
Kulirik Tisa yang sedang berjinjit-jinjit untuk mengambil baki yang ada di lemari yang nemplok di dinding kayak cicak.
Aku tersenyum melihatnya yang tidak sampai. Membayangkan kalau menikah nanti, dan dia akan selalu membutuhkanku untuk mengambilkan sesuatu letaknya tinggi.
"Sini, biar aku bantu am--"
Zzzzt!!!
Apa itu barusan?!
Aku reflek menarik tanganku karena merasa seperti terkena setrum saat tak sengaja menyentuh tangan Tisa.
"Ehem! Bi-biar aku aja yang ambil bakinya," ucapku memecah keheningan.
"Makasih." Tisa menerima baki yang aku sodorkan.
Setelah itu, aku mengikuti Tisa yang berjalan ke ruang tamu dengan membawa baki berisi minuman dan camilan.
Tapi tiba-tiba aja bayangan saat bibir ini nemplok di hidung Tisa membuat langkahku terhenti.
Segera aku geleng-gelengkan kepala dan bergegas ke ruang tamu.
Aku lihat minuman dan camilan tadi sudah tersaji di meja.
Dan tak sengaja mata ini bertatapan dengan sepasang mata Tisa. Tau-tau kepalaku gerak sendiri untuk menghindari tatapan itu.
_________
Di ruang tamu ini kami terus saja bercakap-cakap tentang aku yang sempat menolak perjodohan ini.
Sementara Tisa hanya diam jadi pendengar.
"Makanya, nurut sama orang tua. Rugi sendiri kan!" ucap Mama sambil tertawa mengejek.
"Bukannya datang ke acara kencannya, eh malah nyuruh temen sendiri buat gantiin kesana. Dasar koplak! Mana disuruh buat ilfil juga lagi!" tambah Mama.
"Ma, udalah jangan bahas itu lagi. Yang penting kan sekarang Andri setuju sama perjodohan ini." Aku melirik Tisa yang acuh tak acuh.
"Ya iyalah kamu nerima perjodohannya. Orang cantik gini kok calonnya!" sungut Mama sambil melirik Tisa.
Sementara yang dilirik tak merasa sama sekali.
Tisa tetap acuh. Padahal kami sedang membicarakannya. Kalau Indah mah cuma ngikik aja dari tadi.
"Coba waktu itu kamu datang kesana. Pasti sekarang kalian udah jadi suami istri!" celetuk Mama.
"Iya, Mama benar. Rugi sekali aku tak segera menyetujui perjodohan ini dari dulu!" sahutku sambil melirik Tisa yang ternyata sedang melirikku juga.
Tapi lirikan mata Tisa seperti mengandung sinar xxx.
Rugi memang aku, andai saja aku dulu datang ke kencan itu.
Kemudian tatapan Tisa beralih ke Mama.
__ADS_1
"Maaf Tante. Karena hujannya sudah reda, Tisa mau pamit pulang dulu," pamit Tisa tiba-tiba sambil berdiri.
"Mau kemana kamu?"
Serempak kami menoleh ke suara berat yang berasal dari pintu.
Rupanya pemeran figuran sudah muncul. Ya, Papaku yang datang.
Sementara Tisa masih terpaku menatap Papa, terlihat Indah ngikik tanpa suara mendengar Papa yang sedang berakting.
Aku segera memelototinya.
"Duduk dulu. Di luar masih gerimis," ucap Papa.
Tisa seperti tersihir dan langsung duduk kembali.
"Sekalian nanti kita makan malam bersama," sambung Papa.
Ya, memang itu tujuan kami membawa Tisa ke rumah ini.
"Ide bagus Pa!" seru Mama. "Tisa dan Indah bantu Mama buat nyiapin makan malam ya!"
Indah tersenyum dan mengangguk mengikuti Mama. Begitu pun dengan aku.
Tapi ketika aku menoleh, Tisa ternyata tak mengikuti kami. Segera aku menahan langkah Indah. Sementara Mama tetap lanjut ke berjalan ke dapur.
Kami berdua mengintip Tisa dan Papa yang masih ada di ruang tamu dari baik tembok.
"Ada apa? Kenapa kamu tak mengikuti Mama?" tanya Papa.
"Kamu nggak mungkin menolak makan malam ini kan?!"
