KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Simpan Kagetmu Untuk Besok


__ADS_3

Tisa langsung menoleh begitu mendengar suaraku.


"Ternyata kita jodoh ya! Padahal nggak janjian, tapi warna baju kita samaan!" Aku terkekeh kecil.


Tisa terus menatapku tanpa suara. Aku pun berjalan mendekat ke arahnya.


"Meskipun kita sering bertukar kabar, kau tidak tahu namaku bukan?" ucapku sambil tersenyum.


Ah, rasanya sedikit tidak nyaman dengan kulit palsu ini.


"Kenalkan, namaku Putra!" Aku menjulurkan tangan padanya.


Aku tidak berbohong. Namaku adalah Andri Putra Wijaya.


Karena Tisa tidak kunjung menyambut tanganku, segera aku meraih tangannya untuk berjabat tangan.


"Aku tahu aku ganteng, sampai-sampai membuatmu terpaku seperti itu!" lirihku.


"Apa?!" Tisa segera menarik tangannya dengan mata mendelik ke arahku.


"Karena semuanya sudah lengkap, sebaiknya ayo kita mulai makan malamnya!" ucap Ayah yang membuat kami semua melangkah ke meja makan.


Aku berjalan di belakang Tisa dan duduk di kursi sebelahnya.


Mengetahui aku duduk di sampingnya, Tisa segera berpindah dan duduk di kursi yang berjarak dua kursi denganku.


Segera aku berpindah duduk di sampingnya lagi


"Kamu ngapain deket-deket aku sih?!" ucapnya sinis.


"Kita harus berdekatan agar kamu lebih mengenalku!" Aku tersenyum simpul ke Tisa.


"Memangnya untuk apa aku mengenalmu?!"


"Tisa, begitukah caramu berbicara pada cakon suamimu?!" tegur Ayah Tisa yang baru duduk di meja makan.


Tisa diam tak menjawab. Dia hanya melirikku kesal.


"Sampai kapan kau akan memakai topimu itu?!" Ayah menatap tajam Tisa. "Ini di dalam rumah, buka topimu!" titah Ayah.


Tanpa membantah Tisa segera melepaskan topinya.


Astaga! Lihat itu karet yang dibuat untuk mengikat rambutnya yang basah. Pasti itu karet bekas nasi goreng. Niat sekali dia membuat ilfeel.


Belum lagi rambutnya berantakan yang sepertinya memang niat tidak disisir.


Dengan bangga Tisa menunjukkan rambutnya yang berantakan.


Segera aku melepas karet gelang itu dan memutuskannya.


"Kalau masih basah gini, jangan diikat. Nggak baik buat rambut kamu!" Aku juga menyisir rambutnya dengan jari-jariku.


Dengan cepat Tisa menepis tanganku. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara.


"Singkirkan tanganmu dari rambutku!" itulah kata-kata yang kutangkap dari gerak bibirnya.


Karena gagal membuatku ilfeel dengan penampilan, kini dia ganti membuatku ilfeel dengan cara makannya.

__ADS_1


Tisa sengaja makan seperti orang belum makan seminggu. Aku tahu dia sengaja makan belepotan gitu.


"Apa ini Tisa! Kenapa cara makanmu seperti itu?!" tegur Ayahnya


"Hehehe, maaf. Aku lapar Ayah," sahut Tisa.


"Memangnya sudah berapa hari kau tidak makan?!"


"Sepertinya karena ada aku nafsu makan Tisa jadi bagus Yah!" timpalku.


Tisa menoleh menatapku tak suka. Aku tahu dia sedang kesal padaku.


"Duh, lihat ini! Sampai belepotan kayak gini!" Aku mengambil sisa nasi yang ada di sudut bibir Tisa.


"Stop!" Tisa mencegah tanganku.


Aku mengangkat sudut bibirku dan mendekat ke telinga Tisa.


"Apa ini? Jadi kau sengaja menempelkan nasi itu agar aku yang mengambilnya kan?" bisikku


"Ehem!"


Deheman Ayahnya hanya bisa membuat Tisa mendelik padaku tanpa bisa protes.


"Ada yang ingin Ayah sampaikan."


Sebelum melanjutkan ucapannya, Ayah dan Bundanya Tisa mengangguk dan tersenyum satu sama lain.


"Kita akan mengadakan pertunangan kalian secepatnya!"


"Uhuk uhuk uhuk!"


Tapi dia malah menghiraukan gelas dariku dan memilih memukul-mukul dadanya agar nasinya turun.


"Ada apa ini Ayah? Kenapa tiba-tiba?!" tanyanya.


