KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Diserang


__ADS_3

Emi terkejut melihat kedatangan Indah yang main nyelonong memelukku.


Aku menatap gadis yang sedang memeluk lenganku ini. Ingin aku melepaskannya. Tapi Indah begitu erat tak ingin melepaskan lenganku.


"Dia siapa Ndri?!" tanya Emi terlihat tak suka.


"Dia--"


"Apa tanganku yang menempel di lengannya masih belum jelas menunjukkan status kami?!" potong Indah.


"Jadi dia alasan kamu menolakku Ndri?!" tanya Emi memastikan.


"Menurutmu?!" bukan aku yang menjawab. Tapi Indah. "Jika sudah jelas, silakan pergi. Kami ingin menghabiskan waktu bersama!"


Emi langsung menghempaskan kakinya keluar dari ruangan tanpa pamit. Wajahnya terlihat sangat kesal.


Brakk


Tawa Indah tersembur ketika pintu ditutup secara keras oleh Emi.


"Hahaha. Puas aku ngerjain tuh garangan! Tadi dia pasti lagi godain Kakak kan?!" tebak Indah. Tebakannya tak pernah meleset. "Untung aku datang tepat waktu!"


Gadis itu melepaskan tangannya dari lenganku. Indah adalah adik sepupuku.


"Ada apa kamu kesini? Pasti lagi ada maunya kan?" tanyaku menyelidik, menatap gadis yang masih kuliah semester akhir ini.


"Tau aja Kak Andri nih! Aku mau pinjam mobil Kak Andri. Boleh ya? Ya ya!" timpalnya dengan manja.


Sudah kuduga! Pasti ada maunya kalau dia bersikap manis!


"Emang mobil kamu kemana?"


"Disita sama Papa! Aku mau jalan sama temen-temen! Cuma sehari aja kok Kak. Habis itu aku janji bakal isi bensinnya!"


"Nggak ada. Mobil aku dibawa sama Romi!"


"Ck! Tau gitu tadi aku gak usah sok manis gini!" serunya dengan nada yang tak lagi manja.


"Yaudah deh. Kalau gitu aku pergi dulu ya Kak. By!"


Indah berlalu begitu saja dari ruanganku.


"Dasar. Datang kalau cuma lagi ada maunya aja. Tapi nggak papa lah, kedatangan menyelamatkanku dari Emi!"


_________


Tepat pukul delapan malam, aku masih harus meeting lagi.


Gini nih kalau nggak punya asisten, nggak ada yang ngatur schedule.


Apa mereka itu robot yang nggak butuh istirahat kali ya.


Untungnya tempat meetingnya nggak aneh-aneh.


Aku memasuki lift perusahaan milik seorang yang tidak terlalu kukenal. Dia yang ingin meetingnya dilakukan di perusahaannya. Kalau tidak salah, namanya Beni.


Suasana perusahaan sepi. Hanya ada satpam yang berjaga di depan tadi.


Aku tadi diberi tahu bahwa ruangan direkturnya ada di lantai atas.


Begitu sampai di ruangan itu, aku langsung disambut hangat olehnya.


"Selamat malam Pak Andri."

__ADS_1


"Malam Pak Ben," kusambut uluran tangannya.


Di dalam ruangan ini, ada dua bodyguard yang berjaga. Dan ada seorang laki-laki yang berdiri di samping Pak Beni duduk. Sepertinya itu asistennya.


"Pak Andri kesini sendirian?"


"Iya."


"Jarang-jarang ada Direktur yang meeting tanpa asisten," ucapnya lagi.


"Saya tidak punya asisten Pak."


"Saya rasa, banyak wanita yang mengantri untuk jadi asisten Pak Andri!"


"Saya lebih suka asisten laki-laki Pak!"


"Benarkah? Jadi rumor itu benar?"


"Rumor?" tanyaku bingung.


"Rumor yang mengatakan bahwa Pak Andri penyuka sesama jenis!"


Ah, kenapa setiap orang yang kutemui selalu membahas rumor itu!


"Sepertinya rumor buruk cepat menyebar ya," jawabku tenang. "Itu hanya salah paham Pak Ben. Saya masih normal. Tentunya saya masih menyukai wanita. Bisa kita langsung


mulai meetingnya?"


Aku ingin cepat-cepat pulang. Entah kenapa, perasaanku jadi tak enak.


"Tapi saya masih penasaran dengan rumor itu!"


