KEMBALINYA SANG PENGUASA

KEMBALINYA SANG PENGUASA
112. Kebahagiaan warga desa ming.


__ADS_3

"Li Ling ... Apakah kamu tidak ingin menjadi kultivator" Tanya Yang Xuan karena dia yakin gadis itu akan menjadi salah satu jenius di masa depan.


"Dari dulu ayah sudah berusaha mendaftarkanku untuk masuk salah satu sekte di kerajaan ini akan tetapi semua menolaknya, kata mereka aku tidak akan bisa menjadi kultivator karena orang awam hanya memiliki tulang biasa dan darah biasa" jawab Li Ling sedih padahal dia hanya ingin melindungi keluarganya saja.


"Apakah kau mau menjadi murid ibuku? Karena aku tidak memiliki ayah lagi sehingga ibuku selalu kesepian" tanya Yang Xuan mencoba merayu Li Ling.


"Ya aku mau.... tapi harus minta izin dulu sama ayah dan ibuku" jawab Li Ling terlihat bahagia.


Yang Xuan tersenyum sumringah lalu dia menceritakan bagaimana seorang kultivator begitu di hormati semua orang dan juga bebas pergi kemana saja yang di inginkan serta memiliki banyak koin emas.


Saat mereka asyik bercerita Elang Putih memperlambat laju terbangnya karena sudah melihat sungai gang ming.


Yang Xuan menyuruh elang putih itu untuk menjelajahi beberapa kilometer arus sungai gang ming hingga mencapai kota laut biru. Dia sangat penasaran kenapa kelompok itu menghilang bahkan beberapa hari Yang Lalu masih ada orang yang hilang. Mereka terus bolak-balik beberapa kali akan tapi belum juga ada kapal yang terlihat.


"Tuan, aku melihat ada sebuah tempat tersembunyi di sekitar tikungan disana" ucap elang putih melalui telepati.


Yang Xuan langsung mengaktifkan mata emas dan melihat kearah yang di tunjuk oleh elang putih itu dan benar saja bahwa ada segel ilusi tingkat menengah.


"Sial, berarti kita terlalu tinggi untuk memantau sungai ini sehingga kita melewatkan beberapa tempat tersembunyi. Aku yakin ada ceruk disana dan merupakan sebuah pintu gua yang sangat lebar sehingga kapal bisa masuk kedalam tebing itu" ucap Yang Xuan sedikit menjelaskan kepada elang putih tersebut.


Yang Xuan Yakin Kelompok perompak itu pasti membuat lorong lebar hingga ratusan meter kedalam tanah sehingga kapal-kapal mereka bisa di sembunyikan disana.


"Li Ling... Apakah kampung mu masih jauh dari sini?" Tanya Yang Xuan sambil mengalirkan energi kepada elang putih tersebut.


"Tidak terlalu jauh kak, Sekitar tiga kilometer dari tempat ini. Apakah kakak menemukan sesuatu di tempat ini?" Tanya Li Ling penasaran.


"Ya, Aku melihat ada sebuah goa di sana. Apakah ada yang aneh di tempat ini sehingga kamu tahu jarak dari sini hingga desa kamu?"


"Benar kak" tempat ini disebut tikungan iblis, sudah banyak orang yang menghilang di daerah ini termasuk para nelayan, warga desa serta kultivator. Bahkan kapal-kapal besar juga sudah beberapa kali menghilang di daerah ini" jawab Li Ling sedikit menjelaskan.


"Baiklah .... sekarang kita pulang terlebih dahulu nanti aku akan memeriksa tempat ini" ucap Yang Xuan sambil menyuruh elang putih memutar tubuhnya kearah selatan menuju hilir sungai gang ming.


Elang putih mengepakkan sayapnya membuat beberapa pohon tumbang di pinggiran sungai gang ming tersebut membuat Li Ling takjub.


"Kakak... seberapa kuat sayap elang ini sehingga pohon-pohon besar itu tumbang" tanya Li Ling penasaran.


"Jendral pilar timur akan dilemparkan hingga kerajaan api jika terkena sayapnya" Ucap Yang Xuan membuat elang putih itu bangga ketika tuannya memberikan pujian padanya.


Li Ling terkagum-kagum kepada sayap elang putih itu karena bisa membunuh tuan kota Ning Xia hanya dengan kepakan sayapnya. Dia juga membayangkan ingin seperti itu dimasa depan.


