
"Jadi Kakak dijodohin sama Om Wijaya?"
Ternyata Indah juga ikut menguping. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
"Terus Kakak setuju?"
Aku hanya menggeleng menjawab menjawabnya. Sementara Indah hanya manggut-manggut.
"Iya juga sih, jaman sekarang siapa yang mau dijodoh-jodohin. Aku juga pasti akan nggak setuju jika dijodohin!" timpal Indah.
"Eh, tapi kenapa Kakak nggak setuju? Kakak kan nggak punya pacar? Atau jangan-jangan, Kakak udah punya cewek nih!"
Aku hanya menggeleng. Saat ini memang tidak ada seorang cewek yang terpatri di hati.
_________
Setelah sampai di kosan, aku langsung membasuh wajah yang tadi dipoles Indah.
Suasana kosan sangat rame karena ada yang sedang hajatan. Belum lagi sound sistemnya yang mengarah ke kosan kami.
Setiap hentakan musiknya menggetarkan kaca jendela.
Baru juga keluar dari kamar mandi, aku langsung disambut oleh Iren.
"Kamu sembunyiin dimana Tisa hah?!"
"Hah?" Aku mengernyit bingung. Pasalnya dari pagi aku belum bertemu Tisa.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu kamu ya! Aku tahu seharian ini kamu pasti jalan-jalan sama Tisa kan?!"
"Apa sih Ren, orang aku dari tadi pagi belum ketemu sama Tisa!" Kuabaikan dia dan berjalan keluar dari kamar mandi.
Saat ingin masuk kamar, kulihat kamar Tisa memang sepi. Lampunya juga tak menyala.
Kemana dia?
Tiba-tiba Iren mencekal lenganku ketika aku akan masuk kamar.
"Ndri, kamu ingat kan. Kalau kita akan bersaing secara adil. Katakan, dimana Tisa!"
Aku berdecak kesal. Segera kutarik tanganku dari cekalannya.
"Udah aku bilang, seharian ini aku nggak ketemu sama Tisa! Ya mana aku tahu dia ada di mana!"
Bersaing katanya? Hemh! Sepertinya dia bersaing dengan angin! Lagian siapa coba yang bersaing dengannya!
"Terus Tisa kemana dong? Ini udah malam, dari tadi siang Tisa keluar setelah aku me--"
"Me- apa?" tanyaku karena Iren tak melanjutkan perkataannya. Iren diam tak menjawab.
"Me- apa Ren?! Kamu ngapain Tisa?!"
"Aku nggak ngapa-ngapain dia kok! Udahlah!"
Iren berlalu dari hadapanku dan masuk ke dalam kamarnya. Aku pun juga masuk ke dalam kamar.
Memangnya apa yang sudah terjadi antara Tisa dan Iren?
__ADS_1
Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Mata tak bisa terlelap karena kerasnya musik orang hajatan. Rasanya ulu hatiku ikut bergetar.
Aku pun memutuskan untuk keluar cari angin. Aku membawa payung karena di luar gerimis.
Kulihat Iren juga keluar dari kosan dengan membawa dua payung.
Aku melangkahkan kakiku menuju alun-alun kota. Kosanku memang dekat dengan alun-alun.
Suasana di alun-alun mulai sepi karena gerimis.
Tiba-tiba gerimis berubah menjadi hujan.
Mataku tak sengaja menangkap seseorang yang sedang duduk di bangku tengah taman dengan menengadahkan kepalanya ke langit.
Itu Tisa ya?
Aku menghampirinya dari belakang. Tisa terpejam dengan menengadahkan wajahnya ke langit. Punggungnya bersender ke kursi.
Aku berdiri di belakangnya dengan memayungi Tisa.
Apa dia tertidur?
Dua detik kemudian mata Tisa terbuka. Mata kami bertemu ketika Tisa menatapku.
Tiba-tiba jantungku mendadak berpacu cepat.
"Ngapain hujan-hujanan di sini? Yang lain udah pada neduh tuh!" tanyaku berusaha mengabaikan debaran jantung.
Apa jangan-jangan aku benar-benar sakit jantung? Sepertinya aku harus benar-benar periksa ke dokter!
Tisa bergeming tak menjawab.
