
Saat menoleh ke belakang, ternyata mereka mengejarku dengan sepeda motor juga.
Aku pun menambah kecepatan motorku. Serasa jadi Rosi.
Motorku melaju kencang menembus jalan. Lampu merah kuterobos begitu saja.
Tin tiinn!!
Sebuah truk besar ada di depan mata. Dengan cepat kubelokkan motor.
Haah.. hampir saja aku terbang jika tidak reflek membelokkan setir motor.
Saat menoleh ke belakang, ternyata mereka masih mengejarku.
Aku membelokkan motor ke arah pasar yang padat.
"Woyy! Ini pasar!! Bukan arena balap!!" maki salah satu pedagang yang kudengar.
Di depan jalanan makin macet karena bapak pengunjung.
"Permisi, permisi. Numpang lewat," ucapku yang memelankan laju motor.
"Gimana sih! Ini tuh pasar! Bukan jalan raya!!" maki Ibu-ibu.
Untung aku memakai helm dan masker. Jadi mereka tak melihat wajahku.
Tin tin tin!!
Suara klakson motor yang tak sabar dari belakang.
"Minggir woy!!" seru orang suruhan Papa yang kesulitan mengemudikan motornya di tengah-tengah orang berjalan.
Aku segera melajukan motor sebelum mereka berhasil mengejarku.
Prak!
Sebuah telur mengenai kaca helmku. Seorang pedagang telur yang marah pelakunya. Beruntung aku memakai helm.
Berbeda dengan orang suruhan Papa yang berada di belakangku. Mereka tak memakai helm. Menjadikan kepala mereka sasaran empuk para pedagang dan pembeli yang marah.
Aku harus muter-muter dulu, nggak bisa langsung ke arah kos-kosan.
Saat belok ke sebuah gang, itu malah jalan buntu dan ada tangga turunan di sebelahnya. Dan orang suruhan Papa sudah ada di belakangku lagi.
"Sial!" umpatku.
Langsung saja kubelokkan motorku ke tangga turunan itu. Aku turun dari motor dan menuntun motorku perlahan menuruni tangga.
"Itu Tuan Muda!"
Aku menoleh ke belakang. Orang suruhan Papa juga ikut menuruni tangga.
"Siaal!!" Aku kembali mengumpat. Langsung saja kunaiki motor. Aku tak peduli lagi dengan tangga yang kulali.
Gradak gradak gradak!
Timbullah suara itu karena aku memaksakan motorku lewat tangga.
_________
Akhirnya aku sampai juga di kos-kosanku yang baru. Setelah tadi muter-muter biar orang suruhan Papa tak dapat mengejarku.
__ADS_1
Padahal ini hari libur. Tapi suasana sore di kos-kosan ini sepi.
Baru setelah jam delapan malam, terdengar suara di kamar sebelahku. Sepertinya penghuninya sudah pulang.
Saat aku membuka pintu kamar, terlihat ada perempuan yang hendak masuk ke kamarnya.
Dia menatapku. Tapi dua detik kemudian dia langsung membuang mukanya ke arah lain.
Ada dengannya? Kenapa dia membuang muka setelah melihatku?
Kelihatannya dia masih muda banget. Badannya mungil. Apa dia masih sekolah ya?
"Halo Dek!" Kuputuskan untuk menyapanya. "Aku penghuni baru di sini. Adek penghuni di sini juga?"
Alisnya mengernyit saat menatapku. Ah, apa tak seharusnya aku memanggil Adek ya. Tapi kata-kata Adek meluncur begitu saja dari mulutku.
"Iya, salam kenal," jawabnya singkat tanpa senyum sedikit pun.
Padahal aku sudah menambah sedikit senyum di sapaanku tadi.
Tanpa basa-basi lagi, dia langsung berbalik dan hendak membuka pintu kamarnya.
Aku bahkan belum menyebutkan namaku. Tapi dia sudah berbalik begitu saja.
Baru kali ini aku ketemu sama perempuan yang tidak menanyakan namaku.
Jangankan bertanya nama, dia bahkan sama sekali tidak tersenyum padaku.
Tapi saat menatap punggungnya yang sedang membuka pintu kamar, aku merasa sangat familiar. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
"Kenapa Ibu kos membiarkan anak di bawah umur ngekos di sini sih? Ini kan kos-kosan campuran?" gumamku kecil saat melihatnya memutar kunci.