Elang putih itu tiba-tiba menukik membuat Li Ling tersadar, dengan perlahan elang itu turun di depan gapura desa Ming. Membuat warga desa panik dan berusaha menyelamatkan diri, ada yang berteriak ketakutan sambil menutup pintu rumah masing-masing.


Elang putih berjalan ketengah-tengah desa Ming membuat seorang bocah kumal melompat dari jendela rumahnya. Mulut bocah itu menganga lebar ketika melihat elang putih itu seratus kali lebih besar darinya. Dia berlari menuju elang putih itu ketika dia melihat Li Ling turun dari punggung elang tersebut.


"Kakak Li Ling pulang... ayah... ibu... kakak Li Ling pulang" teriak bocah kumal itu membuat seluruh warga desa kembali berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing.


Mereka penasaran karena Li Ling pulang diantar oleh elang putih raksasa, satu persatu anak-anak kecil bermunculan dan mendekat kearah elang putih tersebut. Mereka melihat elang putih itu dengan takjub karena ukuran tubuhnya yang sangat besar serta bersih dan harum.


"Tulang dewa, darah phoenix, paru-paru naga air, darah gagak emas, dantian dewa, darah iblis, tulang emas. tulang perak. " Gumam Yang Xuan dengan senyuman lebar di bibirnya. Dia menyebut satu persatu kelebihan setiap bocah di kampung Ming tersebut. Bahkan mulutnya menganga lebar karena telah menemukan harta karun.

__ADS_1


"Hei bocah... Siapa namamu? tanya Yang Xuan kepada seorang bocah kumal yang sedang memeluk lengan Li Ling.


"Hang Zhun kak" jawab bocah itu ketika dia mendengar Li Ling memanggil Yang Xuan kakak.


"Apakah kau mau menjadi murid ku?" kita akan terbang di langit setiap hari dengan elang putih jika kau mau menjadi murid ku" ucap Yang Xuan penasaran dengan bocah itu.


"Mau... Mau..." ucap Bocah itu bersemangat.


Yang Xuan tersenyum lebar rencana membuat pasukan surgawi akan segera terwujud, apalagi ada ratusan bocah di desa itu. Dia segera melangkahkan kakinya menuju rumah Li Ling yang sudah terlihat usang dan sebentar lagi akan tumbang dan jatuh kesungai gang ming.


Setelah membuka pintu dia merasakan bau busuk yang menyengat dari dalam rumah, seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya tergeletak tak berdaya dengan kedua kaki yang sudah buntung, satu tangan juga telah menghilang, bahkan lidah juga sudah menghilang.


"Paman ... siapa yang melakukan ini pada kalian" ucap Yang Xuan sangat marah. Siapapun yang menyiksa kedua orang tua Li Ling tidak bisa di ampuni lagi, menurut Yang Xuan mereka lebih baik membunuhnya.


Ayah dan ibu Li Ling berbicara tidak jelas dengan air mata mengalir, mereka sebenarnya lebih baik mati dari pada tersiksa karena tidak kuat menahan sakit setiap hari, akan tetapi anak-anak mereka masih bocah dan belum sanggup untuk hidup mandiri.


Yang Xuan Melihat Li Ling dan adiknya berusaha tegar ketika mengurus orang tua mereka, Li Ling dan adiknya mengelap tubuhnya satu persatu dan memberikannya makanan.


Setelah mereka selesai makan, Yang Xuan memberikan beberapa butir pil kepda kedua orang tua Li Ling, lalu dia menyebarkan aura spritual-nya untuk menyerap kedua pil regenerasi tersebut.


Secara perlahan semua organ tubuh yang menghilang telah tumbuh kembali seperti sedia kala. Li Ling dan adiknya sudah menangis ketika menyaksikan itu.


"Paman... Bibi... Bagaimana perasaan kalian?" tanya Yang Xuan setelah dia melepaskan tangannya dari kedua punggung ayah dan ibu Li Ling.


"Tuan.... Oh tidak... Dewa... Terimakasih...Saya Hang Feng sekali lagi mengucapkan terimakasih" ucap ayah Li Ling bersujud dan menangis sambil memeluk istri dan anak- anaknya. Keluarga itu terlihat menangis bahagia, Ayah Li Ling bersujud hingga beberapa kali.


