
Sebagai salah satu kota besar di kerajaan api, kota Cheng Du akhir-akhir ini di kenal sebagai kota iblis oleh para rakyat baik itu di kerajaan api maupun kerajaan lainnya , karena aura mencekam dan menakutkan selalu memancar dari kota tersebut jika malam hari tiba.
Banyak orang yang berkunjung kesana setiap harinya, walau ada diantara mereka yang menghilang tanpa jejak. Jika pengunjung tidak berhati-hati, mereka bisa hilang kapan saja, bahkan jika itu kultivator sekalipun.
Tetapi sangat sedikit orang yang tahu, bahwa itu semua ulah dari putra pertama kerajaan api yaitu pangeran Hong Zhun, lagi pula hanya pihak istana yang mengetahui bahwa Hong Zhun masih menjabat sebagai pangeran, padahal ia sudah turun tahta, digantikan oleh adiknya.
Karena banyaknya sumber daya di wilayah tersebut, orang-orang tidak peduli walau nyawa mereka sebagai taruhannya, banyak dari para kultivator menutup mata demi meningkatkan kultivasinya, keterampilan yang mereka pelajari, dan juga kebanyakan dari mereka adalah kultivator tingkat rendah.
Sebagai pangeran yang tersingkir, Hong Zhun memutuskan mencari jalannya sendiri untuk melangkah jauh kedapan, dan memutuskan mengambil alih kota Cheng Du sebagai pijakan.
Sebagai putra pertama dari raja Hong Chun, Hong Zhun memiliki kekuasaan walaupun ia sudah turun tahta, juga atas inisiatif oleh kakeknya kota Cheng Du diserahkan kepadanya, itulah sebabnya ia ingin memberontak setelah berhasil membuat aliansi, karena bagaimana pun dirinya masih dikenal luas sebagai pangeran, dan aliansi yang ia buat sangat menghormatinya karena loyalitasnya, bahkan terkadang koin emas tidak berharga baginya, hanya sedikit usaha dan rencana untuk membuat orang tunduk padanya, akan tetapi ia tidak sadar bahwa itu semua pengaruh oleh ayahnya.
Ketika ia berkunjung kepulau sihai, untuk bertemu putri dari kerajaan air, ia sangat arogan dan sombong. ia berpikir akan sangat mudah untuk menaklukkan putri dari kerajaan air tersebut untuk dijadikan selir, tetapi dugaannya salah,
Amarahnya sudah memuncak ketika ia mendengar kabar buruk setelah kembali dari pulau sihai, dan banyak misi yang ia berikan tidak bisa di selesaikan oleh bawahannya, dan bahkan rencana besar mereka semua berantakan.
Beberapa pemuda terbang menabrak dinding sebagai hadiah dari Hong Zhun, setelah mereka gagal menjalankan misi, bahkan beberapa gigi mereka terbang keluar dari mulut para anak buahnya, ada juga yang patah tangan, patah kaki, dan patah rusuk.
"Pangeran .... kami mohon, maafkan kami... " ucap mereka satu-persatu, sambil meringis kesakitan dan bernafas terengah-engah.
"Dasar tidak berguna.... " teriak Hong Zhun sambil meludah kelantai, ia tidak menyangka hanya misi sederhana tidak bisa diselesaikan oleh anak buahnya, padahal sebelumya mereka tidak pernah gagal,
para anak buahnya tidak menjawab bentakan tuannya, mereka sudah mencoba menjelaskan kepada Hong Zhun bahwa informasi tentang kediaman tuan kota Cheng hai belum mereka temukan alasan yang jelas. begitu juga dengan kelompok harimau gunung.
"Pergi, jangan kembali sebelum kalian membawa berita bagus." usir Hong Zhun sambil melambaikan tangannya.
"Baik pangeran.... " jawab mereka dan buru-buru menghilang dari kediaman Hong Zhun tersebut.
Wajah Hong Zhun begitu kusut dan ia masih sulit mengendalikan amarahnya, Ia sudah berpikir jauh ke depan, stelah kepulangannya dari pulau sihai dengan sejuta rencana, Ia sudah berharap kali ini akan sanggup menjatuhkan tahta ayahnya. Bahkan didalam perjalanan menuju kota Cheng Du, senyum sumringah tidak lepas dari bibirnya dan mengirim pesan kepada semua aliansi nya untuk berkumpul di kota Cheng Du.
