KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Drama Suami Istri


__ADS_3

Tisa langsung memelototiku dan berusaha melepaskan tanganku.


"Sstt! Diam! Biar cepet selesai!" bisikku sambil mempererat tanganku.


"Wah, pantas. Meskipun USG pun belum kelihatan jenis kelaminnya," ujar pegawai itu.


"Jadi sebaiknya, perlengkapan apa yang perlu kita beli Mbak?" tanyaku.


"Gimana kalau kereta bayi Mas?" tawar pegawai toko.


"Ng--"


"Boleh Mbak!" Aku memotong ucapan Tisa. Aku yakin dia hendak menolak kereta bayi itu.


"Ndri, beli yang lain aja! Kereta bayi itu mahal!" bisik Tisa.


"Udah, nggak papa! Kita itu harus ngasih hadiah yang paling sering dipakai! Kereta bayi kan sering dipakai!" Aku balas berbisik sambil mengikuti pegawai toko yang membawa kami ke bagian kereta bayi.


Ada banyak macam model kereta bayi di sini. Aku bingung mau pilih yang mana.


"Yang paling bagus yang mana ya Mbak?" Aku menoleh ke pegawai toko.


"Kalau menurut saya, yang ini Mas!" pegawai toko itu memilihkan sebuah kereta bayi. "Tapi harganya--"


"Saya tidak masalah dengan harganya Mbak," potongku. "Saya hanya mau yang terbaik untuk anak saya yang belum lahir ini."


Tanganku terjulur ke perut Tisa dan dia sedikit mengelusnya. Aku gemes melihat ekspresi Tisa yang menepis tanganku.


_________


Bermacam-macam barang kami beli. Mulai dari kereta bayi, selimut bayi, bedak bayi, sabun mandi bayi, shampo bayi, dan banyak lagi barang yang intinya berkaitan dengan bayi.


Serasa beli perlengkapan untuk anak sendiri. Padahal calon Ibunya masih terperangkap di kutub.


"Kamu mau beli apa lagi?!" tanya Tisa ketika aku berjalan ke bagian kasur bayi.


"Beli paku!" selorohku. "Jelas-jelas ada tulisan kasur bayi. Ya pasti beli kasur bayi lah!"


"Aku juga tahu kalau ini tulisan kasur bayi!! Maksudku itu, ini udah banyak. Jangan beli yang lain lagi!" ucapnya sambil menunjuk barang yang aku pilih tadi.


"Yakin udah cukup nih?"


"Ya, cukup!" Tisa mengangguk mantap.


Aku pun menurut pada Tisa dan memilih antri di kasir untuk membayar.


Semua yang sedang antri adalah Ibu-ibu hamil yang ditemani suaminya.


Rata-rata dari mereka perutnya sudah besar.


Aku melirik Tisa yang juga antri bersamaku. Aku sedikit kerepotan membawa banyaknya barang yang hendak aku bayar.


Tadi Tisa sempat menawarkan diri untuk membantuku membawa sebagian barang. Tapi aku melarangnya.


'Ibu hamil nggak boleh bawa yang berat-berat!' itu yang aku ucapkan. Membuat Tisa mendelik kesal.


Tapi memang dasarnya es batu, dikasih kode sekeras apapun mana bisa peka.


Tiba-tiba seorang Ibu hamil di depan kami menoleh. Dia tersenyum pada Tisa.


"Sudah berapa bulan Mbak?" tanyanya.


"Apanya Mbak?" Tisa balik bertanya.

__ADS_1


"Baru satu Minggu Mbak," aku yang menjawab.


"Wah, hamil muda ya!" ucapnya dengan tersenyum.


Aku yakin dalam hati Tisa sedang ngedumel tentangku.


"Dari kelihatannya, kalian ini pengantin baru ya?" tanya Ibu hamil tadi.


"Iya Mbak, baru dua bulan," lagi-lagi aku yang menjawab.


Hahaha. Dua bulan? Kenal aja belum genap satu bulan!


"Wah, masih baru sekali ya kalau gitu. Dulu aku waktu hamil muda, aku ngidam jambu merah Mbak. Tapi suami saya malah marah!" ucapnya ke Tisa.


"Lho kok marah, kenapa?" tanya Tisa bingung.


Aku juga sedikit bingung. Bukankah ngidam itu hal yang biasa dialami Ibu hamil?


"Gimana aku nggak marah, dia nggak mau jambu dari toko. Tapi maunya jambu nyolong punya Pak RT!" sahut suami Ibu itu yang juga ikut mengantri.


Istrinya terkekeh mendengar suaminya yang menjawab. "Kalau Mbaknya suka ngidam apa?" tanyanya ke Tisa.


Aku menoleh ke Tisa menunggu jawabannya. Tapi ternyata Tisa juga menoleh kepadaku. Pastinya dia berharap aku yang menjawab. Aku hanya mengangkat bahuku sambil menatapnya.


Tisa melengos kesal.


"Saya ngidam ngunyah kepala dia Mbak!!" sungutnya kesal sambil menunjukku.


Hahaha. Aku tahu, pasti dalam hatinya dia sedang mengumpatku dan ingin mengunyah kepalaku yang mengeluarkan ide drama suami istri ini.


Tapi Ibu hamil tadi dan suaminya malah tertawa.


