
"Apa?! Jadi maksud kamu, pawangnya Tisa itu Yosua?!"
"Aduh Tante!" Aku menepuk jidat, dia malah salah tanggap. Padahal depan dia itu maksudnya aku. "Maksud aku bukan depan yang bagian situ. Tapi depan bagian yang in-- Aakh!" Aku berteriak saat Tisa menginjak kakiku.
"Ahaha. Bukan seperti itu maksud Andri Tante. Depan yang Andri maksud itu, biasanya kan jodoh ada di depan kita, tapi kita sering kali tidak menyadarinya," terang Tisa cepat karena tak ingin aku melanjutkan ucapanku.
"Yahh, padahal Tante udah terlanjur senang. Kirain depan itu, Yosua!"
Kulirik Tisa, padahal kan aku sengaja bilang kayak tadi supaya Tante Ima nggak berusaha ngedeketin anaknya sama Tisa terus.
"Ayo Tisa, tambah lagi lauknya!" ujar Tante Ima ke Tisa.
"Iya Tante." Tisa pun mengambil tempe krispi yang tinggal sepotong.
Hup!
Dan tangan Pak Yosua juga memegang tempe krispi itu. Mereka sama-sama memegang tempe itu secara bersamaan.
Apa-apaan ini?! Apa ini sedang syuting drama FTV?!
Tisa segera menarik tangannya dari tempe itu.
"Ambil aja Pak." Tisa mendorong piring berisi sepotong tempe krispi itu ke Pak Yosua.
"Nggak deh, ambil kamu aja tempenya," Pak Yosua mendorong piring itu ke depan Tisa.
"Nggak Pak. Nasiku sudah tinggal dikit kok. Tempenya buat Pak Yosua aja!" Tisa kembali mendorong piring itu ke Pak Yosua.
"Nggak papa. Buat kamu aja tempenya. Laukku masih banyak kok!" Pak Yosua kembali mendorong piring itu ke Tisa.
Aku jadi gregetan sendiri melihat mereka dorong-dorongan piring.
"Buat Pak Yosua aja tempenya. Aku bisa ambil lauk yang lain kok!" Tisa kembali mendorong piring itu ke Pak Yosua.
"Nggak Tis, kamu aja yang am--"
"Kalau nggak ada yang mau, buat aku aja tempenya!" Aku yang greget langsung bangkit dari dudukku dan mencomot tempe krispi itu. "Gitu aja susah banget!"
Mereka berdua sama-sama menoleh ke arahku. Langsung saja kulahap tempe itu dalam sekali suap.
Drama tempe krispi pun selesai.
Setelah makan, kami bercakap-cakap sebentar. Tentu bukan aku bercakap-cakap, tapi Tisa dan Tante Ima. Entah apa yang mereka obrolkan. Kemudian kami pun berpamitan pulang.
"Sering-sering main kesini ya Tisa," ucap Tante Ima ketika Tisa mencium tangannya saat berpamitan pulang. "Kalau lagi libur kerja, main aja kesini. Biar nggak sendirian di kosan."
"Di kosan Tisa nggak sendirian kok Tante. Ada tetangga juga!" sahutku.
"Ya, nggak papa. Main-main kesini, biar Tante ada teman ngobrol."
Alasan! Padahal itu cuma akal-akalannya saja. Biar Tisa makin deket sama anaknya!
"Tisa pamit pulang ya Tante. Dahh.." Tisa naik ke motorku yang sudah nyala dari tadi.
Aku mengambil jalan yang berbeda dengan waktu berangkat tadi. Biar lebih cepet. Tapi jalannya agak berlubang. Membuat helm Tisa sering kali terbentur dengan helmku.
Duk!
Kembali helm Tisa membentur helm-ku membuat kepalaku sedikit terdorong ke depan.
Duk!
Duk!
"Ndri, jaljdannya mijklih yajgng bagghus dong!" terdengar suara Tisa yang tidak begitu jelas.
__ADS_1
"Hah?!! Apa?!"
Kalau pakai helm emang mendadak budek ya.
Dukk!!
Kali ini helm Tisa membentur keras ke helmku karena aku tak tahu jika ada polisi tidur. Jadinya aku tak menurunkan kecepatan saat melewatinya.
"Udah tahu ada polisi tidur, kenapa nggak pelan-pelan?!" teriak Tisa yang akhirnya terdengar karena aku membuka kaca helm.
"Mana ada polisi tidur Sa? Bisa dipenjara aku kalau sampai melindas polisi tidur!" selorohku.
"Lha tadi itu apa kalau bukan polisi tidur?! Tentara tidur?!" sahutnya kesal.
"Itu bukan polisi tidur! Tapi speed bump!"
"Sama aja!!"
"Ya nggak sama lah! Kalau polisi tidur itu, tidurnya di kasur!!" Aku terkekeh. "E-eh! Kenapa nih?!"
Tiba-tiba aja motorku melambat dan akhirnya berhenti.
"Kenapa motornya Ndri?"
Aku tak menjawab pertanyaan Tisa dan berusaha menghidupkan motorku. Tapi tak bisa hidup.
"Kenapa ya? Kok nggak bisa hidup?" Aku kembali berusaha menghidupkannya lagi. Tapi tetap tidak bisa menyala.
Tisa pun turun dari motor dan melongok ke kepala sepeda motorku.
"Dasar Bambang! Gimana mau nyala kalau bensinnya habis!!" ucapnya sambil menunjuk speedometer motor.
