KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Jalan-jalan Bareng


__ADS_3

Aku tidak bergerak beberapa saat. Aku bingung harus bereaksi apa.


Aku nggak nyangka kalau Tisa bakal kayak gini.


Setelah beberapa saat, kuberanikan untuk melirik Tisa.


Ya ampun! Ternyata dia tidur!


Aku mengusap kasar wajahku. Padahal dalam hati udah muncul kuncup bunga mau mekar. Eh ternyata dia nyender karena ketiduran.


Aku hanya mendengus sambil menatap layar di depan. Suasana jadi sedih karena pemeran wanita diselingkuhi suaminya. Padahal dia sedang hamil.


"Semua laki-laki memang sama!" seru wanita di belakangku penuh emosi, tapi dengan suara yang dipelankan agar tidak berisik.


Selalu saja begitu. Satu laki-laki yang berulah, tapi semua laki-laki yang disalahkan.


"Tapi aku nggak sama kan sayang?" kali ini suara laki-laki.


"Tentu saja kamu beda dong sayang. Kan kamu spesial!" sahut si wanita.


Aku hanya mencebikkan bibir mendengar percakapan itu.


Sesekali Tisa terantuk ke depan, tapi dengan sigap aku langsung menahan kepalanya agar tak jatuh dari bahuku.


Pegel juga bahuku karena berusaha untuk tidak bergerak.


Saat Tisa menggeliat, aku langsung menyenderkan kepalanya ke senderan kursi.


Tak lama kemudian, dia terbangun.


"Hoam.. eh, aku ketiduran. Filmnya ngebosenin ya. Aku sampek ketiduran," ucapnya sambil meregangkan otot-otot.


Tisa tak menyadari kalau sedari tadi dia tidur dengan menyender ke bahuku.


"Kok bisa orang-orang tahan nonton ginian!" Dia menguap sekali lagi.


Setelah film selesai, kami langsung meluncur ke pasar malam yang baru saja di buka.


Ini pertama kalinya aku ke pasar malam.


Mataku menyapu semua wahana di depan sana.


Banyak sekali stand penjual makanan di sini.


Tisa terlihat fokus menatap sosis besar yang sedang dibakar. Seperti terhipnotis, di langsung menuju kesana.


"Eits! Kamu mau kemana?!" Pipit mencekal tangannya.


"Aku mau ke sana, mau beli makanan. Lapar!" sahut Tisa.


"Nanti! Setelah ini kita akan ke kafe dan makan. Sekarang, kita naik itu dulu!" Pipit menunjuk ke arah bianglala.


"Pemandangan dari atas sana bagus banget! Kita bisa lihat kelap-kelip seluruh lampu kota!!"


Kami pun mengikuti instruksi Pipit dan mengantri untuk naik bianglala.


Sampai akhirnya tiba giliran kami.


"Untuk orang dewasa, hanya boleh isi dua orang," ucap Mas penjaga bianglala.


Kesempatan aku bisa berduaan dengan Tisa.


"Kalau gitu kita duluan ya Tis! Daaah.." Pipit berlalu naik ke kotak bianglala dengan pacarnya.


"Eh, Pit! Aku berdua sama kamu aja! Biar Andri sama Virman naik berdua!"


"Nggak lucu tahu, kalau cowok sama cowok satu kotak bianglala. Entar orang lain mikirnya aneh-aneh lagi!" timpalku yang tidak setuju dengan usul Tisa.


"Dah Tisa!!" Pipit melambaikan tangannya ketika kotak bianglala yang dinaikinya sudah tertutup pintunya.


Aku tersenyum penuh kemenangan karena naik sekotak dengan Tisa.


Kami duduk berhadap-hadapan. Bianglala pun mulai bergerak.


Jadi begini toh rasanya naik bianglala.

__ADS_1


Begitu sampai di puncak atas, bianglala berhenti sejenak.


Aku menatap takjub ke bawah sana. Kelap kelip lampu kota terlihat sangat indah dari sini.


Kulirik Tisa, sepertinya dia juga takjub melihat lampu-lampu itu. Terlihat dari wajahnya yang tersenyum.


"Pemandangannya bagus banget ya!"


"Iya!" dia mengangguk, pandangannya tak lepas dari kelap-kelip lampu kota.


"Kamu nggak mau foto?"


"Nggak. Takutnya nanti hpku jatuh!"


"Aku fotoin pakek hpku deh!" Aku mengeluarkan hpku dari saku celana.


"Boleh!" Tisa mengangguk setuju. "Nanti fotonya kirimin ke aku ya!"


"Tapi kan aku nggak punya nomor kamu!" Aku tersenyum simpul. "Nanti aku minta nomor kamu ya!"


"Oke!" jawabnya tanpa pikir panjang.


Ahaha. Modus berjalan lancar.


Ini tips buat kalian yang ingin minta nomor seseorang.


"Kelap-kelip lampunya liatin juga ya!"


"Siap!"


Tisa mulai berpose ketika aku mengarahkan kamera padanya.


CEKREK!


Udah dapat nomornya, dapat fotonya lagi.


Ini yang namanya sekali mendayung dua pulau terlampaui. Eh, bener ga sih peribahasanya. Tau ah, yang penting aku dapat nomor dan foto Tisa.


