KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Dibikin Ribet


__ADS_3

Aku menatap pintu dimana Tisa ada di balik sana.


Aku benar-benar nggak percaya. Ternyata orang yang selama ini kutolak adalah Tisa. Perempuan yang mati-matian ingin aku dapatkan.


Aku gegas meraih handle pintu ingin memberitahukan semuanya ke Tisa.


"Tunggu Ndri! Papa mau tanya sesuatu sama kamu!"


Aku urung membuka pintu dan menatap Papa.


"Ada yang Papa bingungkan di sini. Kok kamu nggak tahu kalau Tisa adalah perempuan yang dijodohkan denganmu? Bukankah Papa pernah mengirimkan foto Tisa saat kamu tinggal di apartemen dulu?"


Aku nyengir menatap Papa. Bodoh sekali aku waktu itu.


"Aku membuangnya tanpa melihat foto-foto itu Pa!"


Papa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lalu, bukankah waktu itu kalian pernah kencan? Kencan itu bahkan yang merencanakan Ayahnya Tisa. Kau datang kan?"


Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Merutuki kebodohanku yang tidak datang ke kencan itu dan menyuruh Romi yang datang.


Andai waktu itu aku menurunkan ego sedikit dan datang ke sana, pasti sekarang aku sudah menikah dengan Tisa.


"Ndri, kok malah diem?"


"Ah, aku nggak datang ke kencan itu Pa!"


"Apa? Terus siapa yang datang?"


Lagi-lagi aku hanya bisa nyengir.


"Aku menyuruh Romi yang datang Pa!"


Papa menepuk jidatnya sendiri.


Ya. Bodoh memang aku. Udah dikasih jalan lurus, mulus, kayak jalan tol. Eh malah milih rute yang melewati hutan belantara, lembah, gunung, serta segitiga bermuda.


Padahal kalau aku milih nurut dengan Papa, aku akan melewati mulusnya jalan untuk mendekati Tisa. Jalan tol yang tanpa rintangan apapun.


Terlihat Papa menghubungi seseorang. Dan orang itu adalah Om Darma.


Papa menceritakan semuanya. Sesekali Papa terkekeh.


"Iya, konyol sekali mereka berdua. Dituntun mau disatuin, eh malah main kucing-kucingan. Dan nggak taunya mereka malah kenal di belakang kita. Dan ternyata malah saling suka!"


Lagi-lagi aku cuma nyengir. Tapi, ayolah. Saat ini aku tidak ingin mendengar mereka haha hihi. Aku ingin segera menemui Tisa di luar sana.


"Apa?" Papa terlihat menautkan kedua alisnya.


"Oh, baiklah jika itu yang kamu mau. Iya, aku mengerti."


"Udah kan Pa? Aku mau temui Tisa dulu!"


Lagi-lagi Papa menahanku yang ingin membuka pintu.

__ADS_1


"Putuskan dia!"


"Apa??" Aku menoleh tak percaya pada Papa.


"Kalian pacaran kan?"


"Iya, tapi kenapa Papa minta aku putusin dia?! Bukankah semua sudah jelas? Kita adalah dua orang yang saling dijodohkan."


"Iya, tapi itu permintaan Ayahnya Tisa sendiri."


Aku semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran para tetua ini.


"Ayahnya ingin Tisa kembali dulu padanya. Tisa itu kabur dari rumah karena nggak mau dijodohin."


Iya, sama kayak aku. Tapi aku lebih tepatnya bukan kabur sih. Kalau kabur kan orang rumah nggak tau kapan perginya kita.


Sementara aku, kedua orang tuaku pada tau saat aku keluar dari rumah.


"Tisa dan Ayahnya sudah punya hubungan yang buruk jauh sebelum kalian dijodohkan. Jadi dia ingin membuat Tisa mengerti, kalau semua pilihannya itu adalah yang terbaik untuk Tisa. Buktinya dia jatuh hati pada pilihan Ayahnya. Jadi, dia ingin Tisa kembali ke rumah dulu. Baru setelah itu kami akan mempertemukan kalian lagi."


"Kenapa harus dibikin ribet sih Pa? Aku tinggal nemuin Tisa yang ada di balik pintu itu! Memberitahu kalau ternyata kita itu saling dijodohkah! Dan setelah itu semuanya beres kan? Kami bersatu sesuai yang kalian harapkan selama ini!"


"Iya, Papa tahu. Tapi, ini semua permintaan Ayahnya Tisa. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Tisa. Dia ingin anaknya itu kembali ke dia. Dan supaya Tisa tau, kalau keputusan menjodohkannya itu adalah yang terbaik. Kan buktinya kalian ternyata saling suka. Tapi dia inginnya kalian itu bersatu lewat tangannya! Supaya Tisa bisa mikir, 'oh ternyata keputusan Ayahku itu yang terbaik!'. Nah, itu yang Ayahnya Tisa mau!"