"Oh iya! Bensinnya habis!" Aku nyengir ke Tisa.
Aku pun turun dari sepeda. Di sini sepi, nggak ada toko yang jual bensin. Jangankan toko. Rumah aja nggak ada di sini.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya Sa. Aku mau jalan kesana beli bensin."
Tisa hanya mengangguk. Dan aku pun mulai berjalan meninggalkan Tisa dan motorku.
Setelah jalan beberapa saat, akhirnya aku menemukan toko kecil yang menjual bensin.
"Pak, mau beli bensin."
Eh si Bapak malah celingak-celinguk melihat ke belakangku. Aku pun jadi ikut menoleh. Melihat ke belakangku. Tapi nggak ada apapun.
Apa yang dia lihat?
"Cari apa Pak?"
"Katanya Mas mau beli bensin, mana motornya?"
Elah, ternyata dia malah nyari motorku.
"Motor saya kehabisan bensin Pak. Makanya saya tinggal di sana." Aku menunjuk arah dimana tadi aku meninggalkan Tisa.
Tentu saja tak terlihat dari sini.
"Kenapa motornya nggak dibawa kesini?"
Iya juga ya! Tapi tadi itu aku nggak mau Tisa jalan. Kasian capek.
"Kalau motornya nggak kamu bawa, gimana mau isi bensinnya?"
"Saya bawa aja botol bensinnya Pak!"
__ADS_1
"Enak aja, nggak! Terakhir kali ada yang beli gitu. Ujung-ujungnya nggak balik tuh botol saya!"
Duh, gimana nih? Masa iya aku harus balik lagi?
"Saya janji bakal balikin kok Pak! Beneran!" Aku berusaha meyakinkannya.
"Tempo hari juga ada yang bilang gitu. Tapi sama aja. Botol saya digondol dan nggak pernah balik lagi kesini!"
Aku menghela nafas karena si Bapak tetep kekeh.
Dan akhirnya aku menggunakan KTP-ku sebagai jaminan. Baru deh dia percaya.
Kedua alisku bertaut saat melihat Tisa tak sendiri. Tapi ada dua bocah cowok yang masih menggunakan seragam sekolah SMA. Mereka nangkring di atas sepeda motornya yang ada di hadapan Tisa.
Terlihat sekali mereka seperti menggoda Tisa.
Gegas aku mempercepat langkahku.
"Woy bocah! Jangan gangguin cewek gue!"
Teriakanku membuat mereka semua menoleh.
Anak laki-laki yang memakai topi mengernyit menatapku yang sedang menghampiri mereka.
"Itu cowok kamu?" tanyanya ke Tisa.
"Iya! Dia cewek gue!" Aku yang menyahut. "Mending kalian pergi dari sini!"
Dua anak laki-laki itu memandangku dari atas sampai bawah. Lalu dari bawah sampai ke atas lagi.
"Ngapain lu lihat-lihat gue kayak gitu?!" ketusku.
"Udah Om-om gini! Dia beneran cowok kamu?!" tanya anak laki-laki yang menyetir.
Mataku membulat. Lagi-lagi aku dikatain Om-om!
"Apa kamu bilang?! Aku Om-om?! Enak aja. Aku bukan Om-om ya. Aku baru umur 23 tahun!"
Tapi dua anak laki-laki itu malah tak menggubris omonganku dan malah menatap Tisa.
"Dasar cewek jaman sekarang! Maunya cuma sama Om-om!" ucap anak yang memakai topi.
Sementara Tisa hanya terkekeh.
"Ya jelas dong! Kalau sama Om-om itu, kita dijajanin, di kasih duit pula!" ucap Tisa yang malah membuat aku terkesan seperti Om-om.
"Lah kalau pacaran sama kalian? Dapat apa? Kalian aja masih sekolah, belum kerja. Palingan kalau pacaran sama kalian cuma diajak jalan doang, nggak dikasih makan!" lanjutnya.
"Ini semua gara-gara Om tahu nggak!" Anak yang memakai topi malah menyalahkanku. "Gara-gara kalian, para Om-om. Yang maunya cuma sama yang muda-muda. Kami jadinya tidak kebagian cewek! Masa kami harus sama Tante-tante?!"
Tisa tambah terkekeh mendengar curhatannya.
"Udah dibilangin gue bukan Om-om! Sekali lagi kalian manggil gue Om, gue gibeng kalian berdua!" ancamku dengan memingkis lengan kemeja yang membuat mereka berdua melajukan motornya meninggalkan kami.
"Ahaha!" tawa Tisa pecah ketika anak-anak tadi sudah ngibrit jauh. "Kok lama banget sih Om beli bensinnya?"
Aku mendelik ke arahnya karena ikut-ikutan memanggilku Om.
Tapi sejurus kemudian satu sudut bibirku terangkat keatas.
"Oh, kalau gitu berarti kamu pacaran dong sama aku?! Kan tadi kamu ngaku tuh kalau pacaran sama Om-om. Dan barusan kamu manggil aku Om. Berarti kamu nganggep aku pacar dong!"
Tawa Tisa langsung berhenti seketika. Kini giliran aku yang tersenyum lebar.
Aku mengaca pada spion motor. Melihat kumis yang tumbuh di bawah hidung.
__ADS_1
Sepertinya aku harus rajin-rajin cukur kumis. Biar nggak dikira Om-om terus!