Hang Feng tahu pil yang di berikan oleh yang Xuan hanya dimiliki seorang kultivator yang memiliki kekuatan Dewa. Di seluruh benua kultivator tidak akan ada yang sanggup membuat pil seperti itu.


Sekitar tiga puluh menit berlalu seluruh warga desa mulai dari bayi hingga lansia telah berkumpul di depan rumah Hang Feng ditengah tengah desa tersebut.


Yang Xuan melompat kepunggung elang putih tersebut, kemudian berbicara dari sana supaya semua orang melihatnya. Dia ingin mengobati para warga desa itu jika mereka setuju pindah dari wilayah itu karena menurutnya desa itu kurang aman. Para warga desa setuju atas usulannya karena selama ini mereka juga sangat menderita.


Yang Xuan terus mengobati warga desa Ming hingga keeseokan harinya karena sekitar dua ratus orang yang menderita penyakit yang berbeda-beda jenis. Wajah-wajah baru bermunculan membuat desa itu kembali ramai. Mereka semua berkumpul dan membuat jamuan sederhana untuk mengucapkan terimakasih kepda Yang Xuan.


"Aku tahu kalian pasti penasaran kenapa aku kembali mengumpulkan kalian hari ini. Jika kalian mengizinkan, aku akan membawa anak-anak kalian untuk menjadi murid-murid Kuil di kekaisaran jiang. Supaya dimasa depan kalian akan memiliki pilar desa. Jika kalian penasaran kepada Kuil yang pernah menggemparkan wilayah timur ini, itu adalah Kuil yang didirikan oleh seorang wanita dan wanita itu adalah ibuku." Kata Yang Xuan panjang lebar.


Yang Xuan juga menjelaskan bahwa iblis di wilayah timur tidak akan lama lagi akan muncul, itulah kenapa dia mendirikan kuil di berbagai tempat.


"Tuan muda... kami akan berdiskusi terlebih dahulu, pendapat yang anda berikan tidak akan pernah kami dapatkan dari siapapun. Kami tidak akan melewatkan kesempatan ini" ucap Ming Kun dengan wajah berbinar. Sebagai kepala desa dia juga gagal mengembangkan desanya bahkan untuk menjaganya saja dia tidak mampu.


Yang Xuan juga menjelaskan apa saja yang mengarah kepada kultivator supaya mereka tidak tertindas lagi di masa depan. Dia juga menjelaskan setelah anak-anak itu kuat mereka boleh memilih jalan hidupnya sendiri.


"Jadi untuk itu izinkan aku membawa anak-anak kalian untuk di didik di Kuil ibuku di kekaisaran Jiang" Ucap Yang Xuan sambil mengeluarkan arak dari cincin penyimpanannya dan membagikannya kepada semua pria dewasa.


Para warga desa berdiskusi terlebih dahulu. Setelah mempertimbangkannya cukup lama mereka sepakat supaya Yang Xuan mengirim anak mereka menuju kekaisaran Jiang.


Setelah mengatakan semua yang diinginkannya, Yang Xuan mengeluarkan semua barang yang mereka beli di kota Ning Xia. Para warga desa begitu antusias saat jamuan berlangsung bahkan dilihat dari pakaian mereka persis seperti di istana kerajaan. Hanya saja jamuan itu bukan mereka yang membuatnya, akan tetapi hidangan yang di beli oleh Yang Xuan dari restaurant tempat Li Ling bekerja. Hal itu juga membuat mereka merasa berhutang budi sekali lagi kepada Yang Xuan dan merasa tidak enak hati.


"Paman-paman.... Apakah kalian mau harta karun?" Tanya Yang Xuan membuat tempat itu tiba-tiba hening.

__ADS_1


"Tuan muda... Siapa yang tidak mau harta karun?" jawab mereka satu persatu sambil mengerutkan dahi.


"Kalau begitu persiapkan kapal, kita akan berangkat untuk mengambilnya saat ini juga" Ucap Yang Xuan sambil menyemangati mereka.


"Tuan muda... jika semua kepala keluarga berangkat siapa yang menjaga desa ini?" tanya kepala desa dengan cemas.


Yang Xuan mengeluarkan Baihu" Apakah seekor hewan buas sudah cukup menjaga desa ini?" tanya Yang Xuan kembali.


"Tuan muda... kami rasa itu masih kurang karena kelompok perompak itu berjumlah ratusan orang" jawab kepala desa dengan cemas.


