
Zifana melangkah pergi, diiringi tatapan yang entah bagaimana dari para karyawan dan pengunjung lain.
Zifana melanjutkan langkahnya ke lantai dua. Disana ada beberapa aksesori yang dijual. Sehingga banyak juga pengunjung yang datang di lantai dua.
Zifana yang masih merasakan bahagia, sedih, sesak dalam benaknya tampak memejamkan matanya. Baginya mendapatkan pelukan dari Delon memberikan bahagia dan luka secara bersamaan.
Zifana menepuk dadanya yang terasa sesak, menyandarkan dirinya di dinding. Zifana mengusap air matanya, dia kesini untuk mencari ketenangan. Lalu, kenapa malah seperti ini?
Zifana menghela napas panjang, hampir saja dia melangkah. Tapi langkahnya terhenti saat Elisa, asisten pribadinya dulu, berhenti menghampiri dirinya.
"Maaf Nona, bisa tolong saya sebentar? Saya kebelet," ucapnya pada Zifana. Elisa tampak memperhatikan dirinya.
Zifana tampak mengalihkan pandangannya, berharap Elisa tidak mengenalinya.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Zifana antusias.
"Tolong letakan bunga ini di ruangan Owner Zif bontique, sebelah sana. Terimakasih sebelumnya Nona," ucap Elisa sambil menyerahkan bunga mawar merah. Elisa tampak terburu pergi setengah berlari.
"Tapi Nona," teriakan Zifana seolah tak didengar.
Zifana menatap ke arah bunga mawar merah yang kini dia bawa. Mawar merah adalah bunga kesukaannya.
"Apa ownernya juga suka bunga seperti ini?" Zifana lagi lagi merasakan sesak dalam benaknya. Zifana membalik rangkaian bunga cantik itu.
__ADS_1
"Aku merasa, ada kamu tak jauh dariku" lirih Zifana membaca kata yang ada di rangkaian bunga itu.
Zifana merasakan sesak yang amat sangat, kenapa dia mengingat Delon saat membaca tulisan tanpa identitas itu?
Bayangannya melayang jauh, pada bunga mawar yang sempat di kirimkan Delon untuknya saat itu.
Cukup rasakan, bahwa kamu ada di hatiku.
Tulisan dalam bunga yang saat itu beridentitas Delon di bawah kata kata.
Zifana menggelengkan kepalanya, dia tak boleh lemah. Tak boleh menangis. Sebaiknya dia segera meletakan bunga itu sesuai permintaan Elisa.
Zifana melangkah menuju ke arah ruangan Owner Zif Bontique. Dengan pelan Zifana membuka hendel pintu yang tidak di kunci, Zifana melangkah masuk, netranya mengamati ruangan itu. Ruangan yang dia desain begitu nyaman. Hatinya terasa pias. Harus kehilangan apa yang dia perjuangkan sejak dulu dengan paksa, itu adalah suatu hal yang sangat menyakitkan baginnya.
Kini, bayangan Papa, kakak, mama, kakek, nenek, semuanya seperti di depan pelupuk matanya. Menguras air mata yang selama ini dia simpan. Kenapa takdir kejam padanya? Kenapa papanya tega? Kenapa kakaknya begitu jahat? Apa ini alasan kakeknya tidak mau memberikan perusahaan pada mereka? Hati Zifana begitu sesak, bahkan menikahpun juga dihadapkan dengan berbagai kesulitan.
Zifana terkejut, dia berdiri dan melihat Delon kini keluar dari pintu rahasia yang menghubungkan ruangannya dengan pintu garansi pribadi milik owner Zif bontique.
"Siapa Delon?" pikirnya.
Zifana memakai kembali kacamata, dia menatap Delon yang kini tampak memandang dirinya dengan tenang.
"Maaf, saya kesini hanya untuk meletakan bunga ini," ucap Zifana gugup kemudian meletakan bunga di atas meja.
__ADS_1
"Saya permisi," ucapnya sambil mengusap air matanya dan berjalan ke arah pintu keluar.
Zifana mencoba membuka pintu, tapi sialnya pintu terkunci dari depan. Zifana tampak kebingungan, ditatapnya Delon yang kini tampak berdiri dan menyedekapkan tangannya di depan dada. Menatap Zifana yang tampak kebingungan itu.
"Tuan bisa bukakan pintunya?" tanya Zifana menahan gejolak rasa dibalik kesedihan yang mendera. Mengerjab sekali saja, air matanya akan mengalir.
Delon tetap diam, menatap wanita di depannya dengan intens. Sebenarnya, dia sudah tau bahwa wanita yang mengatakan dirinya Manda, adalah Zifana istrinya. Berawal dari parfum Zifana yang sangat dia kenali. Sorot mata indah yang mampu menembus hatinya, bahkan hatinya tidak bisa dibohongi.
Untuk membuktikan itu, sengaja Delon yang tak sengaja berjumpa Zifana di bawah tadi, menarik Zifana dalam rengkuhannya. Dari situ dia yakin bahwa memang itu adalah istrinya. Saat itu juga, Delon meminta Elisa untuk mencari cara agar wanita berhijab itu masuk ke ruangannya.
Namun, saat ini dia merasa Zifana sangat jauh. Seperti orang asing yang memanggilnya Tuan. Delon merasakan sakit yang sama, dia ingin menuntaskan semuanya. Dia tidak mau lagi melepaskan Zifana sebelum semua jelas.
"Tuan bisa bukakan pintunya? Saya mau keluar," ucap Zifana lagi dengan jantung yang berdetak tak beraturan.
Delon melangkah, mendekat ke arah Zifana. Maju dan terus maju, membuat Zifana gugup. Rasa sakit benar-benar menyiksa dirinya saat Delon terus mendekat ke arahnya.
"Berhenti," ucap Zifana. Benteng pertahanannya seakan terkoyak. Air matanya luruh tanpa diminta.
Delon menatap wajah sembab istrinya itu. Ada rasa sesak mendera melihat pemandangan ini. Tak rela, wanita ini menangis.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Nona Zifana Aurora manda," ucap Delon sambil menarik Zifana dalam dekapan hangatnya.
Deg
__ADS_1
Jantung Zifana berdetak hebat. Air matanya tidak bisa dibendung. Berontak? Bahkan tubuhnya seakan lunglai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...