
Setelah pagi hari tiba, Yang Xuan ingin membawa Putri Hai Rong menuju desa Ming.
Yang Xuan menyentuh gadis yang tertidur di pangkuannya hingga beberapa kali. Putri Hai Rong bergumam tidak jelas dan mengerjapkan matanya hingga beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Setelah mengetahui bahwa ia tertidur dipangkuan Yang Xuan gadis itu kembali menutup matanya.
Yang Xuan menggelengkan kepala beberapa kali melihat tingkah gadis dipangkuannya. Ia mengeluarkan elang putih dari cincin penyegel benua lalu melompat kepunggung elang tersebut kemudian memasang array pelindung kubah transparan.
Elang putih meleset keatas langit dengan kecepatan tinggi sambil mendengarkan suara telepati yang dikirim oleh Yang Xuan, elang itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Jika bukan karena kamu orang baik sudah kulempar kamu kelautan." gerutu Yang Xuan sambil tertawa.
"Apa...? Apakah kamu berbicara sesuatu padaku?"
Tiba-tiba Putri Hai Rong bangkit dari pangkuan Yang Xuan setelah beberapa kali merasakan ada goncangan dan sangat menggangu waktu istirahatnya. gadis itu tiba-tiba membelalakkan matanya setelah kesadarannya sudah terkumpul. Ia menatap pemandangan indah di setiap tempat dari ketinggian. gadis itu ingin bertanya mereka ada dimana tiba-tiba ia kembali kaget setelah memperhatikan tempat duduknya, ternyata kesadaran gadis itu belum semuanya terkumpul. Bahkan ia lupa tentang bahwa ia telah menanyakan sesuatu kepada Yang Xuan.
"Kita mau kemana?"
Putri Hai Rong bertanya sambil mengelus-elus bulu-bulu elang putih yang begitu cantik dan lembut bahkan sangat wangi. Ia juga heran sejak kapan ada hewan buas yang memancarkan aura menenangkan, bahkan ia merasa aura elang putih itu mirip seperti aura Yang Xuan.
" Desa Ming."
Yang Xuan menjawab pertanyaan putri Hai Rong dengan singkat sambil mengeluarkan makanan dari cincin penyimpanannya, ia meletakkan makanan itu dipunggung elang putih dan menyuruh elang putih memperlambat laju terbangnya.
"Makanlah, kita akan mencari leluhur Li di desa Ming."
Yang Xuan menatap Putri Hai Rong langsung menyantap makanan dengan lahap tanpa menghiraukan ucapannya. Ia membelalakkan matanya tidak percaya, Yang Xuan merasa sifat putri Hai Rong agak mirip dengannya.
"Apakah energi aneh tadi malam bisa membuat energi di seluruh tubuhnya terkuras abis?" batin Yang Xuan keheranan.
Putri Hai Rong memperhatikan wajah Yang Xuan, sejak kebersamaan mereka untuk beberapa waktu gadis itu sudah bisa menebak sepertinya ada yang salah dengan wajah Yang Xuan. Putri Hai Rong memegang wajah Yang Xuan sambil memutar kekiri dan kekanan hingga beberapa kali.
"Katakanlah, Aku tahu pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, apakah ada masalah dengan keluargamu atau masalah lain?" Tanya putri Hai Rong penuh selidik.
Tubuh Yang Xuan terguncang beberapa kali dan menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tiba-tiba menunjuk jubah gadis itu yang terbuka lebar.
Wajah putri Hai Rong tiba-tiba memerah setelah mengetahui dimana permasalahannya. Ia langsung membalikkan badannya dan buru-buru memperbaiki kancing jubahnya. Setelah selesai memperbaiki kancing jubahnya ia menatap tajam kearah Yang Xuan.
"Apa yang kau lakukan dengan pakaianku saat aku tertidur kembali?"
__ADS_1
Putri Hai Rong menggerutu kesal, mereka berdebat untuk waktu Yang lama, setelah itu mereka tertawa terbahak-bahak.
Saat mereka asyik bersenda gurau, elang putih memperlambat laju terbangnya setelah mereka tiba di desa Ming. Yang Xuan menunjuk sebuah tebing batu di sebelah selatan dan elang putih langsung menuju keselatan desa Ming. Saat mereka tiba disisi barat tebing batu itu, ribuan kelelawar hitam muncul dari atas gunung berkabut dari sebelah timur tebing batu itu. Ribuan kelelawar hitam seperti angin tornado melaju kearah mereka. Raungan tornado angin hitam sesekali menyapu lereng gunung dengan liar dan ganas. Pusaran pusaran angin hitam terus bermunculan dari puncak gunung menyapu kawasan tersebut.
