
"Uhuk uhuk. Aku ngambil air sendiri aja!" Tisa malah tak memilih air dari kami.
Tapi ketika Tisa menuang air ke gelas, tekonya malah kosong. Untungnya aku belum menurunkan gelas, aku tetap setia menyodorkan pada Tisa. Dan ternyata Pak Yosua pun sama.
"Aduh, maaf Tisa. Airnya habis. Tunggu sebentar ya, Tante ambilin di dapur!" Tante Ima bangkit dari duduknya.
"Uhuk uhuk, iya Tante. Uhuk uhuk!"
"Udah, cepetan minum ini. Ketimbang batuk-batuk gitu!" segera kuraih dagunya dan menempelkan gelasku di bibirnya.
"Mm!" Tisa mendelik ke aku.
Ahay. Dan aku lah pemenangnya. Tisa minum air dari gelasku.
Tapi Tisa segera melepas tanganku dari dagunya yang sedang membantunya minum.
Satu sudut bibirku terangkat ketika melihat Pak Yosua menurunkan gelas yang tadi disodorkan ke Tisa.
"Wah, tuh mata sipit kalah cepat!" gumam Yosi mengejek Kakaknya. "Makanya, lebarin tuh mata! Biar bisa sat-set sat-set!"
"Emang yang bicara itu udah ngerasa matanya belo ya! Perasaan sama-sama sipit deh! Orang satu keturunan kok!" sahut Pak Yosua ketus.
"Dih! Kok ngegas lho.. Aku kan aku cuma bercanda," timpal Yosi.
Tisa minum hingga air di gelasku tersisa separuh.
Aku yang merasa nasi yang kutelan nyangkut di tenggorokan, segera meminum air yang tadi di minum Tisa.
"Kamu mau ngapain?!" Tisa menahan gelas saat aku ingin menyeruput air di dalamnya.
"Ya aku mau minum lah!" Aku kembali mengangkat gelas itu lagi.
"Jangan!" Tisa menahan gelas itu lagi.
"Lah! Kenapa? Orang mau minum kok dilarang. Lagian kan ini aku tadi yang nuang airnya!" Aku kembali mengangkat gelasku. Tapi lagi-lagi Tisa tetap menahannya.
"Jangan! Ini kan bekas aku minum!"
"Memangnya kenapa kalau gelasnya bekas kamu?! Nggak bakalan mati kok meskipun aku minum bekas kamu! Kecuali kalau kamu itu ular cobra yang banyak bisanya!" Aku mengangkat gelas yang sedang dipegang erat oleh Tisa.
"Jangan Ndri!" Tisa mempererat gelas di tangannya.
"Lepasin nggak gelasnya! Aku mau minum nih!"
"Nggak!"
Byuur!
Baju Tisa malah ketumpahan airnya gara-gara Tisa terlalu kuat menarik gelasnya.
__ADS_1
"Aduh! Maaf Tisa!"
"Hmhg!!" Tisa melirikku kesal.
"Yaah..baju kamu jadi basah deh! Lagian kamu juga sih! Orang mau minum malah dilarang. Coba kalau kamu tadi lepasin gelasnya, pasti nggak bakalan jadi gini kan!"
Tisa langsung melempariku dengan tatapan tajamnya.
"Ahaha. Oke-oke, aku nggak ngomong lagi!" ujarku yang mendapat tatapan maut itu.
"Maaf ya, Tante lama ngambil airnya." Tante Ima kembali dari dapur dengan teko berisi air di tangannya.
Aku rasa dia sengaja deh ngambil air di Palung Mariana. Lama ngambil airnya. Supaya Tisa bisa minum dari air yang disodorin Pak Yosua.
Atau jangan-jangan sejak awal dia memang sengaja mengosongkan teko air?
"Lho, baju kamu kenapa basah gitu Tis?!" tanya Tante Ima ketika melihat baju atas Tisa yang basah.
"Ketumpahan air Tante."
"Aduh, nanti kamu bisa masuk angin. Kamu ganti baju punya Yosi ya, biar nggak masuk angin!" tawar Tante Ima.