Suara Iren mengejutkan kami berdua. Dia berdiri tak jauh dari kami dengan tangan kanan memegang payung untuk memayungi dirinya sendiri, sementara tangan kiri memegang payung yang masih tertutup.
Apa tadi Iren keluar karena ingin mencari Tisa? Buktinya dia membawa dua payung.
Tunggu! Barusan dia mengatakan kalau aku pacar Tisa? Dia telah salah paham!
Tisa menatapku dalam diam. Sepertinya telah terjadi sesuatu antara Tisa dan Iren. Makanya Tisa nggak mau pulang ke kosan. Dan Iren mencarinya.
Apa Iren sudah mengungkapkan perasaannya ke Tisa?
"Kau tidak perlu lagi menjelaskannya padaku. Sesuai perkataanku, aku tidak akan mengejarmu lagi karena kamu sudah punya pacar!" seru Iren dan pergi meninggalkan kami.
Sepertinya benar. Pasti Iren sudah mengungkapkan perasaannya.
Tisa kembali menatapku. "Makasih ya Ndri!"
Aku ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Tisa langsung menceritakannya sebelum aku bertanya.
Dia menceritakan tentang Iren yang mengungkapkan rasa sukanya. Tentu saja Tisa menolak.
Tapi Iren tetap memaksa dan akan menyerah jika Tisa punya pacar.
Dia bersyukur karena Iren salah paham dengan kami.
__ADS_1
"Tapi Iren nggak ngapa-ngapain kamu kan?"
Tisa hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Makanya, dibilangin nggak percaya! Ngeyel sih!"
"Hehe, maaf. Soalnya kayak nggak masuk akal gitu kalau ada cewek yang suka cewek. Tapi kamu kok bisa tahu sih Ndri kalau Iren suka sama aku?"
Aku terdiam sesaat tak menjawab Iren.
"Padahal waktu itu, kamu ngasih tahu kalau Iren suka sama aku pas hari pertama Iren baru pindah kesini. Kamu langsung peka dan menyadarinya!"
Iya lah aku peka. Soalnya aku udah pernah mengalaminya. Tapi nggak mungkin aku nyeritain itu ke kamu!
_________
Keesokan harinya, aku melihat Iren dengan koper besar di depan kamarnya. Ada Pipit dan juga Tisa.
"Loh, Iren mau pindah?" tanyaku bergabung dengan mereka.
Iren mengangguk dengan wajah yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadapku.
Tak berapa lama, sebuah taksi berhenti di depan kos.
"Sepertinya taksi yang aku pesan sudah sampai. Aku pamit ya." Iren menarik koper besarnya masuk ke taksi.
"Selamat tinggal semuanya!" Iren melambaikan tangannya. "Selamat tinggal Tisa."
Aku melirik Tisa yang juga melambaikan tangannya.
Tak selang berapa lama, Ibu kos datang dengan seorang pria di belakangnya.
Sepertinya dia orang yang akan tinggal di kamar bekas Iren.
Pria itu bertubuh tinggi dengan perut sedikit buncit. Sepertinya dia sudah menikah, karena aku melihat ada cincin di jari manisnya.
Aku tak terlalu kepo dan langsung masuk ke kamar. Meninggalkan Tisa dan Pipit yang masih berdiri di depan kamar Iren.
_________
Saat akan ke kamar mandi, aku melihat Tisa dan Om penghuni baru berpapasan.
Mata Tisa tak lepas dari dada Om itu.
Apa-apaan itu? Dia pas pertama ketemu aku aja kayak nggak mau lihat aku. Tapi ini malah melotot liat dada orang! Mana udah Om-om lagi!
Langsung saja kuhampiri dia dan menutup matanya.
"Jaga mata! Masih di bawah umur!"
Tisa langsung melepas tanganku yang sedang menutupi matanya.
"Aish! Ck, memangnya aku lihat apaan?!"
"Aku bisa melihat kamu memandang dada Om itu!"
"Ngawur!! Aku nggak lihat dada Om itu tahu!! Lagi pula, aku nggak doyan sama Om-om!" Tisa berlalu masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Meninggalkanku yang masih merasakan sebuah rasa aneh di dada.
Apa ini gejala penyakit jantung?