"Aku tidak percaya orang yang mengaduk-aduk perairan di kerajaan ini adalah adikku." Tiba-tiba Hong Zhun mengeluarkan suara setelah terdiam cukup lama.
Dia berpikir jika adiknya yang membuat masalah dengannya, tidak mungkin adiknya mampu menumpas kelompok harimau gunung bahkan jika adiknya menyewa pembunuh bayaran sekalipun, apalagi ayahnya yang masih dalam keadaan tak berdaya.
Dia masih sulit percaya ribuan aliansi nya menghilang tanpa jejak.
"Pangeran tenangkan diri anda, aku yakin nelayan yang berani mengaduk-aduk perairan kita, akan mati tenggelam diseret oleh ombak." kata seorang tetua dari sekte golok api.
"Apakah kau pikir nelayan itu bodoh, membiarkan dirinya diterjang badai." teriak Hong Zhun sambil menatap tajam tetua itu.
__ADS_1
"Pangeran, aku yakin goncangan yang terjadi di seluruh wilayah kerajaan api, sudah tercium oleh pihak istana, kudengar pihak istana juga menduga, bahwa semua keributan yang terjadi adalah ulah kita, dan tidak mungkin juga kita menyerang istana setelah kehilangan kelompok harimau gunung." ucap patriark sekte giok merah,
Patriark sekte giok merah juga tidak bisa berpikir jernih, setalah kehilangan putranya sebagai calon penerusnya, begitu juga dengan yang lainnya, akan tetapi mereka juga ingin balas dendam, hanya saja kepada siapa....? karena mereka juga belum menemukan siapa yang berani membuat keributan di wilayah mereka, hingga membuat banyak nyawa aliansi mereka menghilang.
"Aku yakin semua masalah yang terjadi sekarang ini berkaitan dengan pemuda gila yang berasal dari daerah lain." Ucap Hong Fu. setelah sekian lama mengamati pertemuan tersebut.
"Apakah paman yakin...?" Tanya Hong Zhun mulai menemukan secercah harapan.
"Paman yakin akan hal itu." jawab Hong Fu tegas.
karena ia juga sudah mendapat informasi dari berbagai tempat, hanya saja ia kehilangan jejak di desa hongger.
"Kami juga yakin Pangeran dengan tebakan tetua Fu, apalagi banyak saksi mata di kedai gunung api waktu kejadian tersebut." kata patriark sekte golok api meyakinkan.
"Bagaimana tanggapan pihak istana tentang kejadian ini." tanya Hong Zhun.
"Mereka sangat senang, bahkan akan memberikan upah yang besar, karena berani menumpas kelompok harimau gunung." jawab Hong Fu kesal.
"Piuh, dasar orang tua sialan." geram Hong Zhun.
Sebelum mereka mendapat solusi, tiba-tiba pintu ruangan pertemuan di ketuk oleh seseorang.
"Saya minta maaf Pangeran, tetua Fu dan para patriark sekte serta para tetua sekte, saya ingin menyampaikan kabar buruk dari sekte mutiara merah." Jawab orang tersebut dengan wajah ketakutan.
"Kabar buruk seperti apa yang ingin kau sampaikan Ye Shui." ucap Hong Fu menahan amarah, bahkan yang lainnya juga menjadi tegang, tidak ada yang berani membuat gerakan.
"Sekte mutiara merah telah binasa tuan, bahkan satu orang pun tidak ada yang dibiarkan hidup. dan bahkan semua bangunan sekte itu berubah menjadi debu." jawab Ye Shui dengan tertawa mengejek didalam hatinya.
"Bagaimana dengan patriark sekte tersebut." Tanya Hong Zhun dengan harap-harap cemas.
"Beliau juga terbunuh pangeran, saya juga menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri." Jawab Ye Shui ketakutan setelah merasakan aura pembunuh menindas tubuhnya.
"Baiklah, sekarang silahkan keluar." sambil melambaikan tangannya mengusir Ye Shui.
