
"Selamat datang!" sambut pelayan kafe dengan senyum ramah di depan pintu masuk.
Aku memilih duduk di kursi bagian pojok. Biar bisa mojok bareng Tisa. Eaaa.
Ngarep bener. Jangankan mojok, nyairin es batunya aja susah.
Kami juga memesan beberapa macam eskrim.
Banyak pasangan yang datang ke kafe ini.
"Tuh kan, apa aku bilang?! Mereka nggak akan tahu kalau kita itu bukan sepasang kekasih!" bisikku sambil sedikit memajukan wajahku ke Tisa.
Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Sambil menunggu pesanan, Tisa terlihat memainkan hpnya.
"Tisa?! Kamu pacaran sama Andri?!"
Entah datang dari arah mana. Pipit dan Virman tiba-tiba sudah berdiri di samping meja kami.
"Kafe ini kan sedang promosi setengah harga untuk pasangan kekasih. Kalau kalian ada di sini, artinya kalian pacaran?!" tebak Pipit lagi.
"Tega kamu ya Tis! Kamu bilang aku itu sahabatmu, tapi kamu nggak cerita kalau udah jadian sama Andri! Sebenernya kamu masih menganggap aku sahabat nggak sih?!!"
"Ngawur!! Aku dan Andri itu--"
Tisa urung melanjutkan bicara saat waiters mengantarkan pesanan kami.
Jika Tisa tidak mengerem lidahnya, mungkin waiters itu bakalan tahu kalau kami tidak pacaran.
Bukan masalah harga eskrim sih, tapi aku jadi tidak bisa menikmati pura-pura jadi pacar Tisa.
Saat Pipit hendak nyerocos lagi, Tisa langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Nanti aku jelasin semuanya! Tapi nggak di sini!" bisiknya di telinga Pipit.
"Oke! Kamu hutang penjelasan kepadaku!"
Setelah mengatakan itu, Pipit berlalu duduk di meja yang tidak jauh dari kami. Matanya terus mengawasi Tisa
"Sa, dokumen untuk meeting besok pagi sudah kamu siapkan?" tanyaku sambil menyuapkan es krim ke mulut.
"Sudah!" sahut Tisa dengan menyendok es krim rasa vanilla.
"Setelah meeting itu, siangnya kita ada meeting lagi Sa."
Tisa mengernyit. "Besok kan jadwalnya, meeting cuma satu kali? Lalu siapa yang mendadak ingin meeting denganmu?"
"Pak Darma. Besok dia ingin membahas tentang proyek pembangunan apartemen di tengah kota!"
Terlihat raut wajah Tisa berubah. Aku tidak tahu kenapa.
________
Keesokan harinya aku lagi-lagi tak bisa berangkat ke kantor bareng Tisa.
Aku berangkat duluan karena ada yang harus aku urus di kantor pusat.
Saat kembali ke kantorku, Tisa sudah ada di ruangan. Alisku menyatu melihatnya memakai masker.
"Kenapa kamu memakai masker?"
"Iya, aku pilek." Tisa membetulkan letak maskernya.
"Hah? Pilek? Mulai kapan kamu pilek?! Kamu udah minum obat belum?!"
Kata-kata khawatir itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Tisa hanya mengangguk menjawabku.
Aku hanya mengernyit saat menatap bulu mata palsu Tisa.
Tumben-tumbenan dia pakai bulu mata palsu.
_________
Setelah meeting pertama selesai, kami pergi ke kafe yang ada di depan kantor. Meeting dengan Om Darma akan berlangsung di sana.
Entah kenapa aku menangkap gelagat aneh dari Tisa.
__ADS_1
Mulai dari kakinya yang digoyang-goyang, sampai jarinya yang mengetuk-ngetuk meja kafe.
"Kamu kenapa Sa? Kok kayaknya kamu gelisah?"
Mendapati pertanyaanku, Tisa berhenti mengetukkan jarinya ke meja. Dia beralih menatapku.
"Ahaha. Aku nggak papa kok! Aku hanya sedikit gugup karena mau meeting. Bukankah kamu bilang dia CEO perusahaan terkemuka?"
Aku terkekeh kecil mendengar ucapannya. "Kamu tenang aja Tisa. Jangan gugup, ada aku di sini."
Dia hanya mengangguk. Tapi sepertinya dia masih gugup. Mungkin aku harus mengajaknya bicara agar menghilangkan rasa gugupnya.
"Oh iya Sa. Dokumen untuk meeting dengan Pak Darma mana? Aku mau cek lagi." Aku hanya bertanya asal untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa gugup.
Saat membuka map yang dipegangnya, Tisa terlihat terkejut.
"Ndri, aku membawa map yang salah. Ternyata map yang kubawa kosong! Aku akan kembali ke kantor dan segera mengambilnya. Mumpung Pak Darma masih belum datang!" serunya
Aku mencekal tangan Tisa yang hendak berdiri.
"Sa, biar aku aja yang ambil. Kamu tunggu di sini."
"Udah Ndri, nggak papa. Biar aku aja yang ngambil. Lagian dokumen itu ada di meja kerjaku."
Tisa berlalu keluar dari kafe.
Tepat setelah Tisa kembali, Om Darma datang. Tisa terlihat semakin gugup.
Meskipun wajahnya tertutup masker, aku bisa melihat itu dari sorot matanya. Apalagi saat dia akan bersalaman dengan Om Darma.
"Melihat matamu, entah kenapa matamu terasa tidak asing," ucap Om Darma ketika mereka bersalaman.
