisel melangkah sambil menghentak hentakan kakinya menuju ke arah samping. Willy menyunggingkan senyum tipisnya. Willy segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ada percakapan diantara mereka, sunyi, tapi mereka seakan menikmati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Zifana dan Delon berada di balkon kamar, seusai Shalat Isya berjamaah dan mengucapkan syukur atas kehamilanya, mereka menikmati malam mereka dengan bercengkerama. Keduanya yang masih tampak canggung, tapi lama kelamaan juga terasa menghangat.


Keduanya menatap ke arah bintang yang bertaburan di atas sana. Memandang pancaran sinar bulan yang begitu indah.


"Aku,"


Mereka berucap serempak, membuat keduanya tampak terkekeh pelan.


"Kamu dulu," ucap Delon.


Zifana menganggukan kepalanya dan menatap Delon dengan menahan perasaan yang membuncah di dadanya.


"Terimakasih kak," ucap Zifana.


Delon menautkan alisnya, menatap ke arah wanita yang saat ini terlihat kalem itu.


"Untuk?" tanya Delon.


"Untuk semua yang kakak berikan, mobil, rumah, zif bontique, terlebih kasih sayang dari kakak, kakek, dan juga mama, kasih sayang yang aku dapatkan setelah aku kehilangan semua dari ayah dan kakakku," ucap Zifana terlihat sendu saat menyebut ayah dan kakak.


Delon tampak terusik, dia mendekat ke arah Zifana.


"Itu semua sudah semestinya kau dapatkan, itu milikmu. Bahkan seharusnya kamu mendapatkannya saat pertama kali menjadi istriku, tapi baru kali ini kamu dapatkan," ucap Delon.


Delon mengarahkan pandangannya ke arah Zifana, membawa tubuh mungil bergamis itu menghadap ke arahnya.


"Kamu layak mendapatkannya, bahkan harusnya lebih dari ini. Kamu tau sayang, mendapatkan kesempatan kedua darimu itu, tidak ada apa apanya dibanding dengan apa yang aku berikan," ucap Delon.


Zifana menghela napas panjang, merasakan sesak dalam benaknya. Delon benar benar memperlakukan dirinya bak ratu. Dulu sebenarnya juga sama, diberikan kemewahan yang sama, tapi posisinya yang seperti orang ketiga yang mungkin menyayatnya. Kebahagiaan saat menerima pemberian dengan cinta, dan tanpa cinta, sangat berbeda rasanya.


"Boleh aku memelukmu kak?" tanya Zifana.


Delon tersenyum dan merentangkan tangannya, Zifana berhambur memeluk Delon dan mencari kehangatan disana.


"Kau boleh memelukku kapanpun," ucapnya sambil mengecup puncak kepala Zifana.


"Sebenarnya yang aku cari saat datang ke Wilantama grup, bukan mobil itu," ucap Zifana.


"Lalu," tanya Delon.


"Aku ingin melihatmu, aku menginginkan pelukanmu," ucap Zifana. Entah, dia seakan tak mau menutupi isi hatinya, walau mulutnya sulit mengungkapkan cinta.

__ADS_1


Delon terkekeh dan mempererat pelukannya.


"Apa sangat nyaman?" tanya Delon.


"Hem," jawab Zifana tanpa malu. Membuat Delon semakin berbunga.


"Kita harus berikali kali lipat bersyukur, karna dia ikatan batin kita semakin kuat. Saking bodohnya kita saja yang terlambat menyadari, bahkan kita tau dari Elia," ucap Delon. Zifana terseyum juga di dekapan Delon.


"Sebaiknya kita tidur," ucap Delon.


"Hem," ucap Zifana sambil melepaskan pelukannya. Keduanya tampak berpandangan.


"Kak," panggil Zifana saat Delon menarik tangannya, hampir melangkah.


Delon kembali menatap ke arah istrinya dan tersenyum.


"Apa?" tanya Delon.


"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Zifana. Delon mengangguk cepat.


"Katakan," ucapnya.


"Jangan sekalipun pergi tanpa kabar, walau sebentar. Kau tau, kehilangan kamu sebentar saja aku seakan tak sanggup. Walau itu di balkon kamar," ucap Zifana sambil memejamkan matanya. Apa sangat berlebihan? Nyatanya memang hatinya seakan takut berlebihan jika Delon pergi begitu saja, seperti kebiasaannya dulu sebelum menganggapnya istri.


Delon menautkan alisnya, apa karna tadi? Tadi dia di hubungi Selena yang meminta bantuan, putranya yang masih 3 bulan sedang sakit. Tak ada yang mengantar ke rumah sakit, pesan taksi tidak ada yang redi. pada akhirnya Delon meminta Andreas yang mengantarnya.


"Tadi aku dihubungi sama...."


"Siapapun dia, bagiku tidak masalah jika cintamu hanya untukku. Tugasmu menjaga kepercayaan dariku," ucap Zifana.


Delon semakin gemas pada istrinya, apa tidak kepo siapa yang menelpon suaminya? Apa tidak bisa istrinya cemburu? Delon mengangkat tubuh wanita cantik itu ke dalam kamar.


"Besok aku ada meeting kak," ucap zifa.


"Aku juga," jawab Delon.


"Kita berangkat bersama Nyonya Delon," ucap Delon. Zifana menganggukan kepalanya.


Delon merebahkan Zifana di ranjang, mengecup pelan puncak kepala Zifana dan menyelimutinya.


"Selamat tidur, aku di sofa dulu, menyelesaikan pekerjaan," pamitnya pada Zifana. Ya, dia mulai melakukan ritual izin seperti yang diminta Zifana.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2