" Zhun'er kirim pesan kepada pemimpin bajak laut. supaya mereka menghentikan operasi perebutan tambang. dan suruh dia mengirim anak buahnya datang kesini supaya ada yang menjagamu untuk sementara waktu." perintah Hong Fu kepada Hong Zhun.
"Baik paman, aku juga punya pemikiran seperti itu." jawab Hong Zhun.
"Baiklah untuk saat ini lebih baik kita tidak usah membuat pergerakan, tarik semua anak buah yang menjalankan misi terutama para murid sekte, dan tingkatan penjagaan, aku tidak mau kita mati sia-sia." perintah Hong Fu dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tetua fu..." jawab mereka serempak.
"Sekarang pulanglah kekediaman kalian masing-masing, aku tidak mau kalian berlama-lama diluar." Hong Zhu menambahkan perintah Hong Fu.
Satu- persatu mereka meninggalkan ruang pertemuan, karena mereka khawatir di tempat mereka tidak ada kultivator tingkat tinggi, apalagi saat ini kebanyakan dari pihak mereka lagi menjalankan misi. mereka juga takut tempat tinggalnya berubah menjadi reruntuhan.
"Perketat penjagaan, jangan biarkan orang asing masuk." perintah Hong Zhun sambil melangkahkan kakinya menuju ruang bawah tanah untuk meningkatkan kekuatannya.
"Baik pangeran serahkan pada kami." jawab kepala keamanan dengan penuh percaya diri.
*****
Sementara itu. Yang Xuan telah tiba di kota Cheng Du, ia memasuki pusat kota dengan berjalan santai, Ia memperhatikan bangunan-bangunan mewah berdiri disisi kanan dan sisi kiri jalan, dan ia juga merasakan aura negatif di berbagai tempat.
Ia terus berjalan santai dengan pakaian mewah melekat di tubuhnya, seperti pangeran yang turun dari surga sambil melebarkan senyuman, membuat banyak mata para gadis menatapnya tidak berkedip, bahkan ia terus menebarkan pesona untuk menghilangkan kecurigaan mereka, karena menurut penjelasan Dou Sheng identitasnya sebagai pemuda gembel telah diselidiki banyak pihak. termasuk pihak kerajaan.
"Hei orang tua, apakah kamu tahu dimana kedai giok perunggu...?" Tanya Yang Xuan kepada seorang pria paruh baya dengan arogan, membuat para gadis yang menatapnya menjadi kesal.
"Bajingan... anak muda, dimana sopan santun mu...? apakah seperti itu caramu memperlakukan orang tua...?" jawab pria paruh baya tersebut sambil menatap tajam kearahnya.
"Apakah aku harus sopan kepada pria tak berguna sepertimu...? jangan bermimpi " jawab Yang Xuan sambil meludah ketanah dan pura-pura marah.
"Kurang ajar... aku akan mematahkan tulang-tulang mu dan menginjak mulutmu." teriak pria paruh baya tersebut sambil menahan amarah dan mengeluarkan sebilah pedang.
"Silahkan jika kau mampu." tantang Yang Xuan sambil membuat kuda-kuda.
Seketika pria paruh baya tersebut menerjang kearahnya,
"Lari... " teriaknya keras.
Yang Xuan tertawa terbahak-bahak sambil melarikan diri, ia masih bisa mendengar, pria paruh baya itu mengumpat dan mengucapkan sumpah serapah kepadanya.
"Pemuda yang tampan dan lucu." ucap sebagian gadis yang menyaksikan adegan tersebut.
"Benar... " jawab yang lainnya.
"Puih,,, " seorang gadis cantik meludah ketanah dengan kesal. ia bahkan mengepalkan tinjunya, ia juga menyangka pemuda itu begitu arogan.
Yang Xuan tidak peduli ocehan para gadis tersebut, ia langsung mengirim pesan kepada Dou Sheng supaya menjemputnya di restaurant harimau buas.
__ADS_1
"Hmm,,, nama yang unik. Apakah restaurant ini menyajikan daging hewan buas...?" gumamnya sambil terus melangkah memasuki resturant dengan arogan.