Aku menatap Pak Beni dengan alis bertaut.


"Jadi benar nih kalau Pak Andri normal?" tanyanya lagi.


"Gay tidak melulu pria lemah gemulai. Pria kekar pun bisa jadi mereka belok!" bantah Pak Beni. "Jika Pak Andri memang normal, mari kita buktikan itu!" Pak Beni memberi isyarat pada dua Bodyguard.


Secara tiba-tiba, aku langsung diringkus oleh dua orang itu.


"Apa maksudnya ini Pak Ben?!"


"Apalagi? Aku ingin membuktikannya!" seringainya.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?! Aku tidak punya masalah denganmu!"


"Benarkah? Coba kau pikir-pikir lagi! Bawa dia ke ruangan rahasia!" Pak Beni berbalik membelakangiku.


Saat mereka ingin membawaku, kutendang salah satu dari mereka hingga aku terlepas.


"Tangkap dia! Jangan sampai melukai wajahnya!" seru Pak Beni geram saat melihatku terlepas.


Saat salah satu dari mereka hendak menangkapku, kuarahkan kakiku untuk menendangnya.


Hup!


Sial! Dia menangkap kakiku!


BRUG!!


Aku meringis sakit kala aku jatuh karena kakiku ditarik olehnya.


Aku langsung menghindar begitu dia hendak menginjak perutku.

__ADS_1


Kucekal kakinya dan langsung menariknya hingga ia terjatuh.


Begitu jatuh, langsung kuhujani dia dengan pukulan.


"Hiyatt!!"


Aku langsung menoleh ke belakang. Ternyata bodyguard yang satunya hendak menyerangku.


PRAKK!


Itu bunyi pot bunga kecil yang pecah karena kulempar ke kepalanya.


Andai dia tak berteriak saat ingin menyerangku, mungkin aku tak akan tahu.


Segera aku lari keluar dari ruangan itu.


"BODOH!! Menangkap satu orang saja tak bisa!! Cepat tangkap dia!!" terdengar teriakan Pak Beni. "Wili! Kau kejar dia juga!!"


Saat menoleh ke belakang, dua bodyguard itu mengejarku. Ditambah dengan asisten yang sepertinya namanya adalah Wili.


Ingin aku turun dengan lift, tapi sepertinya mereka akan bisa menangkapku jika aku masuk ke lift.


Jadi aku memilih turun lewat tangga.


GERP!!


Kerah jasku ditahan oleh Wili. Segera kulepas jasku, lalu kutarik jas itu agar Wili mendekat. Kutinju wajahnya sekuat mungkin. Tapi tetap dia tidak tumbang.


Segara aku berlari mumpung dia masih mengerang kesakitan.


Saat menoleh ke belakang lagi, Wili masih mengejarku. Kupercepat lariku menuruni anak tangga.


"TANGKAP DIA WIL!!" teriak Pak Beni yang ternyata juga ikut mengejarku.


DUAK!!


Wili menendang tubuhku. Hampir saja aku jatuh ke bawah jika saja tak berpegangan pada teralis tangga.


Dia mengayunkan kakinya lagi hendak menendangku. Segera kutangkap kakinya dari menariknya.


BRUAG!!


Wili jatuh berguling ke bawah. Segera aku berlari dan melewatinya begitu saja.


Aku terus berlari ke bawah hingga ke lantai satu. Langsung saja aku berlari menuju parkiran.


Saat kurogoh kunci motor, aku tak menemukannya.


"Sial!! Apa jatuh saat di atas tadi ya?!"


Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung berlari ke gerbang. Yang terpenting, aku harus segera keluar dari sini dulu.


Kuraih hpku di celana dan menghubungi Romi.


"Rom! Tolong jemput aku!!" Aku menyebutkan sebuah alamat. "Nanti aku jelasin! Yang penting sekarang, tolong jemput aku secepatnya!!"


Tak lupa aku juga menghubungi Pak Jarwo untuk berjaga-jaga.


"Pak, tolong buka gerbangnya!" pintaku pada satpam setelah sampai di gerbang.


DUAGH!


Benda keras terasa menghantam punggungku. Aku langsung ambruk.

__ADS_1


"Hemh! Menyusahkan sekali! Tau gitu tadi aku langsung cekokin dia obat!" ucap Pak Beni dengan sebuah balok di tangannya.


Setelah itu pandanganku langsung gelap.


__ADS_2