"Lebih cepat lebih baik! Bukan begitu Bunda?" Bunda mengangguk membenarkan ucapan Ayah.


"Tapi Yah, aku masih belum terlalu mengenalnya! Beri aku waktu untuk lebih mengenalnya dulu!"


"Jangan bohong Tisa!" Ayah tersenyum simpul pada Tisa, lalu berganti tersenyum kepadaku. "Putra bilang kalian sering telfonan dan saling mengirim pesan! Bukankah itu tandanya kalian sudah dekat?"


Tisa langsung menoleh menatapku.


"Kenapa kau membual?"


"Kapan aku membual?" sanggahku. "Bukankah kita memang sering telfonan dan mengirim pesan?"


"Tapi kan--"


"Sudahlah Tisa, percaya sama Ayah. Ini yang terbaik untukmu!" Ayah memotong ucapan Tisa.


Kemudian Ayah mengatakan tanggal pertunangannya.


Aku melirik Tisa yang nampak sedang berpikir keras. Tak lama setelah itu, dia membuka suara.


"Maaf Yah, sepertinya pertunangannya harus diundur. Di hari itu aku ada meeting penting di kantor. Aku rasa aku tidak akan mendapatkan izin cuti--"

__ADS_1


"Jangan khawatir, Ayah sudah meminta izin cutimu ke Andri!" potong Ayah.


"Apa?!" Tisa begitu terkejut mendengar Ayahnya sudah meminta izin cuti ke Andri yang adalah diriku sendiri. Hahaha.


_________


Setelah selesai makan malam dan berbincang-bincang tentang pertunangan, Tisa pamit pulang. Segera aku menyusulnya yang sudah berjalan keluar rumah.


"Aku akan mengantarmu!" ucapku pada Tisa.


"Tidak perlu, aku akan naik ojek saja!" ketusnya.


"Tidak usah naik ojek. Ayo aku antar saja!" Aku menarik tangannya masuk ke dalam mobil.


Tak ada perbincangan selama perjalanan pulang. Berkali-kali aku mendengar Tisa menarik nafas.


Sampai di kosan pun, Tisa naik keluar dari mobil tanpa suara. Bahkan dia nggak bilang terima kasih.


"Tunggu Sa!" Aku mencekal tangannya ketika dia hendak keluar dari mobil.


"Ini untukmu. Pakailah pas hari pertunangan kita!" Aku menyodorkan sebuah paper bag yang berisi sebuah dress warna putih.


Dia masih bergeming, dia tak mengambil paper bag yang kusodorkan.


"Ayolah, jangan cemberut seperti itu. Setelah kita bertunangan nanti, kau pasti akan jatuh cinta padaku!" Aku mengedipkan satu mata.


Aku terkekeh saat melihatnya memutar bola mata. Dia masih belum mengambil paper bag yang kusodorkan.


"Ambillah! Kenapa kau hanya diam? Oh, jadi kau ingin aku mengantarmu sampai ke pintu kamarmu?"


Segera aku mematikan mesin mobil dan berniat turun dari mobil.


"Tidak perlu!" Tisa langsung menyambar paper bag dari tanganku dan keluar dari mobil.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya Say. By by!" pamitku.


"Say say say, emangnya syaiton?!"


Aku hanya terkekeh mendengar sahutan Tisa. Setelah itu mulai menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan kosan.


_________


Setelah menaruh mobil di pelataran rumah Ibu kos dan ganti pakaian, aku pulang ke kosan dengan naik sepeda motor.


Lampu dapur masih menyala. Pasti itu Tisa.


Aku langsung berjalan ke dapur dengan bersiul-siul. Besok aku tunangan sama Tisa. Ya, tadi Ayahnya Tisa mengubah tanggalnya lagi dan ingin pertunangan dilansungkan besok saja.


Bener apa yang aku bilang, Tisa ada di dapur. Dia sedang makan mie kuah.


Dua sudut bibirku melengkung ke atas sambil melangkah masuk ke dapur.


"Cieee yang sebentar lagi mau tunangan!" godaku.


Tisa hanya melirik tanpa merespon.


"Oh iya Sa, tolong sampaikan ke Ayahmu kalau aku nggak bisa datang ke acara pertunanganmu. Soalnya pada hari itu aku juga akan tunangan!"

__ADS_1


Tisa langsung menoleh mendengar ucapanku barusan.


Nggak usah kaget gitu kali Sa. Simpan rasa kagetmu buat besok. Karena besok kamu akan lebih kaget lagi saat tahu siapa Putra.


__ADS_2