"Tapi Ma, bajuku kan ada di kos-kosan semua!" timpal Yosi.
"Oh, iya-ya. Mama lupa!" tatapan Tante Ima beralih ke putranya. "Yosua, kamu ada baju nggak yang muat sama Tisa?" tanyanya ke Pak Yosua.
"Tisa, kamu ikut Yosua aja. Biar dia bisa milihin baju yang pas buat kamu!" ucap Tante Ima.
Tante Ima selalu aja dua langkah di depanku. Dia selalu punya rencana untuk membuat anaknya dekat dengan Tisa.
Tapi maaf Tante, kali ini aku akan pakai egrang untuk menyalip Tante.
Mataku mengekori kepergian mereka.
Tak berapa lama, Pak Yosua kembali ke meja makan tanpa Tisa. Sepertinya Tisa sedang ganti baju.
"Wah, karena sweaternya sedikit kebesaran jadinya Kak Tisa keliatan imut ya!" ucap Yosi. Membuat kami serempak menoleh ke Tisa.
Telihat Tisa berjalan mendekat ke meja makan dengan sweater hitam inisial huruf Y yang nampak kebesaran. Tapi itu justru membuat Tisa keliatan imut
"Uda ah, jangan pada liatin aku! Malu tahu!" seru Tisa saat tahu semua mata tertuju padanya.
Pandanganku tak lepas dari dari Tisa sampai dia duduk di sampingku.
"Tante lihat-lihat, kayaknya Andri seumuran dengan Yosua ya? Kalau boleh tahu, umur kamu berapa?" pertanyaan Tante Ima membuatku berpaling dari Tisa.
"Saya umur 23 Tante," jawabku.
"Wah, bener. Sama kayak Yosua. Udah punya pacar belum? Atau bahkan udah punya calon?"
__ADS_1
"Kalau kandidatnya sih ada Tante. Tapi sayangnya orangnya menolak untuk mencalonkan diri," sahutku sambil menyenggolkan kakiku ke kaki Tisa.
Tisa melirikku. Dia balas menendang kakiku.
"Kalau Yosua mah, boro-boro ada kandidat. Orang dianya aja nggak pernah ada usaha buat nyari. Cewek yang pernah dia ajak ke rumah itu ya cuma Tisa aja!" ujar Tante Ima sambil melirik anaknya.
Apa maksudnya dengan menyebut Tisa?! Nggak boleh. Tisa itu kandidatku Tante!
"Kalau Tisa gimana? Punya pacar? Atau jangan-jangan malah udah punya calon lagi?!" Tante Ima beralih menanyai Tisa.
"EHEM!" Aku berdehem.
"Ahaha. Nggak ada dua-duanya Tante."
"Wah, kalau gitu berarti si kunyuknya Tante ini nggak terlambat ya?!"
Apa? Kunyuk? Maksudnya Pak Yosua?!
Nggak nggak nggak! Anakmu itu udah ditolak sama Tisa Tante!!
"Ck. Mama nih apa-apaan sih?! Nggak usah gitu lah, bikin malu aja!" ucap Pak Yosua.
"Memangnya kenapa? Toh Tisanya nggak ada yang punya kok!" timpal Tante Ima.
"EHEM!" Aku kembali berdehem keras.
Kode kalau aku lah pawangnya Tisa. Matahari yang akan mencairkan es ini.
"Keselek sendok Pak?" seloroh Tisa "Atau jangan-jangan keselek piring lagi!"
Kuabaikan selorohan Tisa.
"Tante," Aku memanggil Mamanya Pak Yosua.
"Ya?"
"Tante pingin tahu pawangnya Tisa siapa?"
"Wah, udah kayak hujan aja pakek pawang segala!" timpal Yosi dengan mulut penuh nasi.
"Siapa? Orang mana? Kerja satu kantor juga kah?" tanya Tante Ima penasaran.
Aku terkekeh kecil sebelum menjawabnya.
"Pawangnya sekarang ada di depan kalian juga!"
"Apa?!!" Tante Ima terkejut mendengar ucapanku.
Karena aku lah pawangnya!
__ADS_1