Apa dia barusan mendengar ucapanku ya? Nggak mungkin!
Da menoleh dan menatapku tajam.
"Siapa maksudnya anak di bawah umur? Aku?" tanyanya tiba-tiba.
Gawat! Dia benar-benar mendengarnya!
"Ya, siapa lagi kalau bukan kamu? Kan di sini cuma ada aku sama kamu!" sahutku sekenanya karena tidak tahu harus mengatakan apalagi.
"Denger ya Om, aku tuh bukan anak di bawah umur! Aku udah 22 tahun!"
"Apa kamu bilang?! Om? Umurku baru 23 tahun! Aku bukan Om-om!!"
Apa aku setua itu hingga dia memanggilku Om?
"Siapa suruh muka trapas!"
Aku terbelalak mendengar sahutannya.
"Dasar bocil!" celetukku kesal.
"Denger ya Om, aku tuh bukan bocil! Aku udah 22 tahun!"
"Aku juga bukan Om-om!!" sahutku tak mau kalah sambil sedikit mendekat ke arahnya.
Tapi dia malah terbelalak seperti melihat hantu dan langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Kenapa lagi nih cewek?
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku bingung. Dia masih menutup wajahnya.
"Mohon maaf, kedepannya tolong pakek celana yang lebih tebal!" jawabnya setelah melepaskan tangannya dari wajah dan melihat ke arah bagian bawahku.
Aku mengikuti arah pandangnya yang tepat ke arah sel*ngkanganku.
Astaga!! Celana kolor yang kupakek tidak menjalankan fungsinya dengan benar!
Cewek itu pasti melihat Andri dua! Aaargh! Benar-benar bikin malu!!
Serasa ingin diri ini menghilang saja!!
"K-kalau gitu, aku masuk ke kamar dulu," suaraku tiba-tiba terbata.
Aku langsung masuk kembali ke kamar.
Aaargh! Dasar celana bikin malu!! Padahal ini pertemuan pertama dengan tetangga! Kenapa memberi kesan yang memalukan gini?!
Kulempar celana yang tadi kupakek dan ganti dengan celana yang lain.
Ini semua gara-gara Romi!
Segera kutelfon Romi. Tak berapa lama, nada sudah tersambung.
"Rom! Ini semua gara-gara kamu!!" cercaku tanpa kata pembuka.
[ Apa sih Ndri? Malem-malem telfon langsung marah-marah aja! ]
"Gara-gara kado dari kamu sebulan yang lalu. Kado itu langsung bikin aku malu di hari pertama aku memakainya!!"
[ Kado yang mana? ] tanya Romi yang membuatku semakin geregetan.
Heegh! Sepertinya dia bangun tidur. Karena diajak bicara nggak langsung nyantol.
"Celana kolor yang kamu kasih di hari ulang tahunku! Celana itu benar-benar tidak menjalankan fungsinya! Bukannya menutupi malah menjiplak!! Kamu beli dimana sih celana itu?!" kesalku.
Romi malah tertawa mendengar ucapanku.
[ Hahaha. Maklum lah Ndri, namanya juga sepuluh ribu tiga. Aku belinya di mobil yang keliling itu lho, yang sering lewat di kos-kosanku! ]
"Ya ampun Rom! Kamu niat nggak sih ngasih hadiah!"
[ Ndri, jangan gitu dong. Kamu jangan liat harganya, tapi liat niat tulusku yang memberikan kado itu. ]
Aku mengusap wajahku kasar.
"Ya tapi, gara-gara kado kamu itu.." Aku menceritakan kejadian barusan ke Romi.
Tapi dia malah terbahak-bahak mendengar ucapanku. Langsung saja kumatikan sambungan telfon.
Kusambar handuk dan peralatan mandi.
Sesampainya di kamar mandi, langkahku tercekat. Aku seperti mendengar suara rintihan seperti orang kesakitan.
Tapi kemudian sunyi, suara itu menghilang. Jantungku sudah main orkes di dalam sana.
Apa kos-kosan ini berhantu?! Ah, seharusnya aku tidak mandi malam-malam!
Aku kembali menajamkan pendengaranku. Kemudian suara rintihan itu kembali terdengar.
Mataku terbelalak karena suara itu berasal dari salah satu kamar mandi.
__ADS_1