
"Bagaimana keadaan paman Chun! Apakah masih sekarat?" Tanya Yang Xuan tiba-tiba membuka matanya setelah selesai memulihkan diri. Dia melirik kearah putri Shu yang memakai gaun warna biru muda membuatnya gadis itu begitu cantik.
"Hei ayahku sudah bangun. Awas saja! aku akan melaporkan ulah mu yang berbicara jelek tentangnya" sambil menginjak-injak tanah karena kesal. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa pemuda gila didepannya tidak pernah berkata lembut padahal dia udah di dandani pelayan begitu cantik.
"Aah.... Sial, padahal aku ingin memberikannya kepada peliharaan ku setelah memanggangnya" Yang Xuan tertawa terbahak-bahak sambil berlari kearah tabib dari kerajaan air Yang Masih duduk didekat mereka untuk mencari perlindungan dari amukan betina yang siap memangsa.
"Kurang ajar... Kenapa semua orang hari ini membuatku kesal?" gerutu Putri Shu. Dia menatap Yang Xuan dengan tatapan tajam lalu pergi memasuki istana karena kesal. Dia ingin bermaksud mengajaknya keliling kota Hong Li akan tetapi sepertinya akan gagal karena Yang Xuan tidak tertarik.
"Hei ... Ayahku ingin bertemu denganmu" teriak Putri Shu setelah tiba di pintu istana.
Yang Xuan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum jahat. Melihat itu, kakek tabib hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba dia mengingat istrinya yang menghilang begitu saja tanpa jejak.
"Kek.... Kek...Kakek... Apakah kakek memikirkan sesuatu?" Tanya Yang Xuan penasaran setelah melihatnya termenung dan bahkan memanggilnya berulang kali.
"Tidak.... tidak... tidak usah dipikirkan. Ang'er setelah ini kemana tujuanmu? Tanya sang kakek Tabib tidak jelas akan tetapi dia belum meninggalkan istana.
"Aku tahu kakek menyembunyikan sesuatu, jika kakek tidak ingin bicara sekarang mungkin besok atau lusa aku akan menunggunya. Sebenarnya aku juga akan melanjutkan petualangan ku menuju wilayah kerajaan air tepatnya semenanjung Lei Zhu. Apakah kakek tahu tentang hal tersebut?"
"Untuk apa kamu kesana Ang'er? tempat itu sangat berbahaya, banyak kultivator yang mati muda bila berkunjung kesana. Urungkan saja niatmu nak, karena kakek belum rela jika kau mati muda" Sang kakek tabib berbicara dengan ekspresi serius.
"Baiklah kek, aku juga belum mau mati muda asalkan kakek berjanji kepadaku untuk menceritakan apa masalah kakek dan masalah didalam kerajaan air, Sehingga putri mahkota mereka menghilang"
"Aah... Kakek juga belum memperkenalkan diri kepadaku. Apakah kakek tabib gila sama sepertiku?"
"Siapa yang kamu bilang tabib gila. Hah...? jangan sembarangan kamu" Bentak sang kakek Tabib sambil menatap Yang Xuan dengan ekspresi jelek.
Wajah Sang Tabib tiba-tiba terlihat sendu dan dipenuhi ketidakmampuan.
"Satu bulan yang lalu, istriku bersama putriku pergi menuju pinggiran sungai gang ming mencari herbal. Kebetulan waktu itu kakek kekurangan herbal untuk membuat ramuan. Akan tetapi, menjelang malam hanya putriku yang kembali. Awalnya aku mencurigai putriku dan menghukumnya akan tetapi tidak mungkin dia membunuh ibunya. Putriku juga mengatakan tidak tahu kemana ibunya karena mereka sempat berpisah supaya cepat mengumpulkan apa yang kakek butuhkan"
Sambil menghela nafas panjang dan dan mengingat-ingat kembali penjelasan putrinya.
"Kakek sudah menyisiri sepetak demi sepetak seluruh wilayah kerajaan air akan tetapi kakek tidak menemukannya. Kakek merasa seperti tidak berguna, seharusnya kakek lebih banyak memperhatikan keluarga"
"Apakah kakek sama sekali tidak mendapat informasi atau sedikit petunjuk?"