Yang Xuan mengabaikan gunung yang menakutkan itu untuk sementara waktu lalu mengedarkan pandangannya di kawasan tebing batu tersebut. Pemandangan yang sangat indah dikawasan itu membuat mata menatapnya lupa berkedip apalagi sebuah air terjun keluar dari dalam tebing menambah keindahan kawasan itu berlipat ganda. Keindahan air terjun itu langsung menghilang setelah Yang Xuan merasakan rembesan aura kematian.
Saat mereka mendekat kearah air terjun suara gemuruh turun dari atas gunung seperti angin tornado. Kelompok kelelawar hitam itu meliuk-liuk di udara saat melewati beberapa bukit kecil dan sepertinya ingin mengusir mereka. Aura kematian yang terpancar dari kelompok kelelawar itu sangat pekat dan mengerikan membuat keseimbangan elang putih di udara sedikit goyah.
"Aya kita tinggalkan tempat ini." ucap Yang Xuan singkat sambil memeluk tubuh Putri Hai Rong dan terbang dari punggung elang putih.
Yang Xuan menghilangkan array pelindung dari punggung elang putih lalu mengeluarkan elang hitam dan elang api dari cincin penyegel benua kemudian mengirim suara telepati kepada ketiga elang tersebut.
Ketiga elang itu meleset kearah timur tebing batu itu untuk Menghadang kelompok kelelawar hitam yang keluar dari gunung berkabut menuju tebing batu untuk mengusir mereka.
"Apakah ketiga elang itu sanggup menghadapi kelompok kelelawar hitam yang menakutkan itu?"
Putri Hai Rong bertanya dengan wajah memucat ketika melihat kelompok kelelawar hitam itu bergemuruh di udara saat turun dari puncak gunung seperti seekor naga yang terbang sambil meliuk-liuk menuruni bukit-bukit di lereng gunung.
"Kita lihat saja, jika mereka tidak sanggup melawannya kita akan menjadikan ketiga elang itu menjadi burung bakar." jawab Yang Xuan.
Kiyak
kiyak
Suara elang terus melengking memenuhi lereng gunung dan bahkan sangat memekakkan telinga seiring badai pisau angin menembak dari kepakan sayapnya. Elang hitam dan elang putih meleset kesana kemari dengan liar dan terus menggempur kelompok kelelawar hitam dengan ganas.
Satu persatu kelelawar hitam berjatuhan dari langit ketika pisau angin menembus tubuhnya. Tubuh kelelawar itu bahkan hampir sama dengan ukuran manusia akan tetapi kelompok kelelawar itu tidak berani mendekat kearah ketiga elang tersebut, padahal elang api masih diam di atas langit dan belum ikut bertempur.
Kelompok kelelawar itu akhirnya membentuk lingkaran di udara karena jumlah kelelawar itu terus berkurang, elang putih dan elang hitam merasakan ledakan aura kematian dari ribuan kelompok kelelawar itu membuat keseimbangan tubuhnya di udara terganggu. Kedua elang itu terbang menukik tajam keluar dari lingkaran formasi kelelawar hitam meninggalkan elang elang api sendirian.
Sebagian kelelawar hitam mengejar kedua elang itu dan sebagian mengepung elang api. Elang api langsung mengepakkan sayapnya dan mengeluarkan badai api, semakin lama badai api semakin meluas. Elang api tersebut mengendalikan api disekitarnya dan mengubahnya menjadi badai panah api lalu meluncur dengan kecepatan tinggi kesegala arah. hanya dalam beberapa tarikan nafas ratusan kelelawar berjatuhan dari atas langit seperti hujan.
Kiyak
Kiyak
Lengkingan suara elang api bahkan dapat memecahkan gendang telinga kelelawar tersebut, karena setiap elang api mengeluarkan suara kelompok kelelawar hitam akan menjauh. Elang api terbang dengan liar dan terus mengeluarkan badai panah api. Kelompok kelelawar hitam terlihat ketakutan melihat elang api tersebut. Bahkan tubuh elang api sepuluh kali lebih besar dari kelelawar hitam sehingga kepakan sayap elang api bisa membunuh kelelawar hitam tewas hanya dengan sekali kepakan.
__ADS_1
Melihat itu, Yang Xuan sangat puas dengan kekuatan elang api itu. kelelawar itu tidak akan tahu bahwa api yang keluar dari tubuh elang api adalah api surgawi.
Putri Hai Rong membelalakkan matanya melihat elang api itu dapat dengan mudah menghancurkan kelompok kelelawar hitam hanya dalam waktu singkat. Gadis itu yakin bahkan menghadapi satu kelelawar pun belum tentu ia sanggup melawannya. Ribuan kelelawar hitam dapat ia saksikan terus berjatuhan dari langit tanpa tersisa.