"Kau terlalu meremehkan ku orang tua, aku sedikit kecewa dengan kalian, bahkan seluruh kerajaan air ini, aku sanggup mengubahnya menjadi gurun pasir " ucap Baihu membuat kepala desa meloncat dari tempat duduknya. Dia tidak menyangka babi hutan itu bisa berbicara.


"Aah... Maafkan orang tua ini karena tidak bisa melihat kebesaran tuan muda, kelompok perompak itu sangat menakutkan bagi kami sehingga kami terlalu berlebihan" Ucap kepala desa meminta maaf.


"Baihu mengeluarkan beberapa hewan buas lainnya membuat para warga desa ketakutan melihatnya. Kalajengking, Lipan bara, harimau berkepala tiga, serigala api, serigala angin serta ular hijau berkepala tiga.


"Apakah mereka sudah cukup menjaga kampung ini. jika tidak, aku masih mempunyai saudara ribuan lagi di kalung ini" ucap Baihu sambil menunjukkan kalung binatang yang ada dilehernya.


"Tuan Muda.... Apakah itu tidak berlebihan" Tanya kepala desa sambil mengelus salah satu kaki kalajengking raksasa tersebut.


"Tidak juga.... Karena kita tidak tahu kapan musuh yang kuat akan muncul" jawab Yang Xuan sambil membuat segel ilusi di sebelah utara gapura desa tersebut untuk menyembunyikan semua hewan buas itu.


"Paman-paman... kita akan berangkat sekarang" ucap Yang Xuan tidak sabar lagi.


Tiba-tiba kepala desa maju dan ingin berbicara" Tuan muda... kebetulan di desa ini hanya kapal-kapal ku yang memiliki ukuran lebih besar kita harus membawa kapal itu karena arus sungai belakangan ini sedang meningkat." Kepala desa memberikan sedikit gambaran tentang sungai tersebut.


Mereka sepakat membawa dua kapal besar, satu kapal untuk cadangan sebab mereka belum tahu rintangan seperti apa yang akan mereka hadapi dan harta karun seperti apa yang mereka cari. Mereka tidak ingin merepotkan Yang Xuan jika tidak keadaan terpaksa.


Saat kapal meninggalkan desa Ming, Yang Xuan mengirim pesan kepada Long Yue bahwa dia telah menyuruh elang hitam dan elang putih untuk mengantar tiga puluh tujuh anak laki-laki dan tiga puluh tiga anak perempuan dari kerajaan air.


Yang Xuan juga mengirim pesan kepada Xian Tang supaya memperlebar pelabuhan di kerajaan zhang Hua, karena dia akan membuka jalur perdagangan dari kerajaan air menuju kerajaan Zhang Hua.


"Berhenti..." teriak Yang Xuan tiba-tiba.


Para pengemudi segera menepikan kedua kapal itu di tempat yang aman.


"Tuan muda... Apakah kita sudah sampai?" Hong Feng segera bertanya karena dia heran dimana letak harta karun di wilayah itu.


Yang Xuan menunjuk sebuah tebing sekitar seratus meter di depan mereka di hulu sungai kemudian dia meleset keudara menuju tebing tersebut.


"Apakah kalian bisa melihat dimana harta karun yang di tunjuk oleh tuan muda? tanya Hang Feng.


"Aku tidak tahu tetua Feng aku hanya bisa melihat tebing batu saja" jawab kepala desa Ming sambil memperhatikan tebing batu tersebut dan bertanya kepada yang lainnya.


"Aku pun tidak tahu , kita sama-sama tinggal disini sudah hampir ratusan tahun. jangankan harta karun anakan ikan saja belum tentu ada di wilayah ini" ucap salah satu tetua sambil tertawa.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak karena memang tidak melihat apapun selain tebing batu. Tiba-tiba ledakan keras terjadi mengejutkan mereka.


"It.... itu.... itu markas perompak badjingan itu" ucap kepala desa Ming terbata-bata setelah tebing batu itu pecah dan terlihat beberapa kapal bersandar.

__ADS_1


"Benar tetua... ternyata kita bukan mencari harta karun akan tetapi merampok para perampok" ucap salah satu diantara mereka membuat yang lainnya tertawa terbahak bahak.


"Bagaimana mungkin pria tua dan lemah seperti kita merampok para perampok" kata kepala desa sambil tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2