
Kuhempas tangan laki-laki itu dengan kasar. Tapi dia malah terkekeh dan menatap Tisa.
"Ooo, jadi kamu udah ada yang booking ya. Makanya kamu nggak mau sama aku! Memangnya kamu dibayar berapa sama dia?!! Mending kamu ikut sama aku, nanti aku bayar lebih daripada dia!"
Apa-apaan dia ini!
Sumbu kemarahanku berasa disulut mendengar ucapannya.
"Kurang ajar kamu ya! Aku bukan laki-laki bej*at kayak kamu! Dan Tisa juga bukan perempuan seperti itu!!"
BUAGH!!
Tinjuku mendarat sempurna di wajahnya. Dia sedikit terhuyung.
"Sial*n!! Berani-beraninya lu mukul gue!!" umpatnya sembari mengayunkan tinju.
Dengan cepat aku menghindar. Lalu aku kembali melayangkan kepalan tanganku ke perutnya.
BUAGH!
"AAARGH!" cowok itu berteriak kesakitan.
Kuaraih bahunya dan mensejajarkan lututku di perutnya.
BUAGH!! BUGH!!
Dia kembali mengerang seiring mendaratnya lututku di perutnya.
Aku masih merasa geram karena ucapannya tadi. Dia menuduh Tisa perempuan bayaran.
BUGH! BUGH! DUAKK!!
Terus saja kuhujani dia dengan pukulan dan tendangan.
Aku benar-benar tidak terima dia menghina Tisa.
Setelah beberapa saat kupukuli, dia meringkuk di lantai sambil terus mengerang.
"Cepat pergi dari sini!!" ucapku geram.
"Uhuk uhuk!" dia terbatuk dan mengerang kesakitan.
"Cepetan pergi sebelum aku berubah pikiran!!"
Laki-laki itu langsung bangkit mendengar teriakanku.
Aku berbalik menatap Tisa.
"Kamu nggak papa?! Dia nggak ngapa-ngapain kamu kan?!!"
"Aku nggak papa. Makasih ya Ndri."
"Siapa dia itu?!!"
Tisa menggeleng. "Aku nggak tahu. Tadi dia nyari Mbak Lina. Karena tadi dia terus menggedor pintu kamar Mbak Lina, jadi aku menghampirinya untuk memberitahu kalau Mbak Lina nggak ada."
"Besok-besok lagi kalau ada orang yang nyari Mbak Lina kesini, sebaiknya kamu nggak usah menghampirinya. Abaikan saja selama orang itu tidak bertanya kepadamu."
Dia kembali mengangguk.
Mendengar tuduhannya pada Tisa, sepertinya aku mulai tahu apa pekerjaan Mbak Lina.
_________
Aku baru pulang dari toko ketika melihat segerombolan cowok menganggu Tisa.
Bahkan salah satu dari mereka ada yang mengejar Tisa.
__ADS_1
Mataku membulat melihat cowok itu mengalungkan tangannya ke Tisa.
Segera aku mempercepat langkah menghampiri mereka.
"Maaf, tapi dia sudah ada yang punya!" Kusingkirkan tangan cowok itu dari bahu Tisa.
Tisa menoleh menatapku. Segera aku menunjukan senyum termanis yang kupunya. Siapa tahu dia kesemsem.
Kemudian aku beralih menatap tajam cowok yang tadi mengalungkan tangannya ke Tisa.
"Jangan ganggu cewek gue!!" ucapku padanya.
Dia menatapku tak suka dan kembali duduk bergabung dengan temannya.
Seenaknya aja dia merangkul Tisa. Aku aja nggak pernah merangkul Tisa.
"Ayo kita pulang sayang!" Kurangkul bahu Tisa, mengajaknya pergi dari sana.
Tapi Tisa malah bergeming dan menatapku tajam.
"Udah, ayo jalan. Dengan begini, mereka tidak akan mengganggumu!!" Aku berbisik padanya.
Tentu saja sembilan puluh sembilan persen, ini modus. Hahaha.
Akhirnya Tisa menurut. Kami pun mulai berjalan dengan tanganku yang merangkul di bahunya.
"Gimana tadi wawancara kerjanya?" Aku mulai membuka obrolan.
Jika menunggu Tisa yang akan memulai obrolan, itu sama saja kau menunggu ayam jantan bertelur.
"Aku diterima!" sahutnya senang.
"Wah, selamat ya! Kapan mulai masuk kerja?"