Saat membunuh kelelawar yang terakhir sebuah tombak energi meleset dengan kecepatan tinggi dari puncak gunung. Dengungan tombak energi diiringi bayangan hitam meleset dengan kecepatan tinggi menuju kearah elang api tersebut. Hanya memiringkan sedikit tubuhnya tombak energi melintas beberapa inci dari leher elang api.
"Bagaimana mungkin serangan seperti itu tidak di ketahui oleh elang api tersebut, apakah penyerang itu lupa bahwa mata elang bukanlah mata sembarangan." batin Yang Xuan setelah melihat tombak itu meluncur hanya beberapa inci dari leher elang api.
Sebelum pertempuran dimulai mata elang api terlebih dahulu mendeteksi apakah lingkaran pertarungan sudah aman atau belum.... itulah kenapa elang api tidak ikut bertempur sedari awal. Lagi pula semua elang tidak akan pernah buru-buru untuk menyerang musuh sebelum mendeteksi kawasan pertarungan.
Elang putih dan elang hitam tiba-tiba mendekat kearah Yang Xuan setelah kedua elang itu berhasil membunuh ratusan kelelawar yang mengejarnya.
"Kerja sama yang bagus." ucap Yang Xuan bangga kepada kedua elang tersebut sambil membuat array pelindung di punggung elang hitam. Yang Xuan tidak menyangka strategi elang untuk menaklukkan musuh sangat bagus, bahkan ia bisa melihat elang api memastikan terlebih dahulu apakah ada bahaya di sekitar pertarungan.
"Gunakan waktu luang untuk berkultivasi." ucap Yang Xuan kepada Putri Hai Rong sambil memberikan beberapa pil kultivasi.
Putri Hai Rong menganggukkan kepalanya sambil melemparkan senyuman manisnya karena ia merasa tidak sia-sia mengikuti Yang Xuan.
Yang Xuan menyuruh kedua elang tersebut membawa Putri Hai Rong menuju sebuah danau kecil dengan pepohonan yang rindang di tepinya. Di pinggiran danau itu banyak binatang liar yang berkeliaran di tempat itu. air terjun dari tebing batu tersebut jatuh menuju danau kecil itu membuat pemandangan di kawasan itu semakin indah. Tapi di balik itu semua Yang Xuan yakin pasti menyimpan banyak misteri.
Setelah itu Yang Xuan terbang menuju lereng gunung, ia menyaksikan elang api tidak gentar menghadapi seorang wanita berjubah merah darah. Ia yakin wanita berjubah merah darah itu pasti ratu dari kelompok kelelawar hitam tersebut.
Pertarungan elang api dengan wanita berjubah merah darah itu terus berlanjut. Kekuatan wanita berjubah merah darah itu sama dengan elang api, bahkan wanita berjubah merah darah itu terus menjaga jarak dari elang api. Saat pertarungan berlangsung yang Xuan mengeluarkan elang api dari cincin penyegel benua. Elang api tersebut jauh lebih kuat dari tiga elang lainnya karena terus menerus berada didalam cincin penyegel benua untuk berlatih sambil melatih anaknya.
"Ada apa Tuan tiba-tiba memanggilku?" Tanya elang api tersebut dengan suara lembut.
"Apa...?" Yang Xuan kaget ternyata elang api itu sudah bisa berbicara. Ia yakin pasti Yang Lun membangunkan elang api itu dengan inti matahari karena kematian Baihu. Yang Xuan hanya menunjuk kesuatu tempat.
"Kurang ajar! Apakah iblis itu ingin membunuh suamiku?" teriak elang api itu sangat marah.
Elang api itu langsung meleset dengan kecepatan tinggi menuju lokasi pertarungan. Hanya dengan sekali cakaran tubuh wanita berjubah merah darah itu terbelah menjadi dua bagian.
"Sial!" gerutu Yang Xuan kesal.
Ia menyesal telah mengeluarkan elang api terasebut, ia lupa kalau elang api itu adalah suami istri, mana mungkin elang api itu akan membiarkan suaminya terluka. Sebenarnya tidak masalah bagi Yang Xuan kedua elang api itu membunuh wanita berjubah merah darah itu hanya saja Yang Xuan membutuhkan sedikit informasi.
Setelah wanita berjubah merah darah itu terbunuh Yang Xuan memanggil kedua elang api dan menyuruhnya memulihkan diri ditepi danau bersama elang hitam dan elang putih. Yang Xuan yakin kedua elang api itu mengetahui bahwa gunung berkabut tersebut adalah segel ilusi dan formasi ilusi.
__ADS_1