
Aku melirik jam yang sudah masuk makan siang. Tapi Tisa belum juga keluar dari ruangan.
Saat aku meliriknya, eh si dia ternyata juga lagi liat aku.
Aku pun pura-pura fokus menatap layar laptop di depanku.
Dan tiba-tiba aja dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah meja kerjaku.
"Ndri, makan siang bareng yuk!"
Aku mendongak dari layar laptop. "Sama Pak Yosua juga?"
Bukan apa aku nanya begini ya. Hatiku masih belum siap untuk jadi nyamuk. Yang cuma bisa gigit lengan Tisa. Aku maunya jadi drakula aja. Eh? Ini ngomongin apaan sih?!
"Iya," jawabnya.
Sudah kudugong!
"Nggak ah! Nanti aku jadi nyamuk lagi!"
"Hah? Nyamuk?" Tisa menyatukan kedua alisnya. "Maksudnya?"
"Ah, nggak. Bukan apa-apa. Mau makan dimana ini?" Aku berubah pikiran dan menutup laptop.
"Di warung yang waktu itu."
"Oke deh. Ayuk!" Aku berdiri dan berjalan keluar bersama Tisa.
Pikiranku melayang jika Tisa dan Pak Yosua akan romantis-romantisan di warung yang sempit itu.
Aku tidak ingin itu terjadi Makanya aku ikut. Minimal, dengan kehadiranku, Pak Yosua sungkan akan mesra-mesraan sama Tisa.
Dan saat di koridor, ada Pak Yosua yang tentunya menunggu Tisa.
"Maaf ya Pak Yos, aku jadi ikut makan bareng. Tadi Tisa mengajakku!" ucapku padanya.
"Nggak papa Pak, lebih rame lebih enak," sahutnya.
Aku yakin, pasti dalam hatinya dia lagi menggerutu karena aku ikut. Dia pasti nggak suka aku ikut karena tidak bisa mesra-mesraan.
Biarin aja. Kan bukan aku yang minta ikut, tapi Tisa yang ngajak.
Dan saat akan menyebrang jalan, ada seorang cewek yang memakai jas almamater kampus menghampiri kami.
"Hai Kak!" Dia menyapa Tisa.
"Yosi! Kamu ngapain disini?!" tanya Pak Yosua kepada cewek itu.
Aku tebak, dia adalah Adiknya Pak Yosua. Selain nama mereka yang hampir mirip, Yosua dan Yosi. Wajah mereka juga sedikit mirip.
"Aku cuma mau lihat perempuan yang pernah mengangkat telfon dariku. Dan juga perempuan pertama yang telah Kakak bawa ke rumah!" ucap cewek bernama Yosi lalu menatap Tisa.
__ADS_1
"Kak Tisa kan namanya?" tanyanya ke Tisa. "Kenalin, aku Yosi. Adeknya Kak Yosua!" Tisa menerima uluran tangannya.
"Ternyata benar kata Mama. Kakak cantik!" ucapnya lagi. "Sering-sering main ke rumah ya Kak!"
Sepertinya hubungan Pak Yosua dan Tisa mendapat restu dari Mamanya.
Kemudian Yosi mendekatkan wajahnya ke Tisa. Seperti membisikkan sesuatu entah apa karena aku tidak bisa mendengarnya.
Pak Yosua segera menarik Adiknya itu. "Kamu bisikin Tisa apa?! Udah ya, jangan bikin malu aku! Cepet kuliah sana, ntar telat lagi!" Pak Yosua mendorong Yosi.
"Nggak usah dorong-dorong juga woy! Aku juga mau pergi kok! Daah Kak Tisa, sampai jumpa lagi!" Yosi melambaikan tangannya ke Tisa.
Tapi langkahnya berhenti ketika matanya menatapku. Dia berbalik lagi dan mendekat ke Pak Yosua.
Apa?! Kenapa dia menatapku seperti itu?!
Dia seperti membisikkan sesuatu pada Pak Yosua sambil sesekali melirikku dan Tisa. Entah apa yang Kakak beradik itu omongin.
Aku pura-pura sibuk dengan benda pipih di tanganku. Padahal mah aslinya cuma geser-geser doang.