Mungkin Om Darma ingin berbasa-basi dengan Tisa. Tapi Tisa sepertinya tidak tertarik dengan basa-basi itu.
"Ayo kita mulai meetingnya sekarang," ucapku.
Kami pun memulai meeting. Suara Tisa agak sedikit berbeda dari biasanya. Mungkin itu efek pilek.
Ketika meeting berlangsung, sangat sulit untuk mencapai kesepakatan dengan Om Darma.
Berkali-kali aku meyakinkannya dengan keuntungan yang akan diperolehnya.
Tapi dia tetap menolak kesepakatan itu. Dia ingin proyek ini dijalankan sesuai dengan prosedurnya.
"Melihat pembawaanmu, aku jadi teringat dengan seseorang. Pembawaanmu ketika meeting sama persis dengannya," ucap Om Darma ke Tisa. "Siapa namamu?"
"Putri."
Aku langsung menoleh menatap Tisa.
Kenapa dia berbohong?!
"Aku suka pembawaanmu. Gimana kalau kamu bekerja di perusahaanku?" tawar Om Darma.
"Wah, jangan Om. Dia aja jadi asisten saya belum sampai seminggu. Masa sudah mau Om ambil," sahutku.
Om Darma hanya terkekeh mendengar ucapanku.
"Karena kita lagi di kafe, gimana kalau kita makan siang bareng?"
"Boleh Om!"
"Aduh, sebelumnya saya minta maaf Pak."
Aku menoleh ke Tisa yang meminta maaf.
"Sebenarnya saya ingin makan siang bareng. Tapi saya harus segera ke apotek, untuk beli obat," sambung Tisa lagi. "Karena sekarang sudah mulai musim pancaroba, jadi saya mudah pilek."
"Sayang sekali ya kalau begitu," timpal Om Darma.
Aku yang sudah terlanjur mengatakan akan makan bersama tidak bisa menemani Tisa pergi ke apotek.
Langit menangis ketika aku baru saja selesai makan siang. Aku langsung pamit ke Om Darma untuk kembali ke kantor.
Beruntung kafe ini menjual payung.
Di pintu masuk kantor, aku berpapasan dengan Tisa.
"Kok kamu hujan-hujanan sih?! Kan kamu sedang pilek?!"
__ADS_1
Kemeja putih Tisa setengah basah.
"Ya, mau gimana lagi? Jam makan siang kan mau habis. Jadi aku harus segera kembali ke kantor."
Tisa mengusap-usap lengan bajunya yang basah.
Mataku membulat melihat pakaian dalam warna biru yang terlihat jelas dari luar. Kemeja putihnya yang basah, membuat pakaian dalam Tisa terlihat jelas.
Langsung kulepas jas hitamku dan memakaikannya pada Tisa.
"Apa yang kamu--"
"Ssst! Diam lah! Pakai saja jasku supaya kamu nggak dingin!" potongku.
Aku nggak mau kalau sampai ada orang lain melihat dalaman Tisa.
_________
"Makasih jasnya ya Ndri," ucap Tisa sambil melepas jasku ketika jam kantor sudah selesai.
"Eits! Jangan dilepas dulu! Nanti aja pas sudah sampai kos." Aku mencegahnya melepas jas itu.
Bisa berabe kalau orang lain lihat dalaman Tisa.
Aku pun juga mengajaknya untuk pulang bersama.
"Tadi kenapa kamu bohong kalau nama kamu itu Putri?!" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya.
"Aku nggak bohong kok!"
Aku menoleh menatap Tisa.
"Aku nggak bohong! Namaku, Tisandra Putri Kusuma."
"Oh, jadi Putri itu nama tengahmu ya!"
Tisa hanya mengangguk.
Setelah itu, tak ada lagi perbincangan di antara kami.
Tisa juga tak menyadari jika kemeja putih basahnya itu jadi transparan karena basah.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di kosan. Aku tidak menitipkan mobilku di Ibu kos dan memarkirkannya di pinggir jalan karena aku akan pergi lagi.
"Makasih ya Ndri." Tisa mengembalikan jasku.
Akhirnya kacamata biru milik Tisa kembali terlihat.
"Iya, sama-sama." Aku tak bisa menahan senyum saat melihat kacamata itu.
Saat Tisa berbalik hendak masuk ke kamarnya, aku benar-benar tak bisa menahan kekehan.
"Biru."
Tisa tiba-tiba menoleh.
"Hah? Apa Ndri?"
Aku tak menyangka dia akan mendengar gumamanku. Sudah kepalang tanggung, aku tak bisa mengelak lagi.
"Biru!"
Tisa mengernyit bingung. "Apanya?"
"Daleman kamu warna biru!"
Tisa langsung terbelalak mendengar ucapanku. Spontan dia langsung melihat ke dadanya sendiri.
Sedetik kemudian dia langsung menyilangkan tangannya untuk menutupi dada.
"Dasar mesum!! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?! Jangan bilang kamu sudah melihatnya pas di kantor tadi siang?!"
Aku hanya nyengir mendengar perkataannya.
"Maka dari itu, aku meminjamkan jas milikku padamu! Aku tidak ingin orang lain melihat pakaian dalammu! Cuma ak--" Aku tak melanjutkan perkataanku.
Hampir aja keceplosan!
"Cuma apa?!!" tanya Tisa.
__ADS_1
"Nggak jadi! Udah, masuk sana! Cepet ganti baju! Memangnya kamu mau aku terus melihat dalemanmu?!"
"Aish, ck!" Tisa pun menghempaskan langkahnya masuk kedalam kamar.