KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
TAMAT


__ADS_3

Aku merasakan ada pergerakan dari tangan yang sedang aku genggam. Tangan itu bergerak dan terlepas dari genggamanku.


Segera aku membuka mata dan mendongak.


"Tisa! Kamu sudah sadar!" seruku begitu melihat mata yang sudah tiga terpejam kini sudah terbuka. Aku langsung memeluknya.


"Syukurlah Sa! Syukurlah!" Aku memeluknya erat.


Aku sampai lupa orang yang sedang aku peluk adalah orang sakit.


"Ah, maaf Sa!" Aku melepaskan pelukanku takutnya dia merasa sakit. Apalagi ada jahitan di perutnya.


"Aku terlalu bahagia karena kamu sudah siuman!" ucapku sambil mengusap air yang sempat keluar dari sudut mata.


"Aku--"


"Oh iya! Aku harus segera memanggil dokter!" seruku yang baru ingat kalau aku harus memanggil Dokter untuk memeriksa kondisi Tisa.


Aku langsung berlari ke arah pintu. Tapi belum juga keluar, aku kembali menatap Tisa. Kemudian aku berlari kearahnya lagi dan memeluknya lagi.


"Syukurlah Sa, kamu sudah bangun! Aku sangat bersyukur dan saangat bahagia! Setelah tiga hari lamanya, akhirnya kamu bangun juga! Jangan pernah meninggalkanku lagi!" bisikku.


Setelah itu aku gegas keluar dari ruangan itu untuk memanggil Dokter.


Saking senangnya Tisa sudah sadar, aku sampai lupa kalau ada tombol khusus untuk memanggil Dokter atau Suster di ruangan Tisa dirawat tadi.


Setelah Dokter dan Suster selesai memeriksa Tisa, aku gegas masuk ke ruang perawatan Tisa.


Aku kembali memeluk Tisa. Rasanya aku belum merasa puas memeluknya.


"Syukurlah Sa! Syukurlah! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku malam itu! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku! Akal sehatku bisa hilang!" ucapku sembari mengeratkan pelukan.


"Jika sampai ini terjadi lagi, bisa gila aku Sa! Pokoknya setelah ini, aku akan meminta Ayahmu untuk mempercepat pernikahan kita! Agar aku selalu ada di sisimu untuk menjagamu!"


Tak terdengar jawaban apapun dari Tisa. Aku melepaskan pelukan dan menatapnya.


"Ingat! Jangan pernah bertindak sok seperti pahlawan lagi! Aku tahu kau itu pemberani. Tapi, apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh kecilmu ini?! Kau harus memikirkan dirimu dulu, baru memikirkan orang lain! Kau pikir kau itu kucing yang mempunyai sembilan nyawa hah?!"


Tisa masih diam dan hanya menatapku.


"Kau harus lihat dirimu dulu sebelum maju! Pikirkan kau akan menang atau tidak melawan orang itu! Jika dirasa kau tidak akan menang melawannya, maka carilah bantuan! Bukan malah dengan konyol langsung maju!"

__ADS_1


Aku mengernyit saat Tisa tak memberikan respon apapun.


"Kamu siapa?"


Deg!


Nafasku tercekat mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Tisa.


"Sa, kamu jangan bercanda!"


Aku mengamati wajah Tisa yang datar-datar saja. Tapi sedetik kemudian aku langsung tersenyum lebar.


"Kau pikir aku bisa tertipu dengan akting buruk itu hah?! Ayo lah Sa! Yang terluka itu perutmu! Bukan kepalamu! Lalu bagaimana bisa kau amnesia!" seruku seraya tertawa.


Sontak, tawa Tisa langsung meledak.


"Aakh!" Tisa langsung berhenti tertawa dan memegangi perutnya.


"Tisa! Kau jangan terlalu banyak tertawa! Karena perutmu juga ikut bergerak saat tertawa!"


Ada jahitan di perutnya. Tentu saja akan sakit saat dia tertawa ngakak seperti barusan.


"Aktingmu buruk sekali!" Aku terus tertawa sembari memeluknya lagi.


"iya, iya! Aku tahu kalau aktingmu lebih bagus daripada aktingku!" sahut Tisa, dia balas memelukku.


"Ayahmu sedang perjalanan kemari. Setelah dia datang, aku akan langsung membicarakan tentang pernikahan kita!"


"Tapi Ndri, aku masih marah padamu! Kau tidak ingat, kau menipuku beberapa hari!"


"Tidak Sa! Kau tidak benar-benar marah padaku! Kau sendiri yang mengatakannya ketika aku menggendongmu!" sahutku tak ingin dia mengelak lagi.


Aku melepas pelukan dan menatap wajahnya lekat.


"Malam itu, kau bahkan juga mengatakan mencintaiku!" ucapku yang membuat rona wajah Tisa berubah merah.


Saat Tisa ingin memalingkan wajahnya, segera aku menahannya agar tetap menghadapku. Kutatap dua bola mata indah itu.


"Aku mencintaimu Sa!"


"Aku juga mencintaimu Ndri!"

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar jawaban Tisa. Tiba-tiba saja ada dorongan untuk lebih mendekat ke Tisa.


Tisa hanya memejamkan matanya saat aku mendekat. Jantungku rasanya memompa darah begitu cepat.


Sedikit lagi...


Wahai jantung, bertahanlah sedikit lagi...


"Andri! Stop!" teriakan itu membuatku langsung membuka mata dan menjauh dari Tisa.


"Apa yang mau kau lakukan pada putriku?!" teriak Ayah di ambang pintu. "Kalian belum menikah!" wajahnya terlihat datar.


"Kau boleh mencium putriku sepuasnya. Setelah kalian menikah besok!" imbuh Ayahnya Tisa yang berubah tersenyum.


"Apa?!" seruku dan Tisa berbarengan. Kami saling memandang satu sama lain.


"Ya. Ayah ingin besok kalian menikah!" jawab Ayah.


"Tapi Ayah, aku bahkan belum sembuh!" sahut Tisa.


"Tak apa! Kita akan melangsungkan pernikahannya di rumah sakit ini!" ucap Ayah mantab.


"Resepsinya akan menyusul setelah kau sembuh nanti!" imbuhnya lagi.


_________


Keesokan harinya, ijab kabul benar-benar dilakukan di rumah sakit.


Aku yang bahkan belum sempat latihan mengucapkan ijab qobul, ternyata lancar jaya saat mengucapkannya.


"Sah!" serentak semua mengucapkan.


Tisa mencium punggung tanganku. Kemudian aku mencium keningnya.


Setelah itu aku meraih buku pernikahan dan membukanya agar jadi lebar. Kuraih tengkuk Tisa dan mendekatkan wajahku padanya.


Hal yang tertunda gara-gara Ayahnya Tisa kemarin kulakukan saat ini. Dan buku nikah yang kubuka tadi kujadikan penghalang agar mata yang melihat tidak iri.


Sontak, semua saksi pernikahan mendadak ini langsung berteriak riuh.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2