Aku menatap foto Tisa yang tersenyum di layar hpku.


Kulirik Tisa yang hanya menatap lampu-lampu kota itu. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


Dia selalu tersenyum ke arah yang lain, tapi saat menatapku senyumnya selalu hilang.


Setelah turun dari bianglala, kami beralih naik ke wahana yang lain.


Aku memutuskan duduk saja di salah satu bangku yang tersedia di sana, menunggu mereka sambil memandangi foto Tisa di hpku.


Tisa memang sudah memberikan nomornya padaku, tapi nanti sajalah aku kirim fotonya.


"Eh Andri! Kamu ngapain di sini?"


Aku kenal dengan suara serak-serak becek itu. Aku mendongak untuk menatap orang yang menyapaku.


Yanto! Sudah kuduga. Kenapa aku harus bertemu dia lagi sih?!


Tangan Yanto menggandeng seorang pria. Pria itu menatapku tak suka.


"Siapa dia sayang?"


Apa? Sayang?! Apa telingaku salah dengar? Dia barusan memanggil Yanto sayang kan?! Apa dia tak tahu jika Yanto itu laki-laki? Ah, atau mereka berdua memang sama-sama begitu.


"Jangan cemburu ya sayang, dia cuma tetanggaku di kosan dulu," sahut Yanto.


Pria itu masih menatapku tak suka. Siapa juga yang mau ngerebut Yanto.


Ngapain sih mereka masih berdiri di sini!


Bukannya pergi, Yanto malah duduk di sampingku.


"Sayang, beliin aku eskrim dong!" pinta Yanto pada pria itu.


Seperti dimantrai, pria itu langsung nurut, tanpa banyak kata dia langsung pergi ke salah satu stand. Mengantri dengan beberapa pembeli di sana.


"Kamu sama siapa Ndri? Sendirian?" tanya Yanto. "Kalau kamu merasa kesepian, aku siap kok nemenin kamu!" bisiknya di telingaku.

__ADS_1


Aku segera beringsut menjauh.


"Aku kesini sama pacarku!"


"Masa? Kok aku nggak percaya ya kalau kamu punya pacar?"


"Nih pacarku kalau kamu nggak percaya!" Aku menunjukkan foto Tisa ke Yanto.


Dia masih terlihat ragu.


"Tuh dia lagi main di sana!" Aku menunjuk Tisa yang sedang bermain pancing ikan.


Yanto melihat Tisa dengan senyum mengejek.


"Ndri, kalau sama dia kamu nggak bisa ngapa-ngapain. Mending sama aku, bisa langsung begituan!"


Aish! Apaan sih nih orang! Begituan apanya?


"Kamu tahu maksudku kan Ndri?" Yanto mengerling padaku.


Mataku terbelalak. Seketika aku langsung mengerti yang dia maksud.


"Sorry ya, aku bukan PLT! ( pecinta lubang t*i )"


"Kamu bilang gitu karena belum nyoba!" Yanto kembali bergeser agar lebih dekat denganku.


"Jangan dekat-dekat sama Yanti ya!" pria tadi menarik Yanti berdiri. "Dia itu pacarku!"


Dih, siapa juga yang dekat-dekat sama dia?!


"Yuk sayang kita pergi dari sini!" pria itu mengapit lengan Yanto pergi menjauh dariku.


Pergi yang jauh! Semoga nggak pernah ketemu lagi!


Yanto masih saja sempat-sempatnya melambaikan tangannya padaku.


_________


Setelah puas main di pasar malam, kami pergi ke sebuah kafe.


Lagi-lagi aku ditinggal berdua dengan Tisa.


Karena Pipit harus kembali ke pasar malam untuk mengambil tasnya yang ketinggalan di toilet.


Dia pergi ke pasar malam bersama pacarnya menggunakan mobilku.


"Mau pesan apa?" tanyaku ke Tisa sambil memegang buku menu.


"Aku mau pesan--"


"Tisa! Kamu Tisa kan?!" seorang laki-laki menyapa Tisa.


Aku mengernyit menatap pria yang berdiri di depan kami.


Siapa dia?


Tisa seperti terkejut melihat kedatangan laki-laki ini.


Melihat dari perawakannya, sepertinya dia berumur tiga puluhan.


Keterkejutan Tisa berubah menjadi kepanikan. Dia terlihat mengedar pandangannya ke sekitar. Entah siapa yang dicarinya.


"Iya, benar! Kamu Tisa! Ngapain kamu di sini? Ayahmu sedang mencarimu!" ucap laki-laki itu lagi. "Dia sedang ada di parkiran sekarang."


Dia memencet benda pipih di tangannya dan menempelkannya di telinga.


"Halo Pak?"


Tisa terlihat tambah panik melihat laki-laki itu berbicara dengan seseorang di telfon.


"Ayo kabur Ndri!!" tiba-tiba Tisa menarik tanganku dan berlari.


"Tisa! Mau kemana kamu!!" laki-laki itu juga berlari mengejar kami.


"Tisa, kenapa kita lari darinya?! Siapa dia?!" Aku ngos-ngosan berlari di belakang Tisa.

__ADS_1


Sebenarnya siapa laki-laki itu? Kenapa Tisa lari darinya?


__ADS_2