"Tidak sama sekali, bahkan kakek sudah menyisiri sungai hingga keselat Lei Hong"
"Jangan di cari yang sudah tua kek" ucap Yang Xuan usil dan tersenyum jahat membuat wajah sang Tabib langsung jelek.
"Apa Maksudmu " tanya Sang kakek tabib sambil menggertakkan gigi.
"Cari aja yang muda karena lebih hot kek. Hahaha..." Ucap Yang Xuan dan langsung menjauh takut kena pukulan.
"Kurang ajar kamu. Apakah kamu ingin mempermainkan orang tua. Hah...?" Teriak Sang kakek tabib marah.
"Kakek, besok atau lusa berikan sketsa nenek kepadaku. Siapa tahu aku tidak sengaja bertemu dengannya" Yang Xuan berbicara seperti itu semata hanya karena ingin menghibur Sang kakek tabib.
"Kebetulan kakek mempunyai sketsanya" Sambil mengeluarkan dari cincin penyimpanannya dan memberikannya kepada Yang Xuan.
"Ceritakan tentang kerajaan air kek" Pinta Yang Xuan sambil memperhatikan sketsa itu dengan cermat.
__ADS_1
"Kerajaan air sekarang ini mengalami goncangan hebat bahkan lebih parah dari kerajaan api ini. Apalagi setelah kehilangan putri mahkota mereka, membuat beberapa bangsawan ingin menyingkirkan keluarga Hong karena menurut mereka putri Hai Rong tidak pantas menjadi ratu"
"Menurut kakek. Bagaimana dengan kepemimpinan Keluarga Qian?"
"Kaisar Jiang, Raja Hong Chun serta Raja Qian Fan adalah sahabat baik, mereka datang dari generasi yang sama. memiliki sifat yang sama dan bahkan tidak memiliki selir. Hanya saja Yang Mulia Qian Fan tidak memiliki putra, meskipun begitu Yang Mulia Qian Fan tidak mau menikah lagi" jelas sang kakek Tabib.
"Bagaimana dengan raja kota kek atau jendral serta perdana mentri?"
Menurut pengamatan ku Raja kota Teng chong dan Jendral besar ingin menggulingkan posisi keluarga Qian dari istana. Mereka bekerja sama dengan dua keluarga bangsawan yang mendukung keluarga Qian dan yang paling parah saat ini posisi pulau sihai.
Saat asyik berbincang-bincang Putri Shui kembali memanggil mereka untuk makan malam.
"Ang'er pergilah, Kakek akan menuju penginapan" ucap kakek tabib sambil berjalan keluar dari istana.
"Kakek masih mempunyai hutang kepadaku, Siapa nama kakek, Sial .... Dasar Tabib gila" gerutu Yang Xuan kesal karena dia lupa bertanya dari awal. Sang tabib gila sudah keburu menghilang terbawa angin.
*****
"Nak, silahkan duduk" Ucap permaisuri sambil menyuruh pelayan menghidangkan makanan mewah.
"Hai putri jelek, kenapa kamu tidak mengatakan pada bibi untuk memanggil namaku saja, aku merasa sangat tua di panggil bibi seperti itu" ucap Yang Xuan kesal.
"Hei pemuda aneh, aku juga tidak tahu namamu" jawab Putri Shu tidak mau kalah.
Yang Xuan langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena dia lupa akan hal itu, dia juga melihat semua orang tersenyum menatapnya karena sepertinya mereka juga ingin tahu identitasnya.
"Aah... maafkan aku bibi, aku lupa memperkenalkan diri kepada kalian"
"Apakah masih perlu....? ucap putri Shu acuh tak acuh.
"Hei manusia aneh, kenapa kau makan sayur lahap sekali. Apakah kau tidak sudak makan daging. Apakah kau tidak pernah makan daging dari kecil?" Putri Shu bertanya sekaligus menyindir sambil tertawa sinis.
"Hei putri jelek, Aku dilahirkan di hutan sehingga aku sudah menganggap seluruh hewan adalah sahabatku. Juga Bukannya aku tidak mempunyai koin emas tapi tidak ada yang sanggup membayar ku sehingga aku menolak pemberian mereka yang tidak seberapa itu" Yang Xuan menatap Putri Shu sambil tertawa jahat.
Wajah putri Shu langsung berubah jelek setelah mendengar perkataan Yang Xuan seperti menyindir mereka, Dia langsung terdiam ketika melihat tatapan tajam leluhur Hong.