"Besok."
Aku terus mengajaknya bicara agar dia melupakan tanganku yang merangkul bahunya.
_________
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
Hari ini Tisa sudah mulai masuk kerja di kafe itu.
Dia udah makan siang belum ya?
[ Udah makan siang belum? ]
Saat ingin menekan tombol kirim, jempolku terhenti.
Sejurus kemudian aku menghapus pesan itu. Aku tidak jadi mengirimi Tisa pesan. Kuletakkan hpku.
Saat memikirkan Tisa aku jadi teringat Mbak Lina.
"Kalau Tisa kerja, terus siapa yang jaga Mbak Lina di rumah sakit?"
Aku mengecek scheduleku hari ini. Kosong. Tak ada meeting penting hari ini. Aku hanya perlu menandatangani beberapa berkas.
Setelah semua berkas selesai kutandatangani, aku bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Mbak Lina.
Gimana pun juga dia adalah tetanggaku.
_________
Mbak Lina sedang mengusap air matanya ketika aku masuk ke kamar rawatnya.
Aku rasa dia baru saja menangis.
__ADS_1
"Gimana kondisinya Mbak?"
"Eh, Andri! Lumayan, tapi masih terasa sakit di perut. Mungkin aku harus dirawat beberapa hari," sahutnya.
"Terimakasih sudah menjenguk ya."
Tiba-tiba saja gerimis mulai jatuh di luar sana.
"Ya ampun! Kasihan Tisa, pasti dia kehujanan!" gumam Mbak Lina sambil menatap ke jendela.
"Hah? Tisa kehujanan?"
Mbak Lina beralih menatapku. "Iya, tadi dia juga menjengukku. Baru aja pulang."
"Kalau gitu aku pulang dulu ya Mbak!"
Aku bergegas keluar meninggalkan Mbak Lina. Tisa pasti masih belum jauh.
Entah kenapa aku mempunyai firasat dia masih tak jauh dari sini. Dan akan kehujanan jika aku tak menyusulnya.
Dan benar saja, tak jauh dari rumah sakit, aku melihatnya sedang lari-lari kecil. Menghindari gerimis yang sudah mulai menjadi hujan.
Segera kutancap gas menghampirinya.
"Tisa, ayo masuk!!" panggilku seraya melambatkan laju mobil di sampingnya.
Tisa tak menjawab dan langsung masuk ke mobil.
Bertepatan dengan itu, hujan mulai turun deras.
Untung aku tepat waktu. Syukurlah dia tidak kehujanan.
"Bukannya hari ini kamu mulai masuk kerja ya? Kok ada di sini?!" tanyaku heran.
"Aku dipecat!"
"Hah? Dipecat?"
Tisa mengangguk. "Iya. Mana dua hari lagi aku harus bayar uang kos. Haahh.."
Tisa menghela nafas panjang. Tiba-tiba saja aku jadi kepikiran suatu ide.
Gimana kalau aku menjadikanya sebagai asistenku.
Lagi-lagi aku sekali mendayung, dua pulau terlampaui.
Selain bisa membantu Tisa, aku juga bisa dekat terus dengannya.
Aku menoleh menatap Tisa yang menatap jalanan lengang di depan.
"Kantor tempat aku kerja lagi buka lowongan. Gimana kalau kamu ngelamar di sana?" tawarku.
Tisa menoleh menatapku.
"Disana lagi buka lowongan bagian apa?! Ah, tidak-tidak! Aku udah nggak peduli itu bagian apa. Mau itu office girl atau sejenisnya, aku nggak peduli. Yang penting sekarang aku kerja dan dapat uang!"
Padahal, baru aja aku mau bilang ingin menjadikannya asistenku. Tapi urung mendengar perkataannya barusan.
Ini bagus. Biar saja dia tidak tahu aku direktur di kantor itu. Itu akan lebih menarik. Biar jadi kejutan untuk Tisa.
"Kamu langsung aja kirim surat lamaran kerjamu besok!" ucapku sembari tersenyum.
"Iya, kamu benar! Lebih cepat, lebih baik!"
Iya Tisa, lebih cepat lebih baik.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum. Dia tidak tahu kalau aku Direkturnya.
__ADS_1
Akhirnya sekarang aku punya asisten. Dan asisten itu adalah orang yang aku sukai.
Aku jadi tak sabar ingin melihat ekspresi wajahnya saat dia tahu kalau diterima menjadi asisten direktur. Dan aku direkturnya.