Ribet banget sih? Udah bersatu dipisah lagi!


Nggak tau apa mereka kalau author itu jadi dimisuh-misuhin sama para pembaca gara-gara ceritanya jadi mbulet karena aku dan Tisa tak kunjung bersatu.


Di cerita satunya, pembaca jadi misuh-misuh ke author karena ceritanya jadi mbulet-let-let. Mereka nggak tau aja kalau ini permintaan dari Om Darma.


Aku menghela nafas panjang menatap pintu di sampingku.


Aku keberatan dengan ide itu. Aku maunya langsung kasih tau Tisa sekarang juga.


"Ini, kamu dengarkan rencana dari Ayahnya Tisa!"


Papa menyodorkan hpnya padaku.


Setelah menanyakan kabar sebentar, dia mulai membicarakan apa rencananya.


Aku harus ini, harus itu, semua akan diatur olehnya. Sampai Tisa balik lagi ke rumahnya dan hubungan mereka membaik, baru deh aku menunjukkan wujud. Itu adalah rencananya.


Aku menghela nafas berat. Aku harus menghargai apa yang diinginkan Ayahnya Tisa.


Papa juga mendengarkan rencana ini karena pembicaraan.


Papa memasukkan hpnya setelah pembicaraan selesai.


"Denger kan apa kata Ayahnya Tisa barusan? Jadi sekarang, kamu putusin Tisa dulu!"


Aku menghela nafas panjang melihat Papa yang akan membuka pintu.


Ceklek!


Brugh!

__ADS_1


Siapa yang nyangka Tisa akan jatuh saat Papa membuka pintu.


Sepertinya dia tadi bersender di pintu untuk menguping pembicaraan kami. Ingin sekali aku tertawa, tapi aku tahan.


Dia segera bangkit. Padahal aku ingin membantunya bangun. Tapi Papa mengkodeku dengan tangannya agar tak membantu Tisa.


"Sa-saya nggak nguping kok! Saya cuma.." Tisa menggantung kalimatnya saat Papa berlalu pergi tanpa menunggu penjelasan darinya.


"Ndri, aku.."


"Sa, aku minta maaf banget sama kamu," aku menghela nafas panjang. Aku sungguh tidak ingin mengucapkan kata-kata ini.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Tisa.


"Aku udah nggak bisa lagi sama kamu!"


Akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku.


"Maksud kamu?!"


"Aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita!" Kutatap wajahnya lekat.


"Kamu bercanda kan Ndri?"


"Nggak Sa, aku nggak bercanda!"


Maaf Sa, aku juga nggak pingin kayak gini. Susah-susah aku nyairin kamu dan akhirnya dapatin kamu. Tapi ini kemauan Ayah kamu.


Aku nggak bisa liat wajah Tisa yang kecewa itu.


"Hubungan kita sampai di sini saja," lanjutku.


Haaah.. Dadaku bahkan terasa nyelkit dengan kata-kataku sendiri.


"Tapi kenapa Ndri?" lirihnya.


Dia menatap kedua mataku begitu dalam. Aku bisa melihat dengan jelas kalau saat ini aku sedang menorehkan luka di sana.


Segera aku membuang muka. Tak tahan dengan kedua mata yang sedang menatapku.


Jika aku terus-terusan menatap mata itu, yang ada malah memeluknya.


"Kamu dengar kan tadi Papaku bilang kalau dia telah menjodohkanku?" Aku berucap tanpa melihatnya.


"Iya! Dan tadi aku juga dengar kalau kamu mengatakan tidak setuju dengan perjodohan itu!" sahut Tisa.


"Aku minta maaf Sa. Tapi aku benar-benar nggak bisa menolak perjodohan itu. Karena kalau sampai aku menolak, perusahaan kami akan bangkrut!" Aku mengucapkan apa yang disuruh oleh Om Darma tadi.


Aku melihat mata Tisa yang kecewa padaku. Aku hanya bisa menghela nafas.


Aku nggak bisa melihat mata itu. Membuatku merasa sakit juga.


"Aku harap, berakhirnya hubungan kita tak mempengaruhi tentang pekerjaan," lanjutku dan pergi meninggalkannya.


Aku sungguh tak bisa melihat matanya yang menyiratkan kesedihan itu. Kalau aku terus-terusan ada di sini, aku benar-benar akan menariknya dalam pelukanku.

__ADS_1


__ADS_2