"Bibi... Aku tahu paman Chun ingin berbicara kepadaku, katakan besok saja dan biarkan dulu paman istirahat malam ini" sambil meletakkan beberapa cairan dan pil serta sumber daya lengkap dengan catatannya.
"Baiklah... Terimakasih nak" ucap Permaisuri tulus.
"Bibi, Aku sangat lelah, aku ingin membersihkan diri dan langsung beristirahat."
"Nak, sebenarnya kami ingin berbicara denganmu akan tetapi sepertinya kamu sudah kelelahan, lebih baik besok saja kita bicarakan" Ucap Permaisuri tidak enak hati.
"Bibi, aku sudah mengambil alih kota Cheng Hai dan Kota Cheng Bai, serta membunuh Patriark sekte giok merah dan membunuh Patriark sekte golok api. Menghancurkan kelompok Harimau gunung dan menghancurkan sekte mutiara merah, sekarang tugasku sudah selesai, aku harap pangeran Shing Xeng bisa membenahi kedua kota itu secepatnya" Yang Xuan menjelaskan semua yang Ia lakukan sepanjang dia berkunjung di kerajaan api.
"Tentu saja nak, Kami juga sangat berterimakasih kepadamu" ucap permaisuri tulus.
Bibi, tentang kediaman tuan kota Cheng Hai, aku juga yang menyegelnya, jika tuan kota itu sudah terpilih aku akan membuka segel itu.
"Terimakasih Nak, pihak istana sangat penasaran tentang hal itu, sehingga kami tidak berani mengambil alih kota itu ketika tuan kota di nyatakan menghilang.
__ADS_1
"Bibi, Aku ingin memulihkan diri dulu, badanku agak terasa sakit, lagi pula aku belum membersihkan diri, maafkan aku bibi" ucap Yang Xuan karena dia ingin menghindari banyak pertanyaan dari penghuni istana tersebut.
*****
Setelah selesai membersihkan diri Yang Xuan duduk lotus untuk berkultivasi akan tetapi dia tidak bisa berkonsentrasi. Dia memikirkan bagaimana caranya menyampaikan bahwa dia telah membunuh Hong Fu dan Hong Zhun kepada penghuni Istana.
Dia yakin leluhur keluarga Hong tidak akan mendengarkan penjelasan darinya, karena Hong Fu sangat licik dan tidak meninggalkan jejak, bahkan namanya masih bersih bagi pihak kerajaan.
"Lebih baik aku bertanya kepada Putri Shu tentang kelakuan Hong Fu di wilayah ini?" Gumam Yang Xuan sambil menghilang dari tempatnya dan muncul di kamar Putri Shu dan langsung menyegel kamar tersebut.
Yang Xuan terbelalak ketika putri Shu berganti pakaian ketika selesai membersihkan diri. Dia menelan ludah beberapa kali ketika putri Shu mengoleskan sesuatu kepada kakinya hingga tangannya terus naik keatas, gaun biru muda itu tersibak karena putri Shu mengangkat kakinya keatas meja hias sambil terus mengoleskan sesuatu. Tangannya terus naik turun hingga ke pangkal pahanya.
Putri Shu membuka kancing gaunnya satu persatu dan mengoleskan sesuatu kepada tubuhnya secara perlahan-lahan. Sambil mengoleskan sesuatu, Putri Shu juga menutup matanya seperti menikmati setiap sentuhan jari tangannya. Melihat itu membuat Yang Xuan terbatuk-batuk karena heran melihat kelakuan putri Shu tersebut.
"Aah,,, Apa yang kau lakukan disini. Hah...? Apakah kau sengaja mengintip ku...? bagaimana bisa kamu masuk kekamarku!" Putri Shu berteriak marah dan memberikan pertanyaan beruntun dan buru-buru merapikan gaunnya yang sudah berantakan.
"Hahah... ternyata tubuhmu mulus juga. Apakah aku boleh menyentuhnya?" sambil menggerakkan jari- jarinya.
"Kurang ajar, aku akan membunuhmu" teriak Putri Shu sangat marah dan langsung mengeluarkan sebilah pedang lembut.
Melihat hal itu, senyum jahat muncul dibibir Yang Xuan. Dia juga mengeluarkan sebilah pedang.