"Mbaknya ternyata agresif juga ya!" ujarnya di sela-sela tawa yang membuatku dan Tisa makin bingung.


Sambil tertawa, pandangannya mengarah ke selangk*nganku. Seketika aku mengerti kepala yang dia maksud.


Astaga! Dia salah paham dengan kepala yang Tisa maksud!!


Aku menoleh ke Tisa. Dia juga menatapku. Sepertinya dia juga tak menyangka suami istri ini akan salah paham dengan perkataannya.


Ah, rasanya aku juga pengen ikutan ngakak. Aku berusaha menahan tawaku agar tidak pecah.


Tisa memukul lenganku dengan kesal. Aku langsung menutupi wajahku. Tawaku pecah tanpa suara karena sudah tidak tahan lagi.


"Gimana rasanya dikunyah Mas?" tanya suami Ibu hamil itu sambil terkekeh geli.


Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi. Dengan berusaha menahan tawa, aku menjawabnya. "Rasanya geli Bang!"


Tisa makin melotot padaku.


"Sebenarnya saya nggak tahan karena geli. Tapi mau gimana lagi, demi anak!" lanjutku.


Ahahaha. Nggak tahu dah! Perutku keram karena terus berusaha menahan tawa.


Berbeda dengan suami istri itu yang bisa tertawa lepas. Mereka baru berhenti tertawa ketika giliran mereka membayar sudah tiba.


"Duluan ya Mbak," pamit mereka ketika sudah selesai membayar.


"Semoga lahirannya lancar ya," ucapku pada Ibu hamil itu.


Kini giliran kami yang membayar. Penjaga kasir tersenyum dengan ramah.


"Sudah berapa bulan Mbak?" lagi-lagi pertanyaan itu terlontar ke Tisa.

__ADS_1


"Bukan bulan Mbak. Tapi satu hari! Dan setiap pagi aku membuangnya ke WC!" sahut Tisa kesal yang membuatku hampir ngakak.


Kasir itu menatap Tisa bingung.


"Ahaha! Istri saya memang sering bercanda Mbak!" Aku berusaha memberi penjelasan. "Baru satu Minggu Mbak!"


"Wah, hamil muda ya."


"Iya, Mbak," sahutku lagi. Sementara Tisa hanya menatapku kesal.


"Semoga sehat selalu ya, sampai hari lahiran," ucap kasir itu dengan tersenyum.


"Iya, makasih ya Mbak," jawabku sambil cepat-cepat berlalu dari kasir sebelum Tisa benar-benar mengamuk.


Akhirnya kami keluar dari toko itu. Aku sedikit kerepotan membawa barang yang kami beli menuju parkiran.


"Sini, biar aku bantu bawa!" Tisa hendak meraih kereta bayi.


"Udah, jangan. Ibu hamil nggak boleh bawa yang berat-berat!" tolakku dengan masih melanjutkan drama suami istri.


"Aish! Kau ini! Gendong aku sekalian! Biar aku nggak perlu berjalan!!" sahut Tisa kesal.


"Wah, Mbaknya ternyata juga manja ya!"


Kami serempak menoleh mendengar suara itu. Ternyata Ibu hamil yang tadi.


"Suaminya sudah repot membawa barang, masa minta digendong," lanjutnya.


"Biasa, bawaan hamil!" sahutku kembali menggoda Tisa yang sudah tampak merah padam.


________


Di perjalanan menuju rumah Pipit, aku tak henti-hentinya tertawa.


"Berhenti tertawa!" seru Tisa.


"Ahaha!! Haduh, haduhh!!" Aku memukul-mukul stir mobil agar bisa berhenti tertawa. "Haduuuh, ahaha! Perutku," kupegangi perutku yang terasa kaku. "Perutku sakit karena terus tertawa! Ahaha!!"


Tisa berdecak kesal melihatku yang tidak bisa berhenti tertawa.


"Bisa-bisanya kamu bilang ngidam ngunyah kepalaku! Ahaha! Ternyata kamu mesum juga ya!"


"Aish! Andri!!" Tisa memukul lenganku.


"Mbak yang tadi itu salah paham tahu! Maksudku bukan kepala yang itu! Tapi kepala yang ini!!" Tisa menunjuk kepalanya sendiri.


"Lagian ini salah kamu tahu! Gara-gara kamu pakek acara drama suami istri segala, jadinya gini!" ucapnya dengan kesal.


"Ya kalau nggak gitu, nanti kita nggak dibantuin sama pegawai tokonya!" kilahku.


Kalau nggak gitu, aku nggak bisa modus sama kamu!


"Nggak usah pura-pura hamil juga, pegawai tokonya pasti tetap mau bantuin kok! Mereka itu jualan, sudah tugasnya bantuin pelanggan!!"


"Tap--"


"Aish! Udahlah!" potongnya. "Lagian udah lewat juga!" Tisa membuang muka ke luar kaca mobil.


Beberapa saat Tisa terdiam. Tawaku sudah mulai bisa aku kontrol.


"Ndri, kok kayaknya mobil kita diikutin deh!" ucap Tisa tiba-tiba.


"Hah?! Masa sih?!" Aku menengok dari kaca spion di atasku. Untuk memastikan lebih jelas lagi, aku menoleh ke belakang.

__ADS_1


Ternyata benar. Ada mobil yang mengikutiku. Aku hafal betul itu mobil siapa. Segera aku tancap gas.


__ADS_2