"Ck. Udah ah, sana pergi!" Pak Yosua berdecak sambil mendorong Adiknya itu.
"Iya-iya, aku pergi! Yang jelas aku udah kasih tahu ya. Jangan nyesel nanti kalau kejadian!" bisik Yosi keras lalu pergi menjauh.
"Yuk, cepetan ke warung. Nanti jam makan siangnya keburu habis!" ucapku pada mereka berdua.
Kami pun mulai menyebrang jalan dengan Tisa yang berada di depan.
TIIINN!
Aku berusaha menggapai Tisa. Tapi emang takdir selalu membuat Pak Yosua jadi pahlawan buat Tisa.
Pak Yosua yang lebih dekat dengan Tisa berhasil lebih cepat menggapai Tisa.
Dan persis seperti sinetron yang sering ditonton Mama, setelah pemeran pria menyelamatkan si perempuan, mereka jatuh bersama. Plus tatap-tatapan lama.
"Kamu nggak papa Tis/Sa?" Aku bertanya bersamaan dengan Pak Yosua.
Pak Yosua manggil Tis, sementara aku manggil Sa.
Aku mengulurkan tanganku ke Tisa. Tapi langsung kutarik lagi begitu Pak Yosua juga mengulurkan tangannya ke Tisa.
Jika seperti ini saja aku sudah tak sanggup melihatnya, apalagi nanti di warung pas makan?!
"Anu, sepertinya aku tidak bisa makan bersama kalian. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Aku segera meninggalkan mereka.
"Tunggu Ndri!" seruan Tisa menghentikan langkahku. "Apa nggak sebaiknya kamu makan dulu aja?"
"Nggak usah deh, nggak papa. Aku bisa memesan makanan kok!" Aku kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.
Ketika sampai di dalam ruangan, aku memesan makanan online.
__ADS_1
Ternyata makan sendiri itu nggak enak. Nafsu makan juga ilang gitu aja walau seenak apapun makanan di depanku.
Tisa kembali ke ruangan sebelum waktu makan siang habis.
Suasana ruangan jadi agak sunyi dari hari-hari kemarin.
Bukannya tak ada obrolan, hanya saja aku yang membatasi diri sendiri.
Sebenarnya Tisa mengajakku ngobrol. Tapi aku menjawabnya sepatah dua kata.
Karena aku hanya menjawab dia ala kadarnya aja, Tisa pun memilih tak mengajakku ngobrol lagi.
_________
Ini hari kedua Tisa berpacaran dengan Pak Yosua.
Aku melihat jam. Sebentar lagi jam makan siang akan habis. Tapi Tisa tak kunjung kembali ke ruangan.
Panjang umur, Tisa muncul bersamaan dengan pintu yang terbuka.
"Jam makan siang sudah habis dari tadi! Kenapa kamu baru balik?!" ketusku.
Aku tahu. Dia pasti ngabisin waktu makan siang sama Pak Yosua.
Dan itu yang bikin aku jadi tambah kesal.
"Maaf Ndri, tapi aku nggak telat kok. Jam makan siang habis pas bareng ketika aku masuk ruangan."
Aku meliriknya sekilas. Apa yang dia ucapkan memang benar. "Cepat duduk dan selesaikan laporan meeting kemarin!"
Tisa segera duduk ke meja kerjanya.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk.
"Masuk!"
OB masuk dengan membawa teh pesananku.
Ya. Aku meminta OB untuk membuatkan aku teh yang biasanya Tisa lakukan.
Tisa menatap OB itu dengan tatapan heran.
Dia pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak meminta Tisa yang melakukan itu.
Hening beberapa saat. Hanya terdengar suara keyboard yang sedang ditekan.
"Ini Ndri laporannya." Tisa memberikan laporan yang aku minta tadi.
"Hm. Taruh aja di situ!" ucapku tanpa melihat ke arahnya. "Ini, tolong berkasnya difotokopi ya!"
Sebenarnya itu cuma buat alasan saja agar Tisa tidak berlama-lama berdiri di depan mejaku.
__ADS_1
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak mencuri-curi pandang padanya.
Tapi bersamaan dengan itu, aku juga teringat akan hubungan dia dan Pak Yosua. Aku merasa tidak rela Tisa malah memilih Pak Yosua.