Putri Shu langsung menerjang kearah Yang Xuan, Ujung pedang saling beradu beberapa kali, suara dentingan keras disertai percikan api terus muncul. Putri Shu terlihat begitu marah dan terus mengayunkan pedangnya.
Srek...
Tiba-tiba gaun di antara kedua kaki Putri Shu terkena Ujung pedang Yang Xuan membuat pahanya kembali terlihat.
"Waw...." Yang Xuan langsung tersenyum jahat membuat kemarahan putri semakin menjadi-jadi.
Yang Xuan tahu, Putri Shu tidak akan mengeluarkan jurus karena mereka berada di dalam istana sehingga dia terus meladeninya. Dia tahu putri Shu hanya ingin menarik perhatian penghuni istana karena Yang Xuan telah menerobos kedalam kamarnya.
Melihat gaun diantar kakinya terbelah bukannya Putri Shu menghentikan kegiatannya malah dia semakin marah dan terus mengayunkan pedangnya, sehingga pedang terus beradu. Udara di dalam kamar sudah mulai menghangat.
Yang Xuan terus menekan putri Shu sehingga dia bisa menguasai permainan lalu dia mengunci pergerakan tangannya dan menginjak ujung pedangnya. Setelah itu dia meletakkan pedang nya di leher Putri Shu lalu mencium bibirnya selama satu menit, kemudian dia melompat mundur karena mereka hampir saja kehabisan nafas.
Wajah Putri Shu memerah karena marah, malu, dan dia kembali melompat kearah Yang Xuan dan terus memainkan pedangnya dengan lembut dan mematikan, seperti gadis yang sedang menari. Yang Xuan mengeluarkan auranya karena dia melihat Putri Shu sedikit kehilangan kendali, lalu dia kembali mencium bibir Putri Shu dan mengambil pedangnya secara perlahan dan melemparkannya kepojok ruangan.
Nafas Putri Shu tersengal-sengal, hidungnya kembang kempis, dadanya naik turun, dia merasa tubuhnya seperti terkena jurus petir. Awalnya dia ingin melepaskannya akan tetapi semakin lama semakin terbawa suasana. Yang Xuan juga semakin bersemangat dan tidak sengaja menyentuh sesuatu membuat putri Shu mendesah, tubuh putri Shu menggelinjang beberapa kali karena Yang Xuan terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut. Mungkin karena pertama kalinya membuat Putri Shu merasa seperti terkena jurus dari dewa petir. karena sudah terbawa suasana dan tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi Yang Xuan menghentikan permainannya.
"Aah.... Apa yang kita lakukan? kenapa tidak ada yang mendengar kita bertarung padahal aku sengaja melakukannya untuk menarik perhatian?" teriak Putri Shu malu dengan wajah memerah. Dia segera memperbaiki gaunnya yang sudah berantakan dan berlari kearah tempat tidur.
"Hahaha .... Aku sudah menyegel kamar ini dan tidak akan ada orang yang tahu, bahkan jika istana ini meledak kita berdua akan selamat" Ucap Yang Xuan santai sambil berjalan menuju tempat tidur.
"Hei... Apa yang kau lakukan disini..? Pergi... Aku tidak mau tidur denganmu" teriak Putri Shu kesal.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu. Bagaimana kelakukan tetua Fu di kerajaan ini? Tanya Yang Xuan sambil pelan-pelan mendekat kearah putri Shu dan memeluknya di atas tempat tidur.
"Paman Fu adalah orang yang sangat baik dan selalu mendukung ayahku, bahkan ketika ayah sakit paman Fu selalu membantu mencari tabib. Aahh.. Apa yang Kau lakukan...?"
"Ceritakan saja aku hanya ingin menemanimu supaya kau tidak merasa kesepian. Apa yang kau oleskan kepada tubuhmu kenapa wangi sekali..?" ucap Yang Xuan sambil sesekali memainkan Rambut gadis itu dan tangannya berusaha merengsek memasuki gaun gadis tersebut.
__ADS_1
"Aah... Hentikan..." teriak Putri Shu merasa geli"
"Oke.... selamat malam, aku juga takut mahluk aneh terbangun" Ucap Yang Xuan lalu menghilangkan segel kemudian menghilang dari sada.