"Hihihi!" Indah kembali ngikik. "Kenapa Om nggak ikut main sinetron aja?"
"Sst! Diem Ndah. Nanti kita ketahuan!"
Dengan Indah yang masih ngikik, aku kembali fokus melihat Tisa.
"Anu.. Maaf Pa-- Eh. Maksud saya Om. Saya ada janji, jadi saya nggak bisa ik--"
"Ya, itu terserah kamu sih." Papa memotong ucapan Tisa. "Boleh-boleh saja kamu tidak ikut makan malam. Tapi begitu kakimu melangkah keluar dari rumah ini, di saat itu juga Ayahmu akan tahu di mana alamat kos-kosanmu!"
"Gi-laa!! Keren banget akting Om! Lihat itu, Kak Tisa langsung membeku!" bisik Indah sambil ngikik lagi.
Dan saat Tisa berbalik akan berjalan ke dapur, aku dan Indah gelagapan lari ke dapur.
Kami menggunakan jurus ngawang agar saat lari tidak menimbulkan suara.
Sesampainya di dapur, kami tertawa tanpa suara. Udah kayak Master siapa sih itu? Yang nggak pernah ngomong itu lho, aku lupa.
"Kalian kenapa sih?" tanya Mama sambil menimbang tepung. Entah mau buat apa.
"Ssst Ma! Tisa mau kesini!" Aku menaruh jari telunjuk di bibir.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba, Indah mengambil tepung yang sedang ditimbang Mama dan mencoret mukanya sendiri dengan tepung itu.
Dan detik berikutnya, tepung itu juga mendarat di wajahku.
"Ih! Andri! Kamu jail juga ternyata ya!"
Aku melotot ke Indah yang mencoret mukaku dan memanggilku tanpa embel-embel 'Kak'.
Tapi mata Indah memberi kode padaku kalau ada Tisa yang sedang bersembunyi dibalik ambang pintu dapur.
Aku mengangguk mengerti. Sementara Mama juga terlihat menangkap sinyal-sinyal dari Indah.
"Duh... kalian ini jangan bercanda terus dong! Nanti nggak selesai-selesai nih masaknya!" protes Mama sambil mengedipkan satu matanya.
Lagi, kami ngikik tanpa suara.
"Mana? Kok Tisa nggak masuk-masuk?" tanyaku tanpa suara. "Coba liat kesana!"
Indah pun mengangguk dan berjalan ke arah ambang pintu dapur.
Setelah sampai di ambang pintu dapur, Indah menoleh padaku dan mengangguk. Yang artinya, di sana memang ada Tisa.
"Loh? Tisa? Kamu ngapain jongkok di situ? Kenapa nggak masuk ke dapur?" tanya Indah.
Segera aku juga mendekat kesana.
Terlihat Tisa sedang duduk jongkok. Dia mendongak menatap kami.
"Ahaha... Ng.. Ini.. Kakiku gatal!" kilah Tisa terbata-bata.
Jelas sekali dia sedang berbohong. Aku tau dia enggan masuk ke dalam dapur karena mendengar aku bercanda dengan Indah. Dan dia sedang menguping percakapan kami.
"Oh.. kirain ngapain. Yuk masuk, Mama udah mau mulai masak tuh!" Indah membantu Tisa berdiri.
"Kita mau masak apa Ma?" tanya Tisa langsung menghampiri Mama yang sedang sibuk menuang tepung.
"Kita akan bikin koloke."
"Sini, biar Tisa bantu Ma!"
"Sa, pakek celemek dulu. Biar nggak kotor bajunya!" Indah memberikan celemek ke Tisa.
"Sini aku pakein," tawar Indah.
Aku pun juga ikut memakai celemek. Ya, meskipun aku nggak ikut masak. Hehehe.
Aku tersenyum mengawasi Tisa yang sibuk memotong ayam.
Duduk di meja dapur ini, membuatku leluasa melihat gerak-gerik Tisa.
Sesekali Tisa terlihat berusaha menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya gegara rambut itu digerai.
Dia melirikku sekilas. Segera aku memasang senyum termanis. Dan ternyata dia melengos dong. Senyumku dikacangin gaes.
__ADS_1
Tak apalah. Yang penting, dia itu adalah calon istriku. Dan kenyataan ini membuatku tak henti-hentinya mengulum senyum.